Belajar dari Hijrah

Oleh: Adhyatnika Geusan Ulun

Saat Baginda Rasul Muhammad SAW meletakan dasar ukhuwah insaniyah, persatuan umat, di Madinah Munawarah, maka dari sanalah terbangun pondasi kebersamaan dan keutuhan yang menciptakan generasi unggul yang berkarakter.

Sangat menarik ketika mengkaji sejarah hijrah kaum muslimin ke Madinah. Mereka meninggalkan segala asesoris dunia yang telah diraih di Mekah, menuju satu tempat yang belum diprediksi akan mendapatkan kedudukan, pangkat, dan jabatan seperti yang telah diraih sebelumnya. Ketundukan umat terhadap perintah Tuhan menepis keraguan ini.

Hal di atas menjadi pembelajaran pertama bahwa ketaatan kepada satu aturan menjadi energi yang luar biasa dalam perjuangan hidup. Seberat apapun pengorbanan diyakini akan berbuah kebahagiaan dikemudian hari.

Berikutnya, kisah hijrah dengan mengarungi lautan gurun yang panas menyengat di siang hari dan membekukan darah di malam hari, tidak menyurutkan para penegak kebenaran. Hal ini menjadi pembelajaran berikutnya di saat lika-liku jalan perjuangan yang penuh onak duri menjadi spirit agung dalam meraih suatu cita-cita mulia. Bahwa setiap perjuangan selalu menuntut pengorbanan.

Begitupun dengan pengorbanan kaum Anshor yang luar biasa saat menyambut kafilah muhajirin di Madinah. Mereka menyongsong saudara seimannya dengan penuh suka cita. Diberikannya harapan kehidupan yang layak. Dipersembahkannya segala yang terbaik demi meraih kemuliaan hidup semuanya.

Semuanya menjadi pembelajaran berharga kepada umat, bahwa hubungan kemanusiaan janganlah terputus dikarenakan perbedaan suku bangsa, warna kulit, kedudukan dan atribut keduniawian. Sehingga tampaklah satu tatanan kehidupan yang penuh dengan persaudaraan dalam bingkai persatuan dan kesatuan insan Tuhan.

Perjuangan Hijrah

Menelusuri sejarah hijrah Nabi dari Mekah ke Madinah. Jarak sejauh lebih dari 400 km yang ditempuh penulis dan peziarah dengan kendaraan ber-AC dan jalan yang terbentang mulus, sangat berbanding terbalik dengan kejadian 14 abad silam.

Ditemani sahabat utama, sayid Abu Bakar, menempuh lautan pasir yang panasnya dapat mematangkan butiran telur, dan dinginnya malam yang dapat membekukan air. Tidak jarang kaki mulia Nabi harus melewati tajam dan terjalnya cadas bukit-bukit di sepanjang perjalanan agung ini.

Sebentar beristirahat di alam terbuka, dan tidak sedikit harus bermalam di tengah samudera pasir dengan kondisi alam yang gulita. Siang dan malam ditempuh dengan tekad dan keyakinan kuat, bahwa Allah akan memberikan kemuliaan bagi umat Islam setibanya di negeri yang Dia janjikan, Yatsrib.

Jika para tamu Allah saat ini dapat menjangkau jarak di atas sekira empat hingga lima jam perjalanan, maka perjalanan suci Nabi memakan waktu 40 hari untuk tiba di tujuan. Suatu perjuangan yang berat dalam menegakkan kalimat Tuhan di muka bumi. Hal ini memberikan pelajaran sperti yang sudah diungkapkan di awal tulisan bahwa  tidak ada satu pun perjuangan tanpa diiringi dengan pengorbanan. Itulah keteladanan Nabi yang seharusnya dicontoh.

Hal di atas pun menyiratkan  bahwa perjuangan bukanlah sesuatu yang ‘instan’, yang hanya mengandalkan ‘mukjizat’ dan keajaiban Tuhan. Proses adalah sesuatu yang harus ditempuh oleh siapapun dalam meraih tujuan. Samudera pasir, tajamnya batu diperjalanan, tidak menyurutkan tekad dan semangat perjuangan.

Penulis diingatkan akan para tokoh penghias sejarah yang menjadikan hijrah sebagai suatu strategi perjuangannya. Begitulah yang dilakukan Nelson Mandela, Benazir Bhuto, Imam Khomeini, Fidel castro, hingga Bung Karno. Tokoh-tokoh dunia tersebut menjadikan ‘hijrah’ sebagai upaya merubah nasib bangsanya menjadi jauh lebih baik.

Diingatkan pula tentang strategi hijrahnya pasukan Siliwangi saat perang kemerdekaan. Maka, jika hijrah dimaknai sebagai strategi perjuangan, tentu spiritnya adalah semangat untuk memperbaiki diri dan bangsa yang dipimpinnya. Itulah yang dilakukan Nabi dalam merubah dunia menjadi jauh lebih baik dan beradab.

Refleksi Hijrah

Dalam konteks kekinian, hijrah menjadi bahan refleksi diri. Menciptakan generasi unggulan tidak seperti mudahnya membalikan tangan. Butuh perjuangan ekstra yang menguras pikiran dan tenaga. Diperlukan pula semangat perbaikan diri setiap saat. Perjuangan memang tidak selalu bertabur bunga dan berhamparkan karpet merah. Perjuangan bahkan selalu menemui tajamnya onak dan duri. Keikhlasan dan kesabaran adalah pengorbanannya.

Menarik juga untuk dikaji manakala Nabi tiba di Yatsrib yang kelak menjadi Madinah. Kegiatan pertama Baginda tidak mencari rumah untuk tempat tinggal diri dan keluarga. Tidak pula meminta fasilitas kelayakan hidup sebagai seorang pemimpin umat. Tetapi yang beliau lakukan adalah mendirikan masjid. Diyakininya bahwa masjid adalah pusat kegiatan yang dapat menjadi sentra perubahan dan perbaikan umat. Dari masjid itulah Islam memancarkan charisma kewibawaan sebagai agama ramatan lil ‘alamin.

Hal tersebut hendaknya menjadi renungan. Sebesar apapun keinginan untuk meraih dunia tidaklah harus mengalahkan kebutuhan akhirat, dan masjid adalah salah satunya. Segala riak perjuangan Islam bermula dari tempat ini. Dimulai dari merubah Yatsrib menjadi Madinah, hingga ditulisnya mitsaq al-madinah (Piagam Madinah), suatu konstitusi modern pertama di dunia yang menjadikan rujukan pola kerukunan umat.

Piagam tersebut menjadi titik temu komunitas madinah yang majemuk menjadi prototype negeri yang rukun, damai, toleran dan beradab. Satu revolusi dakwah yang dilakukan Nabi yang menekan pada perbaikan umat dalam urusan ibadah dan muamalah, spiritual dan sosial. Nabi tidak membangun negara berdasarkan fanatisme kelompok atau suku. Rasulullah menginisasi terciptanya kesepakatan bersama kepada seluruh penduduk Yatsrib dalam menjamin kebasan beragama, keamanan, penegakan hukum, dan hak-hak individu.

Sesungguhnya hal tersebut patut diteladani hingga sekarang. Dan Inilah makna hijrah yang sebenarnya. Tidak hanya bermakna secara harfiah, migrasi atau pindah tempat, melainkan juga pindah orentasi, berubah pola pikir, yakni berpindah dari keadaan buruk menjadi baik, dari kondisi baik menjadi jauh lebih baik. Itulah perubahan. Dan baginda Rasul memberikan contoh keteladanan bahwa semua perubahan tersebut tak hanya untuk dirinya sendiri, tapi juga untuk umat secara kolektif.

Selanjutnya adalah saat Muharam dipilih sebagai awal tahun kalender Islam. Bulan ini ditetapkan setelah melalui musyawarah para sahabat sepeninggal Rasulullah dan khalifah Abu Bakar. Disebutkan dalam Manaqib al Anshar, bahwa para sahabat tidak menghitung dan menjadikan awal penanggalan dari masa diutusnya Nabi Muhammad saw, dan tidak pula dari waktu wafatnya beliau. Suatu usulan yang rasional, mengingat bahwa Rasulullah adalah manusia luar biasa yang melakukan revolusi ke arah peradaban yang lebih baik.

Akhirnya setelah berbagai usulan, Khalifah Umar berdasarkan persetujuan para sahabat, menghitungnya mulai dari masa sampainya Nabi di Madinah, hijrah. Kalifah berkata: Hijrah itu memisahkan antara yang hak (kebenaran) dan yang batil. Oleh karena itu jadikanlah hijrah itu untuk menandai kalender awal tahun Hijriah.

Simpulan

Sesungguhnya, peristiwa hijriah mengandung nilai-nilai yang sangat relevan sepanjang zaman. Momen ini mengandung tekad yang bulat, semangat untuk berjuang, dan kegigihan kuat dalam beramal menuju tujuan yang jelas, yakni, terwujudnya baldatun toyyibatun warrabun ghafur. Negeri adil makmur yang senantiasa penuh rahmat dan ampunan Allah swt.

Akhirnya, spirit hijrah yang dicontohkan Rasulullah harus dimaknai dalam kerangka perjuangannya merealisasikan nilai-nilai kemanusiaan universal yang berlandaskan asas ketuhanan. Selain itu sikap yang dibangun adalah semangat kemandirian, nilai-nilai kemanusiaan, integritas dan keyakinan akan nilai-nilai persatuan dan kesatuan yang akan membawa kemuliaan hidup.

Hal di atas pun mengandung semangat ikhtiar, pengorbanan, kebulatan tekad, keteguhan niat, kesabaran, dan keikhlasan.

Baginda menyatakan: Sesungguhnya setiap perbuatan tergantung niatnya. Dan sesungguhnya setiap orang (akan dibalas) berdasarkan apa yang dia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena (ingin mendapatkan keridhaan) Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada (keridhaan) Allah dan Rasul-Nya. Dan siapa yang hijrahnya karena menginginkan kehidupan yang layak di dunia atau karena wanita yang ingin dinikahinya maka hijrahnya (akan bernilai sebagaimana) yang dia niatkan. 

Semoga tahun baru Islam ini  membawa keberkahan bagi semuanya,  Aamiin.***

Dari berbagai sumber

(Tulisan ini telah diterbitkan di media yang sma dengan sejumlah koreksi) 

Biodata Penulis:
Profil Penulis:

Adhyatnika Geusan Ulun, lahir 6 Agustus 1971 di Bandung. Tinggal di Kota Cimahi. Guru Bahasa Inggris di SMPN 1 Cipongkor Bandung Barat sejak 1999. Pengurus  MGMP Bahasa Inggris Kab. Bandung Barat. Alumnus West Java Teacher Program di Adelaide South Australia, 2013. Alumnus MQ ‘Nyantren di Madinah dan Makkah’ 2016, Pengasuh Majelis Taklim dan Dakwah Qolbun Salim Cimahi, Penulis buku anak, remaja dan dakwah. Editor NEWSROOM, tim peliput berita Dinas Pendidikan Bandung Barat. Jurnalis GUNEMAN Majalah Pendidikan Prov. Jawa Barat. Pengisi acara KULTUM Studio East Radio 88.1 FM Bandung. Redaktur Buletin Dakwah Qolbun Salim Cimahi. Kontributor berbagai Media Masa Dakwah. Sering menjadi juri di even-even keagamaan.

email: œAdhyatnika.gu@gmail.com., Ig.@adhyatnika geusan ulun.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *