MEMULAI ‘SATU HATI’ DI SEPTEMBER

Hanifah Munfarijah, S.Pd.Gr

(Guru Matematika SMPN 1 Cipongkor)

Tak terasa tahun ajaran kali ini sudah menginjak bulan September 2021, pembelajaran jarak jauh masih mewarnai hari-hari kami para guru dan peserta didik. Lorong-lorong sekolah  masih sepi dari canda tawa dan hingar bingar teriakan anak-anak yang dengan riangnya  saling berkejaran  di waktu istirahat. Ah..rindu rasanya dengan suasana itu, suasana saat sekolah dihiasi pembelajaran tatap muka dan berbagai macam kegiatan ekstrakulikuler untuk mengasah bakat siswa. Tapi, apa hendak dikata pandemi ini masih belum berakhir. Entahlah…entah sampai kapan kondisi seperti ini akan terus berlangsung. Sungguh kami rindu suasana yang tenang  dimana kaki melangkah dengan pasti tanpa rasa was-was akan adanya virus Covid-19. Segeralah pulih wahai negeri ku .

Sekolah merupakan salah satu lembaga yang terdampak cukup signifikan  akibat pandemi virus Covid-19 ini. Suasana sekolah menjadi hambar,  sepi tanpa kata, hanya suara tiupan angin yang menggoyangkan pepohonan dan membiarkan daun jatuh berserakan di halaman sekolah. Dari kejauhan tampak beberapa anak memakai masker berjalan beriringan menuju gerbang sekolah. Mereka adalah siswa yang dengan ikhlas menyusuri jalan untuk tetap datang ke sekolah demi ilmu yang sulit mereka raih karena keterbatasan gawai atau kuota.

Memang pada masa pandemi ini gawai dan kuota cukup berpengaruh besar untuk keberlangsungan pembelajaran jarak jauh (PJJ). Sayangnya tidak semua lapisan masyarakat memiliki gawai yang dapat digunakan untuk PJJ, kalaupun memiliki gawai  masalah selanjutnya adalah paket data internet atau kuota  yang tidak selalu dapat mereka isi untuk mendukung proses pembelajaran jarak jauh.

Seorang siswa tampak sudah sampai di gerbang sekolah dan disambut oleh penjaga sekolah dengan alat pengecekan suhu badan, setelah dirasa aman dan dipersilahkan oleh penjaga, siswa tersebut melangkah menuju tempat cuci tangan yang telah disediakan, kemudian barulah  menuju ruang tempat guru memberikan materi pelajarannya. Tidak ada sentuhan tangan ataupun tautan jemari sekedar untuk bersalaman, hanya komunikasi singkat pemberian materi esensial agar siswa dapat segera memahami bagian intinya saja. Situasi yang sungguh tidak nyaman. Segeralah pulih wahai negeri ku.

Kabar gembira pun datang penurunan kasus penularan Covid-19 dan kesembuhan pasien COVID-19 terus meningkat hampir di seluruh Kabupaten/kota di Indonesia. Hal ini mendorong  pemerintah mengijinkan pelaksanaan pembelajaran tatap muka terbatas (PTMT) di sekolah. Kabar ini tentunya disambut dengan suka cita oleh sekolah dan orang tua/wali siswa, kejenuhan belajar di rumah akan terobati dengan kegiatan pembelajaran tatap muka walaupun terbatas, setidaknya bisa memberikan angin segar untuk semangat yang mulai memudar.

Awal september yang luar biasa, selain kabar tentang PTMT yang segera akan dilaksanakan, juga kabar akan dilaksanakannya kembali kegiatan  TMBB (Tantangan Membaca Bandung Barat) tahun 2021 oleh Gerakan Literasi Sekolah (GLS) menulis dan berkarya (Mekar) Kabupaten Bandung Barat yang bertujuan meningkatkan minat baca untuk menumbuhkan dan membangun budaya literasi di sekolah, adapun peserta TMBB terbuka untuk semua SMP Negeri dan Swasta yang ada di Kabupaten Bandung Barat dengan melibatkan semua unsur  (kepala sekolah, guru dan siswa) dengan jumlah sesuai ketentuan.

Tahun ini merupakan tahun ke-4 pelaksanaan TMBB tetapi tentunya ini merupakan tahun pertama bagi sekolah kami SMPN 1 Cipongkor dalam mengikuti TMBB. Walaupun begitu, gerak cepat dilakukan oleh Bapak kepala sekolah kami yaitu Bapak Agus Solihin dengan membentuk tim gerakan literasi sekolah untuk ikut berpartisipasi dalam kegiatan TMBB tersebut.

Tanggal 2 september 2021 menjadi langkah awal dari GLS SMPN 1 Cipongkor untuk menentukan langkah selanjutnya dalam TMBB, rapat pertama dimulai untuk membahas persiapan dan apa yang akan dilakukan demi menjawab tantangan. Tentunya ini merupakan hal yang sangat menarik karena tema TMBB tahun ini adalah “Gerakan Literasi Sekolah (GLS) wujudkan literasi digital untuk Bandung Barat” yang sangat cocok dengan kondisi sekarang  yang serba digital.

Dalam TMBB Kali ini ada tiga kategori sekolah tantangan yaitu kategori A untuk sekolah didikatif literasi, kategori B untuk sekolah inspiratif literasi dan kategori C Untuk sekolah inovatif literasi. Dalam rapat tersebut sekolah kami memutuskan untuk memilih sekolah tantangan dengan kategori B. Selain itu pemilihan siswa untuk peserta TMBB pun tak luput dari pembahasan, kami pun memilih siswa dari kelas 7, 8 dan 9 yang memiliki prestasi yang baik terutama dalam hal menulis dan membaca.

Selain hal diatas, tentunya sebuah nama akan menjadi identitas yang akan dikenal oleh orang lain, sebuah nama yang akan disebutkan dan diingat sebagai ciri dari karakter dan harapan yang ingin dicapai. Begitupun dengan sekolah kami memiliki harapan tinggi dengan mengekpresikannya pada sebuah nama “GLS SATU HATI”  yang bermakna ” Satu Cipongkor Hidupkan Literasi”. SATU HATI untuk meraih mimpi dan  SATU HATI untuk mengukir prestasi. Memulai SATU HATI di September semoga terus tak terputus walaupun literasi tak lagi menjadi tantangan.

Pada pekan berikutnya sekolah kami pun mengadakan launching dan redaton sebagai bentuk dari sosialisasi kegiatan GLS sekaligus peresmian nama GLS SATU HATI yang dihadiri oleh Bapak Kepala Sekolah sebagai penanggung jawab, Wakasek Kurikulum sekaligus motivator dan pembimbing tim GLS SATU HATI, yaitu Bapak Adhyatnika Geusan Ulun, guru-guru pembingbing dan siswa/i peserta TMBB. Pada kegiatan tersebut salah seorang siswa  sebagai perwakilan menyampaikan secara lisan reviu dari buku yang telah dibaca. Untuk menambah pengetahuan siswa peserta TMBB, para guru pembingbing juga membahas jenis-jenis reviu yang bisa digunakan, seperti fishbone, AIH, Y-Chart, dan info grafis.

Target perbulan untuk siswa peserta TMBB salahsatunya adalah mampu membaca buku fiksi atau non fiksi tiga buah/bulan. Berdasarkan hal tersebut  kami menentukan capaian untuk satu pekan satu buku dan satu reviu/siswa, sedangkan untuk karya tulis baik puisi maupun cerpen siswa dapat membuat dan mengumpulkannya kapanpun dalam satu bulan itu. Sungguh di luar dugaan, siswa peserta TMBB ternyata mampu melampaui target. Sebagian dari mereka mampu membuat karya tulis terutama puisi lebih dari satu dalam satu bulan, hasil reviu pun mereka hias dengan sangat indah. Mereka, para siswa yang luar biasa, walaupun pemula, karya yang tercipta memang tak seindah yang lainnya tapi setidaknya mereka masih tetap berusaha untuk berkarya.

Adapun reviu buku  peserta TMBB  GLS SATU HATI kami abadikan dengan foto dan video, yang kemudian diuunggah di media sosial saperti facebook, yuotube, G-Sites dan Instagram. Sedangkan untuk hasil karya kami tulis di google site GLS SATU HATI bahkan adapula beberapa puisi karya siswa yang dimuat di Newsroom. Hal tersebut tentunya sangat membanggakan bagi kami tim GLS SATU HATI sebagai pemula yang tentunya masih banyak kekurangan, tetapi kami akan terus berusaha dan mencoba memberikan yang terbaik dengan setulus hati untuk SATU HATI.

Salam SATU HATI.

 

Hanifah Munfarijah, S.Pd.,Gr, Guru Matematika SMP Negeri 1 Cipongkor, Tim GLS SATU HATI