MENGAJAR SAMBIL SIARAN RADIO

Oleh: BUDI RUHIAT, M.Pd

(Guru PPKn SMPN 1 Ngamprah)

Untuk situasi darurat masa Covid-19 sekarang ini inovasi dan strategi yang tepat sangat diperlukan untuk menyiasati terlaksananya pembelajaran jarak jauh. Karena proses pembelajaran harus tetap dilaksanakan, siswa harus tetap mendapat pelayanan pendidikan sebagai mana mestinya walaupun tidak dilaksanakan secara tatap muka di kelas

Latar Belakang

Pandemi Covid–19 memaksa semua sekolah menutup kegiatan tatap muka, bukan hanya di tanah air, tapi hampir di seluruh dunia. Hal ini dilakukan sebagai bentuk upaya untuk menekan penyebaran wabah virus corona. Di satu sisi, siswa harus tetap mendapatkan layanan pendidikan yang seharusnya.

Diperlukan strategi yang tepat sangat menentukan dalam pengambilan keputusan pada berbagai situasi yang dihadapi. Termasuk dengan sejumlah inovasi yang tepat sehingga kegiatan belajar mengajar di sekolah dapat berlangsung secara efektif dan efesien.

Seperti diketahui, Pemerintah mengeluarkan berbagai regulasi untuk menyiasati keterlaksanaan proses belajar mengajar dengan Belajar dari Rumah (BdR). Hal ini dengan dikeluarkannya Surat Edaran No. 4 Tahun 2020 tentang pelaksanaan kebijakan pendidikan di masa penyebaran darurat–Covid-19/ dalam poin 2 bagian a di jelaskan bahwa belajar dari rumah melalui daring/pembelajaran jarak jauh dilaksanakan untuk memberikan pengalaman belajar yang bermakna bagi Peserta Didik tanpa terbebani tuntutan menuntaskan seluruh capaian kurikulum.

Sementara itu, penulis yang mengampu mata pelajaran PPKn, berupaya mengimplementasikan pembelajaran bermakna dengan memanfaatkan sejumlah potensi yang dimiliki. Baik itu, sekolah, guru, terlebih siswa. salah satunya adalah dengan melaksanakan pembelajaran jarak jauh melalui siaran radio sekolah.

Langkah Penyelesaian

Sekolah melakukan survei untuk mengetahui prosentase kepemilikan handphone di setiap kelas. Dengan demikian akan memudahkan sekolah dalam melakukan pembelajaran jarak jauh.

Dari survei, diperoleh bahwa kepemilikan handphone siswa berkisar 71%. Sehingga, jika tetap dilaksanakan BdR, maka sekitar 29% sampai dengan 35% tidak dapat mengikuti pembelajaran jarak jauh yang dilaksanakan sekolah.  Hal ini tentu menjadi bahan pertimbangan sekolah.

Berdasarkan regulasi yang dikeluarkan pemerintah dan pedoman pelaksanaan BdR, sekolah merespon dengan memberdayakan potensi yang dimiliki, yaitu menggunakan radio pemancar sebagai sarana untuk melaksanakan pembelajaran jarak jauh. Hal ini dilakukan karena sebelumnya sekolah sudah memiliki pemancar radio, namun karena terjadi berbagai kendala, radio tidak dapat diaktifkan secara maksimal.

Dengan pandemi Covid-19 ini, sekolah kembali mengoperasikan radio pemancar walaupun fungsinya sedikit berbeda. Jika sebelumnya radio pemancar digunakan untuk menggali potensi siswa dalam bidang broadcaster/ekstrakurikuler broadcase, sekarang penggunaan radio lebih berorientasi untuk melaksanakan pembelajaran jarak jauh.

Hal ini pun dengan beberapa pertimbangan diantaranya sekolah berada pada letak geografis cenderung dataran, bukan berupa perbukitan. Selain itu, umumnya siswa sebagian besar bertempat tinggal tidak jauh dari sekolah, akibat penerapan sistem zonasi di PPDB.

Selain itu, tingkat perekonomian sebagian besar siswa relatif masih rendah, kedua kondisi geografis sebagian besar dapat terjangkau oleh pemancar radio, ketiga tingkat kepemilikan handphone di bawah angka 70%.. Keempat sekolah memiliki perangkat untuk melaksanakan Jauh dengan menggunakan radio pemancar kelima direkomendasikan oleh kementerian untuk menggunakan radio sebagai media pembelajaran jarak jauh

Sebenarnya, selain radio sebagai induk proses pembelajaran jarak jauh, sekolah juga menggunakan berbagai aplikasi online lainnya, seperti google form, Quizziz, google classroom, dan kombinasi daring-luring.

Berdasarkan pertimbangan efektivitas dan ekonomis di atas, penulis sebagai guru Mata Pelajaran PPKn mengambil sikap untuk menggunakan radio sebagai sarana pembelajaran jarak jauh di SMPN 1 Ngamprah.

Hasil

Setelah dilaksanakan pengaturan siaran dengan durasi waktu 45 menit untuk satu mata pelajaran per-tingkat, maka  diperoleh hasil yang menggembirakan. Antusias siswa terlihat saat menyimak siaran ditandai dengan tersampaikannya instruksi guru kepada mereka saat menyerahkan tugas yang diberikan.

Setelah berjalan satu bulan, sejumlah langkah evaluasi dilaksanakan. Tentu masih terlihat kekurangannya. Namun, secara umum pembelajaran jarak jauh melalui radio berjalan sesuai dengan harapan. Yang lebih penting adalah kegiatan belajar mengajar dapat berlangsung.

Beberapa sekolah mengunjungi program ini, yakni SMPN 1 Cisarua, SMPN 5 Padalarang. Bahkan IKIP Siliwangi dan beberapa tamu sengaja datang untuk mengetahui bagaimana pelaksanaan pembelajaran jarak jauh ini dilaksanakan.

Tentu program ini bukan tanpa hambatan. Diantara yang terjadi adalah sulitnya memantau perkembangan kemampuan baik pengetahuan maupun keterampilan atau sikap siswa. Kemudian,  sulit untuk memastikan apakah mereka mengikuti siaran radio dengan baik atau tidak.

Selain itu, ketika harus melakukan absen secara online, dengan berbagai keterbatasan yang dialami siswa, guru PPKn, khususnya, tidak bisa memastikan keterlibatan peserta didik dalam mengikuti siaran radio. Pada akhirnya, guru mengalami kesulitan untuk memberikan penilaian secara objektif.

Simpulan

Kemampuan menghadapi masalah dengan memberikan solusi yang tepat perlu dikuasai oleh seorang pemimpin dalam satuan pendidikan, agar dapat mengambil keputusan yang tepat harus dibekali oleh keterampilan, di antaranya keterampilan 4 M, yaitu Mempengaruhi, Mengembangkan, Menggerakkan dan Memberdayakan.

Untuk situasi darurat masa Covid-19 sekarang ini inovasi dan strategi yang tepat sangat diperlukan untuk menyiasati terlaksananya pembelajaran jarak jauh. Karena proses pembelajaran harus tetap dilaksanakan, siswa harus tetap mendapat pelayanan pendidikan sebagai mana mestinya walaupun tidak dilaksanakan secara tatap muka di kelas.

Radio siaran merupakan salah satu alternatif dalam melaksanakan pembelajaran jarak jauh terutama untuk dilaksanakan pada situasi dan kondisi sekolah yang dapat dijangkau oleh radio FM. Berikutnya, terdapat sumber daya manusia yang memiliki pengalaman dalam hal pengoperasian radio siaran. Kemudian, tersedianya peralatan yang memadai. Selain itu, diperlukan sinergitas warga sekolah dengan orang tua

Saran 

Berdasarkan kesimpulan di atas ada beberapa rekomendasi terkait pelaksanaan pembelajaran jarak jauh yang dilakukan di SMPN 1 Ngamprah, yaitu:

  1. Kerja sama yang solid antara guru dengan siswa di rumah dalam menindaklanjuti pembelajaran pasca siaran radio;
  2. Kesadaran yang tinggi dari peserta didik untuk dapat mengikuti siaran radio karena sulit untuk melakukan pemantauan secara langsung;
  3. Diperlukannya angket pemantauan untuk melihat sejauh mana tingkat keberhasilan proses Pembelajaran Jarak Jauh yang dilakukan;
  4. Kerja sama antar guru mata pelajaran;
  5. Keterlibatan orang tua siswa dalam membimbing dan mengarahkan anaknya di rumah agar dapat mengikuti pembelajaran dengan sebaik baiknya.***

Catatan: Tulisan di atas lebih lengkap dapat disimak di Buku Kumpulan Best Practice yang sebentar lagi akan terbit.

Penulis adalah guru PPKn SMPN 1 Ngamprah Bandung Barat. Jurnalis Newsroom Tim Peliput Berita Pendidikan Kab. Bandung Barat. Penulis dan Pecinta Alam.