MENUMBUHKAN KETERAMPILAN ABAD 21 MELALUI PROGRAM MERCURY (MAKE OVER LABORATORY)

Oleh: Sarina Hanifah, S.Pd., M.Si
(SMA Darul Hikam Internasional)

 

Laboratorium sains ideal adalah lingkungan yang dirancang dengan baik, dan dipelihara dengan standar keamanan yang ketat. Tantangan bagi murid sekolah menengah adalah memastikan laboratorium tersebut menjadi tempat yang aman dan nyaman untuk belajar dan bereksperimen. Mereka perlu memahami protokol keselamatan, memastikan penggunaan peralatan dengan benar, dan merawat fasilitas dengan baik.

Selain itu, mereka juga harus menghormati ruang dan rekan-rekan mereka, memastikan kerjasama dalam kerja tim, serta menjaga kebersihan dan ketertiban laboratorium. Dengan demikian, murid dapat memaksimalkan potensi pembelajaran di lingkungan yang kondusif dan aman.

Melihat standar laboratorium yang ideal, hal ini menjadi tantangan tersendiri di lingkungan SMA Darul Hikam Internasional. Jika dilihat dari perspektif aset kelengkapan alat dan bahan, serta ukuran ruangan, hal ini sudah sangat mendukung pembelajaran. Tantangan muncul ketika kondisi laboratorium tidak dimaksimalkan karena banyak terdapat sampah zat kimia tercecer pada saluran air, serta alat dan bahan yang tidak dikategorikan dengan baik.

Masalah di atas, muncul kerapkali dilatarbelakangi oleh kurangnya kesadaran murid terhadap rasa aman dan nyaman untuk belajar dan bereksperimen di laboratorium. Jika hal ini terus dibiarkan, dikhawatirkan akan terjadi sesuatu yang tidak diharapkan, mulai dari kesulitan melaksanakan eksperimen bahkan kecelakaan kerja pada pengguna laboratorium.

Merujuk pada kondisi laboratorium yang belum ideal, suatu program dilaksanakan untuk memperbaiki kondisi laboratorium sains agar menjadi lingkungan yang lebih ideal untuk pembelajaran dan penelitian. Program ini diberi nama MERCURY (Make Over Laboratory), yang ditujukan khusus bagi murid murid kelas 11.

Langkah pertama yang dilakukan guru bersama murid adalah melakukan evaluasi menyeluruh terhadap kondisi laboratorium. Hal ini memenuhi aspek “voice” atau suara jika ditinjau dari sisi kepemimpinan murid. Selanjutnya, diperlukan kegiatan pemenuhan aspek “choice” atau pilihan, berupa kegiatan diskusi mengenai apa yang laboratorium butuhkan saat ini. Dalam hal ini, murid murid dibekali pelatihan yang menyeluruh tentang protokol keselamatan, serta penegakkan disiplin terhadap aturan-aturan keselamatan yang ada.

Pada tahap akhir, yaitu tahap “ownership” atau kepemilikan, murid diminta untuk menjalankan aturan-aturan sebaik baiknya, merawat laboratorium semaksimal mungkin sehingga dihasilkan kondisi laboratorium sains yang lebih ideal. Dalam hal penerapan program MERCURY, dukungan serta kolaborasi dari pihak terkait seperti Kepala Sekolah dan MGMP guru sains di sekolah sangat dibutuhkan.

Tak hanya untuk memperbaiki situasi di laboratorium, program MERCURY juga berlandaskan pada latar belakang untuk meningkatkan kemampuan abad 21 pada murid murid tingkat menengah, seperti kemampuan berpikir kritis, komunikasi, kolaborasi dan kreatifitas yang menjadi fondasi vital dalam menghadapi tantangan kompleks di era modern ini.

Dalam menganalisis situasi di laboratorium, murid diharapkan untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritisnya. Melalui komunikasi yang efektif, murid juga dapat mengartikulasikan ide dengan jelas dan persuasif. Kolaborasi memungkinkan mereka untuk belajar dari sudut pandang yang berbeda dan mencapai hasil yang lebih baik secara kolektif, sedangkan kreativitas memungkinkan mereka untuk menemukan solusi inovatif untuk masalah yang dihadapi.

Melalui program MERCURY yang berkaitan dengan pengembangan keterampilan abad 21, program ini tidak hanya membantu mereka dalam mencapai kesuksesan akademis, tetapi juga mempersiapkan mereka untuk menjadi pribadi yang lebih mandiri dan siap dalam menghadapi tantangan-tantangan di masa depan. **

 

Profil  Penulis
Penulis adalah individu yang bersemangat dalam mengejar pengetahuan dan memperluas wawasan. Minat penulis yang luas mencakup berbagai topik, mulai dari ilmu pengetahuan, teknologi hingga seni dan budaya. Penulis gemar mengeksplorasi ide-ide baru dan senang berinteraksi dengan orang-orang yang memiliki minat dan pandangan yang berbeda. Saat mengikuti program Guru Penggerak, penulis menemukan pandangan-pandangan yang berbeda. Hal ini membuat penulis bersemangat untuk terus bergerak dan menerapkan apa yang telah penulis peroleh, pelajari dan diskusikan bersama rekan-rekan, dimanapun penulis berada.