MENYUSURI PATAHAN LEMBANG BERSAMA FKG IPS KBB

Berita : Dian Diana

BANDUNG BARAT-(NEWSROOM)Setelah sukses menyelenggarakan program outing class pertama ke Cikahuripan, Forum Komunikasi Guru IPS Kabupaten Bandung Barat (FKG IPS KBB) melaksanakan program outing class kedua dengan lokasi Patahan Lembang. Program ini merupakan bagian dari Bidang II Pengembangan dan Peningkatan Sumberdaya Manusia, yang diselenggarakan pada Hari Kamis (13/12/18) silam.

Ketua FKG IPS KBB Hilman Latief mengemukakan bahwa, tujuan pelaksanaan outing class ini, intinya agar Guru IPS di Kabupaten Bandung Barat dapat belajar langsung dari lapangan tentang teori-teori ke-IPS-an dikaitkan dengan fenomena yang ada, baik dari sisi geografi, ekonomi, sejarah, maupun sosiologi.

“Pembelajaran di luar kelas (outing class) sangat membantu guru dalam memahami materi khususnya tentang tenaga endogen serta bentukan yang ditimbulkannya. Manfaat yang didapatkan dari kegiatan ini guru lebih memahami berbagai fenomena yang terjadi di lapangan. Guru bisa mengaitkannya dengan mata pelajaran IPS, dan apa yang didapatkan dari kegiatan ini akan menjadi bahan atau media pembelajaran di kelas, serta membuka wawasan mereka tentang cara belajar di luar kelas. Lokasi yang kami kunjungi yaitu Gunung Batu, SMK Pertanian untuk melihat garis Patahan Lembang, dan Curug Cimahi,” papar Hilman

Patahan Lembang panjangnya 29 Km mulai dari Padalarang sampai Batu Lonceng Cibodas. Interpreter/pemateri adalah T. Bachtiar, Dosen sekaligus pegiat Kelompok Riset Cekungan Bandung (KRCB). Bachtiar  mengemukakan bahwa potensi gempa bumi yang ditimbulkan, jika gempa Patahan Lembang terjadi, maka kekuatannya cukup merusak wilayah Bandung dan sekitarnya.

‘Patahan Lembang membentang dari Timur ke Barat sepanjang 29 Km. Patahan sepanjang ini, bila energinya dilepaskan bersamaan dan seketika, akan menimbulkan gempa bumi dengan kekuatan 6,7 skala richter. Inilah yang paling dikhawatirkan sekarang ini. Ditambah pemukiman warga kota yang sudah sangat padat dan dibangun di dasar Cekungan Bandung yang batuannya sangat lunak. Batuan lunaknya berupa endapan Bandung Purba sehingga akan terjadi penguatan goyangan.”ungkap Bachtiar.

Lebih jauh lagi Bachtiar menjelaskan pentingnya mitigasi bencana gempa akibat Patahan Lembang harus segera disosialisasikan. Gempa bumi di Patahan aktif adalah keniscayaan alam. Mempersiapkan masyarakat, pemerintah, dan lembaga-lembaga terkait merupakan upaya penting yang mengandung nilai kemanusiaan, untuk generasi saat ini dan yang akan datang.

“Gempa dengan kekuatan 3,3 yang terjadi di Kampung Muril di Patahan Lembang pada tahun 2011 merusak konstruksi rumah warga yang membangun rumahnya belum menggunakan konstruksi rumah tahan gempa. Jika gelombangnya merambat ke selatan kearah Kota Bandung, maka tanah akan bercerai berai karena tanahnya didominasi bekas endapan Danau Bandung Purba.” Papar Bachtiar.

Pemateri lainnya yaitu Mudrik Rahmawan Daryono dari Puslit Geoteknologi-LIPI mengatakan bahwa Patahan Lembang merupakan patahan aktif karena memiliki bukti pergerakan dalam rentang waktu 10.000 tahun.

“Patahan Lembang dikatakan patahan aktif karena aktivitasnya nampak dalam kurun waktu 10.000 tahun terakhir ini. Kunci dari kewaspadaan kita terhadap resiko bencana yang ditimbulkan yaitu dengan mitigasi bencana. Buat bangunan anti gempa bumi, segera keluar rumah dan mencari tempat yang aman jika terjadi gempa, buat sambungan listrik yang tertata dan aman saat terjadi gempa, jika mungkin jauhi wilayah patahan yang terdampak, dan pengurangan resiko bencana lainnya yang harus dipersiapkan oleh masyarakat dan pemerintah.” Pungkas Mudrik.