MONEV SSK SMPN 3 Parongpong Terapkan Inovasi Beragam Aplikasi IT

Oleh: Dra. Efni Iriani, M.Pd
(Kepala SMPN 3 Parongpong)

Setelah penetapan nominasi sebagai sekolah siaga kependudukan (SSK) Paripurna Terbaik di tingkat Provinsi Jawa Barat  bersama tujuh sekolah lainnya setingkat SMP,  disusul dengan  akan dilakukan rechecking bukti fisik terkait insersi materi kependudukan dalam pembelajaran. SMPN 3 Parongpong sebagai salah satu nominatornya, tentu mempersiapkan segala hal terkait pengumpulan jejak-jejak tagihan yang pernah dilaksanakan serta masih dikoleksi dengan baik.

Jejak tagihan tersebut, terutama banyak terdapat dalam media sosial, karena saat pelaksanaan lebih banyak berupa tagihan secara daring. Terkait dengan masa lockdown akibat wabah pandemi Covid-19 yang melanda dunia, termasuk Indonesia.

Namun, jejak digital ini memberi petunjuk bahwa di SMPN 3 Parongpong, insersi materi kependudukan ini sudah masuk dan mewarnai para guru untuk membelajarkan siswanya secara intra kurikuler, ko-kurikuler maupun dalam ekstra kurikuler.

Penulis merupakan generasi X atau biasa disebut Gen X (1965-1980), bahkan hampir bisa dikatakan  mendekati generasi baby boomer (1946-1964), sehingga pengetahuan tentang teknologi dan informasinya tentu tidak secanggih kaum millenial atau generasi Y (1982-1995) bahkan generasi Z (1996-2010 an) yang sudah terpapar teknologi  sejak mereka dilahirkan.

Generasi X yang tumbuh besar di rentang tahun 70 dan 80-an, juga mulai mengenal berbagai jenis teknologi baru seperti telepon atau TV, yang dulunya belum ada di masa orang tua mereka. Anak-anak dari generasi tersebut juga mulai mengembangkan berbagai teknologi yang nantinya akan digunakan oleh generasi berikutnya, seperti pager.

Orang-orang dari generasi ini sudah menjadi orang tua dari generasi Y, atau bahkan sebagian sudah memiliki cucu. Jika pembaca saat ini berusia sekitar 25 tahun ke atas, maka kemungkinan besar orang tuanya merupakan generasi X.

Gen X ini  memiliki keterbatasan untuk berselancar dan bermimpi menghasilkan sesuatu kemudahan. Dan penulis hanya mampu menjadi konsumen dan penikmat teknologi belum berhasil membuat kemudahan dan menginspirasi atau daya tular kepada yang lainnya.

Tentu dengan kecanggihan teknologi saat ini dirasa terseok-seok untuk mengikutinya, bahkan banyak yang tidak pahamnya ketimbang bisanya. Namun, hal ini tidak menyurutkan keinginan untuk maju, walau hanya memiliki ide-ide saja dan yang mengekseskusi tekonologinya orang lain atau rekan sejawat.

                                                                 Inovasi dalam pelaksanaan Monev

Di atas sudah dipaparkan bahwa koleksi tagihan sebagai bukti fisik/buti dukung sedikit banyak berupa jejak digital yang bisa disajikan dengan link dan tinggal di klik saja. Hal ini sering dilakukan dan itupun cukup memudahkan. Namun, seiring pesatnya teknologi, terpikir untuk memberikan tampilan yang semakin memudahkan bagi siapa saja yang mengaksesnya.

Harapannya tentu bukan hanya untuk Tim Penilai saja namun peserta didik bahkan semua warga sekolah bisa kapanpun mengakses sesuai kebutuhan dan keinginannya, dan di satuan Pendidikan penulis memberikan istilah artefak karya siswa.

Salah satu inovasi saat pelaksanaan monev adalah pemakaian barcode pada produk-produk artefak karya siswa. Barcode adalah salah satu fitur data optik yang cukup penting karena menawarkan kepraktisan dan kecepatan. Barcode adalah kode yang memudahkan penggunanya dalam pencarian produk karena data di dalamnya bisa membuat proses tersebut lebih praktis dan cepat.

Di masa sekarang, kita berbelanja ke pasar modern/pasar swalayan atau mall, saat  transaksi pembelian di meja kasir, saat ini tidak aneh jika si kasir mengambil produk yang jadi pilihan belanjaan kita, lalu mendekatkan pada mesin scan barcode. Lalu, munculah nominal harga dari produk tersebut. Hal itu tidak menjadi keanehan karena dipikiran kita itu adalah kemudahan dari teknologi di pasar modern dan dianggap hal yang biasa saja.

Apa itu Barcode?

Barcode yaitu kode batang, kode palang atau kode bar (barcode), adalah data optic dalam bentuk garis atau bar yang dibaca oleh mesin. Kode-kode ini berfungsi untuk membedakan satu jenis produk dengan produk lainnya.

Seperti diketahui,  aplikasi Quick Response Code sudah hampir selalu kita temui dalam berbagai hal, mencari katalog buku, fashion, aplikasi peduli lindungi atau di file-file penting lainnya di setiap instansi atau organisasi. Saat ini pembuatan dan penggunaan kode QR di semua bidang kehidupan manusia telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan.

Untuk pemilik bisnis dan pengguna biasa, kode QR membuka peluang baru, baik di jejaring sosial di beragam kanal seperti Facebook, Twitter, Instagram, Youtube atau yang lainnya, dan dapat dengan mudah diakses  serta dipindai menggunakan perangkat seluler yang dimiliki.

Demikian halnya saat pelaksaan monev SSK dari Provinsi Jawa Barat, SMPN 3 Parongpong mengadopsi pemakaian QR Code ini untuk memberikan kemudahan saat pelaksanaannya. Sehingga, hanya tinggal  scan saja aja melalui perangkat selulernya. Artefak karya atau kegiatan siswa yang terinsersi materi kependudukannya bisa langsung terakses.

Baca Digital

Selain QR Code untuk memudahkan menelusuri jejak digital, agar mudah terpotret bukti fisiknya, satu lagi inovasi yang dikembangkan untuk mengantisipasi minimnya literatur bacaan siswa, yaitu dengan menghadirkan Layanan Baca Digital di Pojok Kependudukan. Seluruh warga sekolah terutama peserta didik bisa bebas mengakses buku bacaan sebagai pengayaan ilmu pengetahuannya

Tentu, dengan kemudahan Layanan Baca Digital ini dengan aplikasi e_pusnas dan kippin school serta link dari BKKBN, atau Penduk Jabar, banyak memperkaya khasanah buku secara online.

Simpulan

Saat ini banyak inovasi yang bisa diadopsi satuan pendidikan untuk memberikan kemudahan dalam bidang apapun. Bukan hanya kemudahan, namun bisa efisien dan efektif. Saat monev satuan pendidikan, tentu pengumpulan bukti dukung berupa hardcopy masih selalu menjadi primadona baik untuk kepentingan akreditasi, ataupun PKKS.

Beragam aplikasi ternyata bisa diadopsi untuk dihadirkan agar tumpukan kertas bukti dukung bisa diminimalisasi (less paper), serta tentu memudahkan semua pihak dan pada akhirnya jejak digital itu sampai kapanpun tetap bisa terus dipergunakan bahkan bisa menjadi inspirasi dan di ATM (amati, tiru dan modifikasi) satuan pendidikan lainnya. ***

Penulis adalah Kepala SMPN 3 Parongpong Kab.Bandung Barat.
Pewarta: Adhyatnika Geusan Ulun-Newsroom Tim Peliput Berita Pendidikan Bandung Barat.