RAJA BULAN PUN PULANG…

Oleh: Adhyatnika Geusan Ulun

(SMPN 1 Cipongkor)

Ramadaan telah pergi meninggalkan  kita. Bulan Rahmah, Berkah,  dan Maghfirah   Allah  sudah       pergi mengikuti   langkah  sunattullah untuk  menjauh  dan  sebelas  purnama kemudian datang kembali. Pertanyaan bagi kita adalah: Pelajaran apa yang didapat dari Raja Bulan ini?

Bulan suci Ramadan mengingatkan tentang iman. Dengan imannya manusia disadarkan tenatng pentingnya makna keyakinan akan kekuasaan Allah. Keyakinan tentang kasih sayang dan kepercayaan akan eksistensi kita sebagai orang mukmin yang  beriman kepada Nya. Hal ini dikaitakan dengan bukankah  puasa hanya diperuntukkan bagi orang yang beriman sesuai dengan konteksnya: Yaa ayyuhalladzina amanu kutiba ‘alaikumusshiyam. (QS. Al Baqarah:183).

Hal di atas mengandung arti bahwa Allah menganugerahkan Kasih Sayang Nya  berupa rahmat bagi orang yang beriman. Dia menurunkan berkah Nya hanya bagi orang yang beriman, dan Dia menurunkan Maghfirah Nya hanya untuk orang yang beriman. Orang yang mau dan patuh terhadap perintah Nya untuk berpuasa.  Allahu rofi’u darojati lil mu’minin…

Pelajaran berharga yang lainnya adalah bersyukur atas nikmat yang Allah berikan.  Maka, dengan keyakinan orang beriman diingatkan bahwa sekecil apapun kenikmatan yang dirasakan harus diyakini semuanya berasal dari Allah. Karena tidak ada satupun Dzat yang mampu memberikan kenikmatan kecuali Allah.

Ketika hal  tersebut sudah terpatri di dada, maka pada akhirnya sebesar apapun ujian yang Allah timpakan kepada kita,  seberat apapun  musibah yang menerpa kita, akan diyakininya  pasti ada jalan keluar, bagi mereka yang senantiasa bertawakal, berserah diri kepada Allah.  Mayyataqillah yaj’alahu makhroja…

Sering digambarkan bahwa terbayang dan terasa ketika berpuasa,  bagaimana  perihnya perut yang lapar. Keringnya tenggorokan karena dahaga. Letihnya badan karena energi yang dibutuhkan sangat kurang.  Namun karena keyakinan yang kuat,  bahwa setiap kesulitan pasti ada kemudahan. Semua penderitaan akan  berubah menjadi kenikmatan yang luar biasa manakala berjumpa dengan saat berbuka.

Sesunggunya hal di atas hendaknya  menjadi bekal untuk sebelas bulan ke depan, bahwa segala penderitaan yang mungkin dialami oleh kita, diujinya kita dengan kesempitan rizki akibat dililit hutang piutang, dihimpitnya kita akibat krisis ekonomi yang berkepanjangan, kemakmuran menjadi semakin jauh dari harapan, penghidupan yang layak menjadi suatu impian,  diujinya kita dengan penyakit yang tak kunjung sembuh,  penderitaan juga bisa  berupa penghinaan karena status sosial kita, bisa karena jodoh yang tak kunjung tiba bagi yang belum memperoleh pasangan, bisa juga terpaan fitnah dan musibah yang seakan tak berakhir singgah di keluarga kita.

Hal-hal tersebut  bagi orang yang sudah dilatih dengan puasa harus diyakini bahwa segala kesulitan seberat apapun itu, pasti akan ada jalan keluar, dan pasti telah Allah siapkan segala sesuatunya sesuai dengan kadar kesanggupan umatnya. Fa inama’al ushri yusron innama’al ushri yusroo.

Dan  Alloh tidak akan pernah membebani hamba Nya  dengan sesuatu yang kita tidak mampu memikulnya. La yukallifullohu nafsan illa wus ‘ahaa…

Berikutnya adalah diingatkan bahwa Ramadan adalah syahrul Qur’an. Bulan dimana diturunkannya Alquran, kitab suci  umat Islam. Alquran diturunkan oleh Allah sebagai Hudaan, petunjuk. Sebagai bayinah, penjelas. Sebagai  syifa,  obat.  Petunjuk bagi siapapun yang merindukan kebenaran, yang mendambakan keadilan, yang mengharapkan rida Allah. Alquran mengupas segala permasalahan manusia, dia menjadi solusi segala persolaan hidup dan kehidupan manusia, dan menjadi sumber dari segala sumber hukum.

Seperti diketahui, Alquran diturunkan dengan membawa misi-misi yang mulia. Pertama, membebaskan manusia dari kemusyrikan.  13 tahun periode Mekah, baginda Rasul membina  iman, memantapkan akidah, membangun keyakinan dan menanamkan kembali nilai-nilai Islami yang sekian lama dilupakan akibat kejahiliyahan manusia.

Seyogyanya, hal ini ditanamkan dalam kehidupan sehari-hari, bahwa biar zaman boleh berubah, waktu boleh berlalu, tetapi iman tak boleh goyah, akidah tetap istiqamah. Sekali melangkah pantang surut mundur dalam hal keyakinan.  Karena sesungguhnya Alquran  menjadi lampu petunjuk langkah kehidupan manusia.

Misi yang kedua diturunkannya Alquran adalah membebaskan manusia dari ras diskriminisasi, membebaskan dari perbudakan, perbedaan warna kulit, dan menempatkan manusia sebagai makhluk yang memiliki derajat yang sama. Biar suku berbeda, walapun bangsanya tidak sama, biar status sosialnya tidak  sederajat, tetapi bila satu akidah, satu keyakinan dia adalah saudara kita. Yaa ayyuhannaas inna kholaqnakum min jakariw wa unsa waja’alnakum tsu ubawaqobaila lita’arofu inna  akromakum ‘indallohi atqokum. Innalloha ‘aliman khobiir-Wahai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari laki-laki dan perempuan, dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku untuk saling mengenal, sesungguhnya yang paling mulia diantara kamu adalah yang bertaqwa, sesungguhnya  Alloh Maha Mengetahui lagi Maha mengenal.  (QS Al Hujurat : 13)

Sesungguhnya, di hadapan Allah, tidak ada yang lebih mulia karena tingginya pangkat, karena harta dan karena jabatannya, tetapi hanyalah orang yang bertakwa kepada Nya yang senantiasa menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan Nya,  yang senantiasa bersyukur bila mendapat kenikmatan, dan bersabar bila menghadapi ujian,  itulah yang sebenarnya mulia di hadapan Allah.

Oleh sebab itu, sangatlah sayang apabila masih diantara kita menyimpan permusuhan, akibat kesalahpahaman, sangatlah sayang hidup ini  disia-siakan karena sibuk menyimpan dendam, padahal terbentang dihadapan kita satu kehidupan yang akan banyak menyita perhatian, yakni  kehidupan akhirat yang kekal,  yang akan meminta pertanggungjawaban terhadap segala perbuatan kita, amal baik sekecil apapun akan dihisab, begitupan  amal yang jelek. Famanyya’mal mitsqola zarotin khoiroyyaroh  waman ya’mal mitsqola zarotin syaroyyah

Oleh karena itu, dulu, sebelum pandemi, pada hari yang penuh dengan kesucian ini hendaknya bermusafahah. Bersentuhan tangan sebagai wasilah saling mema’afkan. Bergandengan tangan  menuju suatu kehidupan  yang baru.  Sudah bukan masanya lagi kita berdebat tentang suatu yang tidak berguna. Sudah bukan waktunya lagi mempersoalkan tentang  urusan pribadi, sementara dihadapannya menumpuk kepentingan umum yang jauh lebih berguna.  Malah sekarang saatnya kita menyusun shaf-shaf  menyusun barisan seperti halnya salat berjama’ah yang demikian rukun dan tertib.

Di masa pandemi saat ini, hendaknya  dari sekarang diitikadkan untuk menempatkan persatuan di atas segalanya. Lebih melihat persamaan ketimbang perbedaannya.  Lebih mengedepankan keselamatan umat ketimbang mengedepankan ego sendiri.

Alangkah indahnya bila kita mampu mewariskan sesuatu yang berguna bagi anak cucu kita  yakni kedamaian, persatuan,  buah dari kebersamaan kita dengan saudara, tetangga dan lingkungan sekitar kita.

Misi ketiga Alquran adalah menggiring manusia ke arah yang benar menurut  tuntunan Allah dan Rasulullah SAW. Saat memperhatikan fenomena sekarang adalah betapa sebagian besar  diantara kita masih menempatkan Alquran hanya sebagai pajangan dan label keislaman saja. Padahal Alquran telah mengantarkan umat manusia pada keadaan beradab seperti sekarang ini. Alquran telah menggiring manusia dari jaman kegelapan menuju zaman yang terang benderang. Alquran telah menghantarkan umat manuisa dari masa kebodohan menuju masa yang serba berpengetahuan, minazhulumat ilannuur

Akhirnya, Raja Bulan sebentar lagi akan pergi. Tersisa nilai-nilai mulia yang ditinggalkannya. Namun, hendaknya kita selalu menatap ke depan agar keagungan bulan suci ini tidak hilang.

Ramadan tahun ini hendaknya menjadi momentum yang baik untuk menempatkan kembali  nilai iman, syukur, sabar, taat, dan Alquran sebagai sahabat dimanapun berada.

Semoga semuanya menjadi cahaya  ilahi yang akan menerangi di setiap  langkah di kehidupan. Masa  sekarang, dan akan menjadi petunjuk dalam kehidupan, serta menjadi penyelamat disaat tidak ada penyelamat lagi kecuali yang dadanya telah terpatri nilai keyakinan, syukur, sabara, ikhlas, dan Alquran.

Waalahualam.

 

Profil Penulis:

Adhyatnika Geusan Ulun, lahir 6 Agustus 1971 di Bandung. Tinggal di Kota Cimahi. Guru Bahasa Inggris di SMPN 1 Cipongkor Bandung Barat sejak 1999. Pengurus  MGMP Bahasa Inggris Kab. Bandung Barat. Alumnus West Java Teacher Program di Adelaide South Australia, 2013. Alumnus MQ ‘Nyantren di Madinah dan Makkah’ 2016, Pengasuh Majelis Taklim dan Dakwah Qolbun Salim Cimahi, Penulis buku anak, remaja dan dakwah. Editor NEWSROOM, tim peliput berita Dinas Pendidikan Bandung Barat. Jurnalis GUNEMAN Majalah Pendidikan Prov. Jawa Barat. Pengisi acara KULTUM Studio East Radio 88.1 FM Bandung. Redaktur Buletin Dakwah Qolbun Salim Cimahi. Kontributor berbagai Media Masa Dakwah. Sering menjadi juri di even-even keagamaan.

œAdhyatnika.gu@gmail.com., Ig.@adhyatnika geusan ulun.

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *