SAHITAKU, Program Berdampak pada Murid di TK Niagara

Oleh: Eva Aryanty, S.Pd

(TK Niagara Bandung Barat)

Program Pendidikan Guru Penggerak Angkatan ke 4 memberikan warna baru dalam perjalanan karir penulis sebagai guru di Taman Kanak–Kanak (TK).

Menjadi satu-satunya peserta dari jenjang TK yang berhasil melangkah di PPGP Angkatan 4 sampai saat ini memang bukan hal yang mudah. Banyak hal yang harus dilalui dan dihadapi dengan harus terus belajar dan menggali potensi diri agar menjadi sosok guru yang berkompeten.

Seiring berjalannya waktu dalam mengikuti program guru penggerak modul yang paling membuat penulis tertantang adalah saat mempelajari modul 3.3. Penulis merasa tertantang untuk membuat suatu pengelolaan program yang berdampak pada murid secara langsung bagi anak usia dini di TK Niagara khususnya.

Program tersebut menuntut penulis untuk membangun student agency pada program yang akan diterapkan di sekolah. Selain itu program yang didalamnya murid memiliki suara (voice), pilihan (choice) dan kepemilikan (ownership) dalam proses pelaksanaan programnya dan tidak mutlak berdasarkan keputusan guru semata.

Maka dari itu tercetuslah program Literasi Bercerita SAHITAKU dengan melihat potensi  dan bakat siswa di TK Niagara.

SAHITAKU

Program literasi bercerita SAHITAKU adalah singakatan dari Satu Hari Berbagi Cerita Kesukaanku. Kata “kesukaan” disini adalah benda atau media yang disukai  dan dibawa dari rumah yang nantinya digunakan saat anak bercerita disekolah.

Hal yang melatarbelakangi penulis merancang program ini karena kegemaran anak didik penulis yang senang sekali dengan kegiatan bercerita baik dengan media buku, alat peraga ataupun bercerita secara langsung tanpa media.

Kegemaran siswa bercerita memang sudah menjadi kebiasaan sejak penulis mengajar di TK. Kegiatan anak bercerita secara langsung sering penulis sebut “celoteh si kecil”. Kenapa demikian? Karena hal yang mereka ceritakan begitu sederhana, terkadang lucu dan terkadang juga membingungkan karena anak usia dini memiliki imajinasi yang sangat besar.

Tetapi itulah “anak”. Mereka bebas bercerita apa saja yang mereka sukai baik yang ada dirumah, maupun hal yang mereka lihat ketika perjalanan menuju sekolah.

Kegemaran berbagi cerita dengan gurunya adalah hal yang wajar dan terhadang harus diceritakan ketika mereka datang ke sekolah tanpa disuruh atau dipaksa, mereka langsung bercerita apa saja.

Sesuai dengan filosofi Ki Hadjar Dewantara bahwa Pendidikan bertujuan untuk menuntun segala kodrat yang ada pada anak-anak, agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya. Pendidik itu hanya dapat menuntun tumbuh atau hidupnya sesuai kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak, agar dapat memperbaiki lakunya (bukan dasarnya) hidup dan tumbuhnya kekuatan kodrat anak.

Hal itu yang selalu penulis jadikan pegangan bahwa mendidik seorang anak sesuaikanlah dengan kodrat alam dan zamannya.

Selain itu, visi sekolah yang penulis pegang, yaitu menciptakan dan menumbuhkan anak didik yang CERMAT (Cerdas, Ceria, Mandiri dan Bertaqwa) agar dapat mewujudkan Profil Pelajar Pancasila yang diharapkan.

Hal yang berbeda dan menarik dari program SAHITAKU, di mana program ini menanamkan student agency dalam diri peserta didik, belajar menggali kemampuan dan keinginan  secara positif dalam mempengaruhi kehidupan mereka sendiri dan lingkungan di sekitarnya.

Saat murid menjadi pemimpin dalam proses pembelajaran mereka sendiri maka mereka memiliki suara (voice), pilihan (choice), dan kepemilikan (ownership) dalam proses pembelajarannya.

Tugas kita sebagai guru membimbing dan memfasilitasi dengan menyediakan lingkungan yang menumbuhkan budaya di mana murid memiliki suara, pilihan, dan kepemilikan dalam kegiatan yang mereka lakukan.

Pelaksanaan Program

Program Literasi berbagi cerita kesukaanku (SAHITAKU) merupakan kegiatan kokurikuler yang dilaksanakan dikelompok TK A usia anak 4-5 tahun di TK Niagara. Sebelum Program SAHITAKU direalisasikan di kelas, hal yang dilakukan terlebih dahulu mengajukan program dan meminta izin untuk menerapkan program tersebut, lalu kolaborasi dengan teman sejawat menjadi kunci penting dalam pelaksanaan program .

Hal yang tak kalah penting keterlibatan orangtua murid sebagai pembimbing dan memfasilitasi anak selama berada dirumah, serta membantu anak untuk belajar menentukan sendiri media cerita apa yang ingin ia sampaikan dikelas nanti.

Dalam pelaksanaannya SAHITAKU dilakukan selama KBM di kelas bisa di saat awal kegiatan (pembukaan) maupun setelah kegiatan inti pembelajaran.

Kegiatan ini dilakukan sebanyak 2 kali dalam seminggu dengan durasi 30 menit.  Dalam satu hari bisa 2–3 anak yang bercerita secara bergantian.

Adapun hal yang dilakukan saat kegiatan SAHITAKU berlangsung,  siswa belajar berbagi cerita dengan teman dengan tema yang sudah disepakati (Sharing). Kemudian, mereka mencoba dan merasakan media cerita yang dijadikan objek dalam bercerita (Trying and Feelling).

Selanjutnya, penulis melaksanakan sesi tanya jawab (Question and Answer), dan siswa belajar menentukan pilihan cerita mana yang disukai (Choice).

Capaian SAHITAKU

Program SAHITAKU sudah dilaksanakan pada bulan Juni di akhir tahun pelajaran 2021-2022. Kemudian berlanjut sampai sekarang di kelompok TK A (usia 4-5 tahun).

Adapun beberapa hal yang penulis temukan saat kegiatan SAHITAKU berlangsung, yaitu siswa menjadi bersemangat/antusias (anak penasaran dengan media cerita apa selanjutnya yang akan dibawa temannya). Kemudian, SAHITAKU menjadi sebuah ajang unjuk aksi, belajar kreatif dalam menyampaikan ceritanya sesuai dengan  kemampuan bahasa tiap anak.

Selanjutnya, para siswa belajar mengeluarkan pendapat, seperti belajar bertanya, menjawab dan mampu memilih cerita mana yang menurut mereka menarik dan alasan memilih cerita temannya itu menarik.

Berikutnya, program ini meunculkan potensi dalam diri anak yang terkadang tidak mereka sadari, seperti siswa yang jarang bercerita ternyata sangat antusias saat giliran ia bercerita dengan media yang dibawanya, anak yang jarang berbicara menjadi sering berbicara /bercerita .

Akhirnya, program tersebut mampu menggasah kemampuan emosional dan sosial siswa sehingga memunculkan rasa percaya diri pada mereka.

Simpulan

Program SAHITAKU yang penulis laksankan memberikan pelajaran bahwa kita sebagai pendidik berkewajiban memfasilitasi semua kebutuhan peserta didik kita. Menuntun kodrat anak sesuai kodrat alam dan zamannya agar tergali potensi dalam diri secara maksimal dan efektif.

Program ini memberikan pelajaran bagaimana menumbuhkan sikap kritis sejak dini dengan berperan aktif dan memberikan umpan balik kepada teman sekaligus kepada guru tentang program yang dilaksanakan secara bersama-sama.

Adanya suara (voice), pilihan (choice), dan kepemilikan (ownership) atas program yang dijalankan serta karakteristik lingkungan apa yang perlu dikembangkan menjadi hal yang perlu diperhatikan. Selain itu, pemanfaatan aset sekolah yang mendukung terlaksananya suatu program dengan baik.

Dari kesemuannya itu,  hal yang lebih berharga adalah melihat para siswa bahagia menjalankan program literasi bercerita ini. Mereka senang dalam menyampaikan cerita dengan media yang mereka bawa. Bahkan mereka tidak sabar menunggu giliran kapan mereka bercerita.

Hal di atas menunjukkan bahwa siswa sangat antusias dalam pelaksanaan program. Tak lupa kemampuan berbahasa siswa pun terasah dan tergali dengan baik.

Besar harapan agar program literasi bercerita SAHITAKU (Satu Hari Berbagi Cerita Kesukaanku) bisa memberikan dampak yang positif serta menjadikan siswa sebagai pemimpin dalam pembelajaran (student agency) di sekolah.***

Penulis

Eva Aryanty, S.Pd , lahir di Jakarta 21 November 1984 .Domisili Bandung Barat. Pendidikan terakhir S1 Pendidikan Luar sekolah STKIP SILIWANGI Bandung (IKIP SILIWANGI). Menjabat sebagai guru kelas sejak tahun 2005 di TK SABILI Kab.Bandung , 2007-2022 di TK Niagara Kab.Bandung Barat. Aktif sebagai Anggota IGTKI, Operator Sekolah KOBER Niagara, dan Guru Ekskulikuler  Menari dan menggambar TK NIAGARA. Email : aryanty.eva21@gmail.com,                         Youtube Channel : Eva Aryanty, IG : aryanty.eva21

Pewarta: Adhyatnika Geusan Ulun