Sampah Ceria: Merakit Kreativitas dari Limbah di SD Negeri Cigentur

Oleh: Awalludin Sukmana, S.Pd
(SD Negeri Cigentur Cikalongwetan)

 

Mengolah sampah menjadi lebih bermanfaat adalah langkah penting dalam upaya menjaga lingkungan dan meminimalkan dampak negatif limbah terhadap ekosistem. Mengolah sampah menjadi produk yang berguna membantu mengurangi jumlah limbah yang masuk ke tempat pembuangan akhir, yang pada gilirannya dapat mengurangi pencemaran lingkungan. Dengan mengubah sampah menjadi produk yang bermanfaat, kita dapat memanfaatkan kembali sumber daya yang sebelumnya dianggap sebagai limbah, membantu mengurangi penggunaan bahan mentah baru dan mengurangi jejak karbon. Pengolahan sampah menjadi produk yang bermanfaat memerlukan inovasi dalam teknologi dan proses produksi. Program semacam ini mendorong perkembangan teknologi hijau dan berkelanjutan yang dapat diadopsi secara luas untuk mengatasi masalah lingkungan. Melalui program pengolahan sampah, kita dapat menyampaikan pesan-pesan penting tentang pentingnya pengelolaan sampah yang bertanggung jawab dan cara-cara untuk hidup secara lebih berkelanjutan kepada peserta didik.

Tujuan Program

Membangun budaya positif di lingkungan sekolah. Mengedukasi siswa tentang pentingnya kebersihan dan kesehatan lingkungan. Mendorong sikap mandiri dan kreatif agar dapat menjadi pemimpin dalam bidang akademik maupun non-akademik. Memperkuat interaksi sosial siswa dengan cara yang positif, bijaksana, serta meningkatkan semangat gotong royong dan kepemimpinan di antara para siswa.

Pelaksanaan Program

Kegiatan dilakukan setiap hari sabtu pukul 08.00-10.00. Pembuatan karya dari sampah non organik dilakukan oleh kelas IV, V dan VI bersama guru wali kelas masing-masing. Guru melakukan pendampingan secara terkontrol. Guru dan murid melakukan refleksi di akhir kegiatan. Evaluasi dan refleksi akan digunakan sebagai perbaikan yang berkelanjutan.

Indikator Capaian

Indikator capaian yang ingin dicapai dari program ini adalah dapat menumbuhkan budaya positif disekolah, meningkatkan kesadaran murid terhadap kebersihan lingkungan, Menumbuhkan sikap mandiri dan kreatif dalam mewujudkan pemimpin pembelajaran dan mencapai tujuan pembelajaran akademik dan non akademikĀ Menguatkan interaksi sosial antara murid secara positif, arif dan bijaksana sekaligus meningkatkan rasa gotong royong dan kepemimpinan murid.

Hasil Capaian

  1. Terwujudnya murid yang peduli lingkungan
  2. Terwujudnya budaya positif di sekolah
  3. Terwujudnya murid yang mandiri, kreatif dan kolaboratif
  4. Terwujudnya interaksi sosial secara positif
  5. Terwujudnya kepemimpinan murid

Langkah Capaian

Langkah yang dilakukan sesuai tahapan BAGJA. Baik CGP dan KS bertanggung jawab atas program yang dijalankan tersebut. Calon Guru Pengerak dapat mengajak semua yang berada di ekosistem sekolah untuk memaksimalkan aset sekolah, melibatkan murid dalam aspek voice, choice dan ownership, dan melibatkan murid dalam penyusunan, pelaksanaan, dan evaluasi program.

Aset/ Sumber Daya Sekolah

  1. Modal manusia : murid, guru, wali murid, dan kepala sekolah
  2. Modal sosial : kolaborasi dengan warga sekolah
  3. Modal politik : melibatkan murid sebagai pemimpin pembelajaran (student agency) dan kebijakan kepala sekolah
  4. Modal agama dan budaya : siswa beragama islam dan 100% merupakan suku sunda
  5. Modal fisik : sarana dan prasarana untuk mendaur ulang sampah non organik
  6. Modal lingkungan : sekolah yang aman dan nyaman
  7. Modal finansial : Bantuan Oprasional Sekolah (BOS), CSR, Ikatan Alumni.

Kemungkinan Tantangan

  • Konsistensi waktu : waktu yang disediakan bisa saja tidak sesuai dan molor
  • Terbatasnya sarana dan prasarana yang ada di sekolah
  • Penurunan motivasi : motivasi yang semakin menurun bisa saja dialami murid dan guru dan akan berpengaruh pada keberlangsungan program
  • Kepemimpinan murid yang sulit berkembang

Alternatif Solusi dari Tantangan

  1. Menetapkan kesepakatan dan membangun hubungan positif dengan menerapkan disiplin positif.
  2. Bekerja sama dengan kepala sekolah untuk mendukung serta memperbaiki fasilitas dan infrastruktur.
  3. Melibatkan siswa dalam mengevaluasi program-program.
  4. Memberikan apresiasi dan motivasi kepada siswa dan guru.
  5. Meningkatkan kolaborasi dan komunikasi dengan orangtua siswa.

 

Profil Penulis
Awalludin Sukmana, lahir di Bandung, 3 Januari 1989, ia adalah anak pertama dari dua bersaudara. Awal adalah panggilan akrabnya,terlahir di keluarga yang sangat sederhana. Memulai pendidikan di SDN Cigentur, Bandung Barat, kemudian setelah lulus melanjutkan sekolah di SMPN 1 Cikalongwetan pada 2001. Selepas lulus dari SMP pada 2004, dia melanjutkan sekolah di SMAN 1 Cikalongwetan. Sempat kuliah S1 PGSD di STKIP Subang dari tahun 2014 sampai tahun 2018 dan bergelar S1. Mengikuti pendidikan profesi guru dalam jabatan pada tahun 2019 dan mendapat gelar S.Pd Gr. Pengalaman bekerja sebagai seorang guru pada tahun 2012 di SD Negeri Girimukti sampai tahun 2020. pada tahun 2020 pindah mengajar ke SD Negeri Cigentur sampai sekarang.