Oleh: Prof. Dinn Wahyudin
(Universitas Pendidikan Indonesia)

Awal musim dingin Desember 2023. Suatu sore di pinggiran kota Kitayushu Jepang. Seorang sahabat Indriyani Rachman yang kini menjadi dosen di Kitakyushu University mengajak kami untuk menikmati makanan khas Jepang. Yaitu Udon – sejenis mie dengan kuah dan aroma khas memanjakan lidah. Ketika kami menunggu pesanan, temanku berkata pada pemilik warung, dan memperkenalkan saya yang berprofesi sebagai dosen atau sensei. Secara reflek Sang pemilik warung menghadap saya dan tersenyum sambil membungkukkan badannya sebagai tanda hormat. Itulah tradisi budaya Jepang yang sangat menghormati orang tua dan profesi guru atau sensei.

Secara umum, kisah guru sangat universal. Rekam jejaknya dari zaman ke zaman sangat istimewa. Mereka penyandang profesi terhormat dan disegani. Guru diyakini sebagai orang bijak dan berilmu. Begitu istimewanya sosok guru, Plato – filsuf Yunani yang hidup 25 abad lampau (427 SM- 327 SM), pernah berujar, Teachers have such power that prime minister can only dream about it. Guru memiliki kekuatan sedemikian rupa sehingga seorang Perdana Menteri sekalipun hanya dapat memimpikan.
Begitulah sosok guru. Kelompok terhormat yang berwibawa karena ilmu dan pengetahuan yang dimilikinya.

Sensei
Dalam dimensi global, sosok guru merupakan salah kelompok elit yang disegani dan dihormati. Bagi masyarakat Jepang misalnya, masyarakat sangat menghargai profesi guru. Mereka sangat hormat dan memberikan apresiasi yang tinggi kepada para guru. Mereka menyebut guru dengan sebutan sangat terhormat yaitu Sensei.

Tofugu (2019) menulis bahwa kata sensei memiliki makna sebagai a person born before you were. Orang lahir sebelum anda. Maknanya adalah orang yang “dituakan” dan dihormat. Mereka merupakan sosok yang memiliki pengetahuan dan keterampilan mumpuni. Dengan dengan demikian sebutan sensei bisa juga melekat pada profesi lain dengan expertise tertentu yang sangat disegani masyarakat.

Studi yang dilakukan Japan Education System (2018) menyebutkan bahwa dari 82 profesi utama di Jepang, ternyata guru atau sensei berada pada posisi 18, kepala sekolah posisi 9, dan profesor atau _ sensei_ di Universitas dengan urutan ke 3. Hal ini menunjukkan bahwa profesi sensei atau guru, kepala sekolah dan dosen di perguruan tinggi merupakan kelompok yang sangat dihargai. Mereka dihormati dan sudah barang tentu juga, mereka mendapat penghasilan yang sepadan.

Seorang rekan yang lama bermukim di Jepang pernah mengemukakan pengalaman menarik. Walau lebih sebagai joke. Tradisi masyarakat Jepang yang sangat menghargai sensei, biasanya diekspresikan dengan memberi gestur memberi hormat. Yaitu dengan lebih membungkukkan kepala dan badannya ketika bersua dengan sensei.

Suatu hari, seseorang bertemu dengan sensei senior yang memang sudah bungkuk postur tubuhnya. Ketika sang sensei mengangguk dan membungkukkan badannya, ia dengan susah payah menurunkan posisi badannya untuk lebih bungkuk lagi. Begitulah, ekspresi rasa hormat pada Sang guru.

Demikian juga dalam tradisi masyarakat China. Mereka juga hampir sama dengan bangsa Jepang, begitu hormat pada guru. Masyarakat China menyebut guru dengan ujaran Seonsaeng atau Xiansheng. Suatu predikat terhormat disematkan bagi seseorang yang berilmu dan mengabdikan dirinya untuk mengajar. Begitu hormatnya kepada sang guru, dalam tradisi Cina masa lampau, penghargaan pada guru diberikan dalam bentuk _Xiushu._yaitu daging kering seperti dendeng yang beprotein tinggi.

Mr.Chips
Akisah, di sebuah sekolah sederhana Brookfield school di pedesaan Fenland. Sosok seorang guru muda bernama Mr. Chips sangat dicintai murid muridnya. Ia tipe guru yang taat secara konvensional dalam keyakinannya dan menerapkan disiplin yang kuat di kelas bagi muridnya. He is conventional in his belief and exercises firm dicipline in the classroom.

Mr. Chip juga seorang guru yang efektif dan sangat dihormati. Ia guru yang humoris dan menyenangkan semua orang. Namun demikian, sikap pedagogisnya mengendur setelah ia menikah dengan wanita muda bernama Katherine. Terjadi perubahan drastis dalam pola pembelajaran di sekolah tersebut. Namun pernikahan Mr. Chip dengan pujaannya tak berlangsung lama. Kathrine wafat ketika melahirkan putra mereka. Terjadilah pergulatan bathin pada diri sang guru Mr. Chips. Ia kembali pada passion awalnya guru idaman yang dicintai muridnya.

Itulah kisah penggalan Novel berjudul “Good Bye Mr.Chips” yang bertutur tentang guru. Novel buah pena sastrawan kaliber dunia James Hilton pada tahun 1933. Novel ini sangat populer dan menjadi best seller dan mendunia. Novel Mr.Chips inilah yang membawa James Hilton bertengger sebagai penulis Novel terkenal kelas dunia.

Itulah sosok guru atau dosen dari berbagai sisi. Guru adalah pribadi yang sangat dihormati semua kalangan. Begitu pentingnya posisi guru atau dosen banyak telaah tentang guru/dosen sebagai pribadi yang patut digugu dan ditiru. ***

Penulis adalah Guru Besar Kurikulum dan Teknologi Pendidikan Universitas Pendidikan (UPI).