Dr. H. Rustiyana, ST., MT., M.Pd., M.A.P
(Sekretaris Dinas Pendidikan Kab. Bandung Barat)
Pembelajaran Mendalam adalah investasi dalam pembentukan manusia seutuhnya, yang tidak hanya pintar, tetapi juga berkarakter, adaptif, dan siap menjadi agen perubahan di masa depan.
Pembelajaran Mendalam (PM) atau Deep Learning—dalam konteks pendidikan—sering kali disalahpahami. Sebagai pendekatan transformatif yang bertujuan meningkatkan mutu pendidikan, PM tidak lepas dari mitos dan persepsi keliru yang dapat menghambat penerapannya. Meluruskan mitos-mitos ini sangat penting agar guru, orang tua, dan pemangku kepentingan dapat fokus pada esensi dan manfaat nyata dari PM.
Mitos 1: Pembelajaran Mendalam Sama dengan Kecerdasan Buatan (AI)
Fakta: Ini adalah kesalahpahaman terbesar. Meskipun istilah “Deep Learning” awalnya populer di ranah Kecerdasan Buatan (AI) untuk menggambarkan jaringan saraf tiruan, dalam konteks pendidikan, PM merujuk pada kerangka kerja pedagogis dan filosofis. PM pendidikan berfokus pada pengembangan Delapan Dimensi Profil Lulusan secara holistik, yaitu Penalaran Kritis, Kreativitas, Kolaborasi, dan lain-lain. PM adalah tentang bagaimana manusia belajar dengan mencapai pemahaman yang lebih dalam, bukan tentang bagaimana mesin memproses data.
Mitos 2: PM Hanya Berlaku untuk Mata Pelajaran Tertentu
Fakta: PM dirancang sebagai pendekatan universal yang dapat diterapkan di semua mata pelajaran, jenjang, dan konteks pendidikan. Prinsip-prinsipnya—Berkesadaran, Bermakna, dan Menggembirakan—serta siklus pengalaman belajarnya—Memahami, Mengaplikasi, dan Merefleksi—dapat diintegrasikan ke dalam Kurikulum apapun. Baik itu Matematika, Bahasa, atau Seni, PM mendorong guru untuk berfokus pada konten esensial dan merancang proyek serta tugas yang mendorong pemikiran multi/interdisipliner untuk mencapai kedalaman.
Mitos 3: Pembelajaran Mendalam Berarti Mengajar Lebih Banyak Materi
Fakta: Justru sebaliknya. Pembelajaran Mendalam adalah tentang kedalaman (depth) bukan keluasan (breadth). Kurikulum PM menekankan pada Konten Esensial dan aplikatif, yang memungkinkan guru dan siswa memiliki waktu yang cukup untuk mengeksplorasi konsep kunci secara menyeluruh. Pembelajaran dangkal (surface learning) yang berorientasi hafalan terjadi karena kurikulum terlalu padat. PM membantu siswa melampaui hafalan dan mencapai tingkat pemahaman yang kuat, sehingga mereka mampu merelevansikan dan mengaplikasikan pengetahuan yang sedikit namun penting dalam konteks baru.
Mitos 4: PM Hanya Bisa Dilakukan di Sekolah dengan Sumber Daya Lengkap
Fakta: PM berakar pada filosofi dan perubahan praktik pedagogis, bukan pada ketersediaan teknologi atau fasilitas canggih. Guru di sekolah mana pun dapat menerapkan PM dengan mengubah peran mereka menjadi Aktivator dan Kolaborator, merancang tugas-tugas otentik, serta melibatkan orang tua dan komunitas sebagai Kemitraan Pembelajaran. Fokusnya adalah pada desain pengalaman belajar yang Bermakna dan pembentukan budaya kelas yang Menggembirakan, yang dapat dilakukan tanpa harus bergantung pada sumber daya mahal.
Mitos 5: PM Membuat Tugas Guru Menjadi Lebih Berat dan Sulit
Fakta: Meskipun PM menuntut perubahan peran guru yang signifikan—dari penceramah menjadi fasilitator—sebenarnya, PM dirancang untuk membuat proses mengajar lebih berdampak dan efisien dalam jangka panjang. PM memberikan otonomi dan fleksibilitas kepada guru untuk berinovasi dan menyesuaikan kurikulum dengan konteks lokal. Dengan fokus pada pengembangan Regulasi Diri pada siswa, PM memberdayakan siswa untuk mengambil tanggung jawab atas proses belajarnya, yang pada akhirnya mengurangi beban guru dalam hal kontrol kelas dan motivasi eksternal.
Akhirnya, meluruskan kelima mitos ini membantu kita melihat PM sebagai apa adanya: sebuah kerangka kerja yang solid dan teruji untuk mencapai Pendidikan Bermutu untuk Semua. PM adalah investasi dalam pembentukan manusia seutuhnya, yang tidak hanya pintar, tetapi juga berkarakter, adaptif, dan siap menjadi agen perubahan di masa depan. ***
