
Dr. H. Rustiyana, ST., MT., M.Pd., M.A.P
(Sekretaris Dinas Pendidikan Kab. Bandung Barat)
Pernahkah Anda mendengar seorang siswa menghela napas panjang di tengah ujian Matematika, meletakkan pensilnya, lalu bergumam, “Ah, sudahlah. Saya memang bodoh di pelajaran ini”?
Sebagai guru, hati kita pasti tergerak untuk langsung menyemangati. Namun, tahukah Anda bahwa niat baik saja tidak cukup? Cara kita merespons momen-momen keputusasaan tersebut ternyata memiliki dampak psikologis yang mendalam. Kata-kata yang keluar dari mulut seorang guru di depan kelas sering kali menetap dan menjadi “suara batin” (inner voice) siswa hingga mereka dewasa.
Jika kita ingin mencetak generasi yang tangguh, tidak mudah menyerah, dan berorientasi pada kemajuan—atau yang dikenal dengan istilah Growth Mindset—kita perlu mengubah skrip bahasa kita di dalam kelas.
Berikut adalah panduan mengubah kalimat sehari-hari guru menjadi “mantra” yang bisa merangsang pola pikir bertumbuh siswa.
- Saat Siswa Menyerah: Kekuatan Kata “Belum”
Momen paling kritis adalah saat siswa menabrak tembok kesulitan. Respons standar seperti “Ayo, coba lagi” terkadang terdengar kosong bagi siswa yang sudah merasa tidak mampu. Ubah Bahasanya, Alih-alih membiarkan siswa berkata “Saya tidak bisa,” segera intervensi dengan satu kata sederhana namun powerful: BELUM.
Katakan pada mereka: “Kamu bukan tidak bisa, Nak. Kamu hanya belum bisa saat ini.”
Kata “belum” mengubah segalanya. Ia memberi sinyal ke otak bahwa ketidakmampuan ini hanyalah kondisi sementara, bukan vonis seumur hidup. Lanjutkan dengan kalimat aksi: “Strategi apa yang sudah kamu coba? Yuk, kita cari cara lain, mungkin cara yang kemarin kurang cocok untukmu.” Ini mengajarkan bahwa kebuntuan bukan tanda kebodohan, tapi tanda bahwa strategi harus diubah.
- Saat Siswa Melakukan Kesalahan: Rayakan Keberaniannya
Dalam budaya sekolah konvensional, tinta merah dan jawaban salah sering dianggap aib. Akibatnya, siswa jadi takut tunjuk tangan karena takut salah. Padahal, tanpa kesalahan, tidak ada pembelajaran. Ubah Bahasanya, jadikan ruang kelas sebagai laboratorium yang aman untuk gagal. Saat siswa menjawab salah, jangan tunjukkan wajah kecewa. Justru, apresiasi keberaniannya.
Cobalah berkata: “Bapak/Ibu senang kamu berani mencoba menjawab. Jawabanmu ini menarik, meski kurang tepat. Bisa jelaskan kenapa kamu berpikir begitu? Mari kita cari di mana letak kelirunya bersama-sama.”
Dengan kalimat ini, kesalahan berubah status: dari “bukti kegagalan” menjadi “data berharga” untuk memperbaiki pemahaman.
- Saat Tugas Terasa Terlalu Mudah
Kita sering tergoda memuji siswa yang menyelesaikan tugas dengan cepat dan sempurna: “Wah, kamu pintar sekali! Cepat sekali selesainya!”
Hati-hati, pujian ini justru bisa menjebak siswa ke dalam Fixed Mindset. Mereka akan berpikir bahwa mereka hebat hanya jika bisa mengerjakan sesuatu dengan cepat tanpa usaha. Jika besok mereka bertemu soal sulit, mereka akan merasa status “pintar”-nya terancam. Ubah Bahasanya, jika siswa mendapat nilai 100 dengan terlalu mudah, mintalah maaf karena Anda kurang menantang mereka.
Katakan: “Sepertinya tugas ini terlalu mudah buatmu, ya? Maaf ya, Ibu/Bapak jadi membuatmu tidak belajar hal baru hari ini. Mau tidak saya kasih tantangan yang lebih sulit supaya otakmu makin berkembang?”
Ini menanamkan nilai bahwa sekolah bukan tempat memburu nilai semata, tapi tempat melatih otot otak.
- Mengubah Cara Memuji: Proses di Atas Bakat
Ini adalah kunci emas Growth Mindset. Berhentilah memuji bakat bawaan (seperti: cerdas, jenius, berbakat alami), dan mulailah memuji “keringat” mereka. Ubah Bahasanya, saat siswa berhasil memecahkan masalah rumit atau menyelesaikan proyek, soroti perjalanannya.
Katakan: “Nilaimu bagus bukan karena kebetulan. Bapak lihat kamu gigih sekali mencari referensi kemarin sore. Strategi belajarmu minggu ini sangat efektif.”
Kalimat ini mengajarkan hukum sebab-akibat: Usaha yang tepat menghasilkan kesuksesan. Siswa jadi sadar bahwa mereka memegang kendali atas prestasi mereka sendiri.
- Penutup Hari: Refleksi Perjuangan
Sebelum bel pulang berbunyi, jangan hanya bertanya “Siapa yang sudah paham semua?” Pertanyaan ini membuat siswa yang belum paham merasa terasing. Ubah Bahasanya, normalisasi perjuangan belajar dengan bertanya: “Siapa yang hari ini merasa kesulitan banget, tapi akhirnya berhasil sedikit demi sedikit?” atau “Kesalahan apa yang kita buat hari ini yang justru bikin kita jadi lebih ngerti?”
Kesimpulan
Membangun Growth Mindset tidak butuh biaya mahal atau kurikulum baru yang rumit. Ia dimulai dari perubahan kecil pada lidah kita.
Sebagai pendidik, mari kita sadari bahwa setiap kata yang kita ucapkan adalah benih. Apakah kita sedang menanam benih keraguan (Fixed Mindset) atau benih ketangguhan (Growth Mindset)? Pilihan ada pada kalimat yang kita pilih hari ini. ***