
Dina Maryani, S.Pd.
(SMP Negeri 2 Cihampelas)
Penggunaan AI tidak menggantikan peran guru. Justru sebaliknya. Guru tetap menjadi sosok utama yang merancang materi, menentukan tujuan pembelajaran, dan membimbing siswa.
Belajar Bahasa Indonesia sering kali dianggap membosankan. Membaca teks panjang, mendengarkan penjelasan guru, lalu mengerjakan soal rutinitas ini membuat sebagian siswa cepat kehilangan fokus. Situasi serupa juga terjadi di SMP Negeri 2 Cihampelas, khususnya saat siswa kelas VIII mempelajari teks laporan hasil observasi.
Namun, sebuah pendekatan baru berhasil mengubah suasana kelas. Dengan memanfaatkan video animasi berbantuan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), pembelajaran yang semula terasa berat kini menjadi lebih ringan, visual, dan menyenangkan.
Video animasi ini dirancang khusus untuk membantu siswa memahami informasi penting dalam sebuah teks. Tidak hanya berisi tulisan, video juga menampilkan ilustrasi bergerak, warna yang menarik, serta narasi suara yang memandu siswa memahami isi bacaan secara bertahap. Teknologi AI dimanfaatkan untuk mempercepat proses pembuatan video dan menyesuaikan tampilan materi agar lebih ramah bagi siswa SMP.
Hasilnya terasa langsung di kelas. Siswa yang sebelumnya pasif mulai lebih fokus dan antusias. Mereka tidak hanya membaca teks, tetapi juga “melihat” isi teks tersebut melalui gambar dan animasi. Informasi penting yang biasanya terlewat kini lebih mudah dikenali karena disajikan secara visual dan kontekstual.
Dari sisi kualitas, media pembelajaran ini juga mendapat penilaian sangat baik. Para ahli menilai video animasi tersebut layak digunakan karena tampilannya jelas, materinya sesuai kurikulum, dan bahasanya mudah dipahami. Artinya, inovasi ini bukan sekadar menarik, tetapi juga tepat secara pendidikan.
Yang menarik, penggunaan AI di sini tidak menggantikan peran guru. Justru sebaliknya. Guru tetap menjadi sosok utama yang merancang materi, menentukan tujuan pembelajaran, dan membimbing siswa. AI berperan sebagai alat bantu mempercepat produksi media dan membuka ruang kreativitas yang lebih luas bagi guru.
Bagi siswa, pengalaman belajar pun berubah. Mereka merasa pembelajaran lebih menyenangkan dan tidak membosankan. Video animasi membantu mereka memahami teks dengan lebih cepat dan membuat suasana kelas terasa lebih hidup. Belajar tidak lagi sekadar kewajiban, tetapi menjadi pengalaman yang menarik.
Inovasi sederhana ini menunjukkan bahwa teknologi, jika digunakan dengan tepat, bisa membawa dampak besar. Tidak harus mahal atau rumit, yang terpenting adalah kesesuaian dengan kebutuhan siswa. Video animasi berbantuan AI menjadi bukti bahwa pembelajaran Bahasa Indonesia pun bisa tampil modern dan relevan dengan dunia digital.
Di tengah tantangan pendidikan saat ini, langkah kecil seperti ini layak diapresiasi. Ketika guru berani berinovasi dan memanfaatkan teknologi secara bijak, kelas bukan hanya tempat belajar tetapi ruang tumbuh yang menyenangkan bagi generasi masa depan. ***