
Dr. H. Rustiyana, ST., MT., M.Pd., M.A.P
(Ketua PGRI Kab. Bandung Barat)
Dalam tubuh Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI), mengalir dua aliran darah yang tak terpisahkan: darah pejuang dan darah profesional. Seringkali kita mendengar istilah “Jati Diri PGRI” didengungkan dalam setiap upacara atau konferensi, namun apakah kita benar-benar memahami maknanya? Jati diri ini bukan sekadar slogan, melainkan DNA yang membentuk karakter setiap anggota PGRI.
Memaknai kembali jati diri ini menjadi sangat krusial di tengah gempuran zaman yang serba pragmatis. Ada kecenderungan guru hanya dilihat sebagai “buruh pengajar” yang bekerja demi gaji, atau sebaliknya, hanya dituntut profesionalismenya tanpa diperhatikan kesejahteraannya. PGRI hadir untuk menyeimbangkan kedua sisi mata uang tersebut. Guru adalah pendidik, tetapi guru juga adalah pejuang.
Artikel ini mengajak kita menyelami kembali esensi dari jati diri tersebut. Bagaimana seorang guru bisa tetap profesional di dalam kelas, namun tetap garang memperjuangkan hak-hak kaum pendidik di meja perundingan. Sinergi antara kompetensi intelektual dan keberanian moral inilah yang menjadikan guru Indonesia unik dan tangguh.
Semangat Pejuang yang Tak Pernah Padam
Jati diri pertama PGRI adalah organisasi perjuangan. Ini adalah warisan historis yang tidak boleh luntur. Sifat perjuangan ini lahir karena sadar bahwa nasib guru tidak akan berubah jika hanya didiamkan. “Pejuang” di sini memiliki makna luas. Ia berjuang melawan kebodohan di ruang kelas, dan berjuang melawan ketidakadilan kebijakan di ruang publik.
Sebagai organisasi pejuang, PGRI memiliki mandat untuk melakukan advokasi. Ketika ada guru honorer yang dibayar tidak layak, ketika ada guru di daerah 3T (Tertinggal, Terdepan, Terluar) yang minim fasilitas, jiwa pejuang PGRI harus terpanggil. Tanpa sifat pejuang ini, guru akan mudah diinjak-injak dan pendidikan akan menjadi komoditas belaka. Semangat ini adalah DNA yang membuat guru berani bersuara lantang demi perbaikan sistem.
Namun, perjuangan PGRI bukanlah perjuangan yang anarkis. Ia adalah perjuangan yang konstitusional, elegan, dan bermartabat. DNA pejuang mengajarkan guru untuk tidak mudah menyerah pada keterbatasan. Kisah-kisah guru yang menembus hutan belantara demi menemui muridnya adalah manifestasi nyata dari jati diri pejuang ini. Mereka tidak menunggu fasilitas sempurna untuk mulai mengabdi.
Menuju Profesionalisme Guru
Sisi kedua dari DNA PGRI adalah organisasi profesi. Seiring berjalannya waktu, tuntutan zaman bergeser dari sekadar kuantitas menjadi kualitas. Guru tidak cukup hanya berani dan ikhlas; guru harus kompeten, ahli, dan profesional. PGRI menyadari bahwa untuk dihargai, guru harus memiliki nilai tawar berupa kompetensi yang mumpuni.
Jati diri profesionalisme menuntut setiap anggota PGRI untuk menjadi pembelajar sepanjang hayat (lifelong learner). PGRI aktif mendorong sertifikasi, pelatihan, dan workshop untuk meningkatkan kualitas pedagogik dan profesional anggotanya. Di era digital, profesionalisme berarti melek teknologi dan adaptif terhadap metode pengajaran baru. Guru yang profesional adalah guru yang kehadirannya dirindukan siswa karena ilmunya yang luas dan cara ajarnya yang menyenangkan.
Fokus pada profesionalisme ini juga merupakan cara PGRI menjaga kepercayaan publik. Ketika masyarakat melihat guru-guru yang tergabung dalam PGRI memiliki kualitas tinggi, maka respek terhadap profesi ini akan tumbuh dengan sendirinya. Profesionalisme adalah benteng pertahanan terbaik untuk menjaga marwah guru.
Sinergi Hati dan Kompetensi
Kekuatan sejati PGRI terletak pada kemampuannya memadukan kedua DNA ini: Pejuang dan Profesional. Guru yang hanya pejuang tanpa profesionalisme akan menjadi agitator kosong tanpa karya nyata di kelas. Sebaliknya, guru yang hanya profesional tanpa jiwa pejuang akan menjadi apatis terhadap nasib rekan sejawat dan kondisi bangsa.
Harmonisasi keduanya menciptakan sosok guru yang paripurna. Di satu sisi ia piawai mendidik siswa dengan metode terbaru (Profesional), di sisi lain ia peduli dan solid dalam memperjuangkan kesejahteraan bersama (Pejuang). Inilah profil guru PGRI yang dicita-citakan: cerdas otaknya, namun juga tajam nuraninya.
Memaknai kembali jati diri ini adalah panggilan bagi setiap anggota di momen ulang tahun ke-80 ini. Apakah kita sudah menjadi guru pejuang? Apakah kita sudah menjadi guru profesional? PGRI adalah wadah untuk menempa kedua identitas tersebut. Dengan memelihara DNA ini, PGRI tidak hanya akan bertahan sebagai organisasi terbesar, tetapi juga sebagai organisasi yang paling dicintai dan dibutuhkan oleh bangsa Indonesia. ***