
Ilustrasi MOU Pemerintah Daerah tentang pentingnya keberadaan SPAB di KBB (Istimewa).
Dr. H. Rustiyana, ST., MT., M.Pd., M.A.P
(Sekretaris Dinas Pendidikan Kab. Bandung Barat)
Sekolah Aman Bencana (SPAB) adalah sebuah konsep yang seharusnya menjadi landasan utama bagi setiap institusi pendidikan di Indonesia. Sayangnya, bagi banyak sekolah, SPAB sering kali hanya diterjemahkan sebatas pemasangan papan nama, penanda jalur evakuasi yang memudar, atau sekadar dokumen formalitas di atas kertas. Padahal, SPAB jauh lebih dalam dari itu, ia adalah sebuah filosofi keselamatan yang harus terintegrasi dalam setiap aspek kegiatan sekolah, memastikan bahwa seluruh warga sekolah—mulai dari siswa, guru, hingga staf—siap menghadapi potensi ancaman bencana yang bisa datang kapan saja.
Indonesia dikenal sebagai “supermarket bencana” karena berada di jalur cincin api Pasifik yang rawan gempa, tsunami, letusan gunung berapi, hingga bencana hidrometeorologi seperti banjir dan tanah longsor. Lingkungan sekolah, yang notabene dipenuhi oleh kelompok paling rentan yaitu anak-anak, menjadi titik konsentrasi risiko yang sangat tinggi. Tanpa rencana tanggap bencana yang terstruktur, potensi jatuhnya korban jiwa dan luka-luka akan meningkat drastis saat bencana tiba, karena kepanikan dan kurangnya pengetahuan evakuasi akan mendominasi.
Rencana Tanggap Bencana: Kompas Saat Krisis
Rencana tanggap bencana adalah panduan langkah demi langkah yang dirancang khusus untuk kondisi darurat. Dokumen ini harus mencakup identifikasi risiko spesifik sekolah (misalnya, jika dekat pantai, risiko utamanya adalah tsunami), prosedur evakuasi, penentuan titik kumpul aman, dan peran serta tanggung jawab yang jelas bagi setiap anggota tim siaga bencana sekolah. Rencana ini harus bersifat dinamis, dievaluasi, dan diujicobakan secara berkala melalui simulasi.
Menyelamatkan Waktu, Menyelamatkan Nyawa
Dalam situasi bencana, setiap detik sangat berharga. Memiliki rencana tertulis yang sudah dipahami oleh semua pihak akan memangkas waktu respons yang krusial, mengubah waktu panik menjadi waktu bertindak. Siswa tidak perlu menunggu instruksi yang ambigu; mereka sudah tahu harus menuju ke mana dan apa yang harus dilakukan, seperti berlindung di bawah meja saat gempa atau segera berjalan cepat menuju titik kumpul.
Peningkatan Kapasitas dan Kepercayaan Diri
Proses penyusunan dan pelatihan rencana tanggap bencana secara otomatis akan meningkatkan kapasitas dan kepercayaan diri seluruh warga sekolah. Guru tidak hanya menjadi pengajar, tetapi juga komandan evakuasi yang terlatih. Siswa belajar menjadi agen keselamatan bagi diri sendiri dan teman-temannya. Ini menanamkan budaya siaga yang akan bermanfaat seumur hidup, bahkan di luar lingkungan sekolah.
Kemitraan Kunci dengan Komunitas
SPAB yang efektif tidak bisa berdiri sendiri. Rencana tanggap bencana harus melibatkan dan diharmonisasikan dengan pihak luar, seperti Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), kepolisian, puskesmas, dan tokoh masyarakat sekitar. Jaringan komunikasi yang kuat ini memastikan bantuan dan respons darurat dari luar dapat masuk dengan cepat, serta mempermudah proses reunifikasi siswa dengan orang tua pascabencana.
Mewujudkan Ketahanan Sekolah yang Utuh
Inti dari SPAB dan rencana tanggap bencana adalah mewujudkan ketahanan sekolah yang utuh (holistik), yang tidak hanya berfokus pada keselamatan fisik, tetapi juga pemulihan psikologis dan keberlanjutan proses belajar mengajar. Sekolah yang tangguh akan mampu segera kembali beroperasi pascabencana, meminimalkan dampak trauma pada siswa, dan menjadi jangkar pemulihan bagi komunitas sekitarnya. Oleh karena itu, memiliki rencana tanggap bencana bukan lagi pilihan, melainkan kewajiban moral dan legal bagi setiap sekolah. ***