
Santi, S.Pd
(SMPN 1 Cihampelas)
Pembelajaran kokurikuler merupakan bagian penting dalam implementasi kurikulum yang berfungsi memperkuat, memperdalam, dan memperkaya pembelajaran intrakurikuler. Melalui kegiatan kokurikuler, satuan pendidikan memiliki ruang untuk mengembangkan kompetensi murid secara lebih utuh, terutama dalam penguatan karakter.
Penguatan karakter tersebut mengacu pada delapan dimensi profil lulusan, yaitu keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, kewargaan, penalaran kritis, kreativitas, kolaborasi, kemandirian, kesehatan, dan komunikasi. Delapan dimensi ini menjadi landasan pembentukan lulusan yang berintegritas, profesional, dan memiliki kepemimpinan transformatif.
Pelaksanaan pembelajaran kokurikuler dapat dilakukan melalui beberapa cara, di antaranya pembelajaran kolaboratif lintas disiplin ilmu, Gerakan Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat (7 KAIH), serta cara lain yang disesuaikan dengan kurikulum satuan pendidikan dan kebijakan pemerintah. Satuan pendidikan memiliki keleluasaan untuk memilih pendekatan yang paling relevan dengan kebutuhan dan potensi peserta didik.
Pada semester 2 kelas IX tahun pelajaran 2025/2026, SMPN 1 Cihampelas mengimplementasikan pembelajaran kokurikuler melalui pendekatan kolaboratif lintas disiplin yang melibatkan mata pelajaran Seni Budaya, PPKn, IPS, dan Bahasa Indonesia. Kegiatan ini mengangkat tema “Simfoni Rasa dan Budaya Nusantara” dengan alokasi waktu 20 jam pelajaran yang dilaksanakan selama kurang lebih tiga minggu. Fokus dimensi profil lulusan yang dikembangkan adalah kreativitas, kolaborasi, dan komunikasi.
Tujuan pembelajaran dalam kegiatan ini adalah agar murid mampu mengenali kekayaan budaya Indonesia melalui busana/pakaian adat dan kuliner khas daerah serta mengekspresikannya dalam bentuk karya kreatif dan presentasi publik. Adapun capaian pembelajaran yang diharapkan meliputi kemampuan mengidentifikasi sejarah dan filosofi kuliner daerah, mengolah ide kreatif menjadi produk nyata berupa makanan, minuman, atau aksesoris busana, serta berkomunikasi secara percaya diri di hadapan audiens.

Kegiatan diawali dengan pemberian materi mengenai keberagaman budaya dan kuliner Indonesia dari Sabang sampai Merauke. Setiap kelas kemudian dibagi menjadi empat kelompok. Masing-masing kelas mendapatkan dua provinsi untuk dikaji, sehingga setiap kelompok bertanggung jawab pada satu provinsi. Tugas kelompok dibagi menjadi dua fokus utama, yaitu budaya pakaian adat dan kuliner khas daerah. Setiap murid juga dibekali jurnal pembelajaran yang diisi secara berkala sebagai bentuk refleksi kegiatan.
Selanjutnya, murid bekerja sama dalam kelompok untuk menghasilkan produk. Pada aspek budaya, murid membuat aksesoris pakaian adat secara mandiri. Pada aspek kuliner, murid menyiapkan makanan dan minuman khas daerah yang telah didiskusikan sebelumnya. Proses ini melibatkan perencanaan, pembagian tugas, diskusi, dan praktik langsung, sehingga menumbuhkan pengalaman belajar yang autentik.
Setelah produk selesai, setiap kelompok mempresentasikan hasilnya secara bergantian di lapangan sekolah. Dalam presentasi tersebut, murid menjelaskan nama pakaian adat, bahan yang digunakan, nama makanan dan minuman khas, bahan serta cara pembuatannya, serta filosofi budaya yang melatarbelakanginya. Kegiatan ini menjadi ruang bagi murid untuk melatih kepercayaan diri dan keterampilan komunikasi publik.
Sebagai tindak lanjut, murid menyusun laporan kegiatan yang berisi tata letak wilayah provinsi, sejarah, sistem pemerintahan, bahasa daerah, deskripsi pakaian adat, kuliner khas, serta dokumentasi foto kegiatan. Laporan ini menjadi bukti integrasi pengetahuan dari berbagai mata pelajaran.
Penilaian dilakukan secara kolaboratif antar mata pelajaran. Mata pelajaran Seni Budaya menilai proses pembuatan aksesoris dan produk kuliner. IPS menilai pemahaman tentang tata letak wilayah, sejarah, dan pemerintahan daerah. Pendidikan Pancasila menilai penggunaan bahasa serta kelengkapan laporan kegiatan. Bahasa Indonesia menilai kemampuan presentasi dan penyusunan laporan tertulis.

Hasil pelaksanaan kegiatan menunjukkan bahwa pembelajaran kokurikuler ini mampu memperkuat karakter murid, khususnya pada aspek kreativitas, kolaborasi, dan komunikasi. Kreativitas terlihat dari kemampuan murid merancang dan membuat aksesoris serta kuliner khas daerah. Kolaborasi tampak dalam kerja sama kelompok selama proses perencanaan hingga pelaksanaan. Sementara itu, kemampuan komunikasi berkembang melalui presentasi di lapangan dan penyusunan laporan kegiatan.
Melalui kegiatan “Simfoni Rasa dan Budaya Nusantara”, murid tidak hanya memperoleh pengetahuan tentang keberagaman budaya Indonesia, tetapi juga pengalaman belajar yang bermakna dan kontekstual. Pembelajaran kokurikuler ini menjadi contoh praktik baik dalam mengintegrasikan berbagai disiplin ilmu sekaligus menumbuhkan karakter positif pada peserta didik. Dengan demikian, kegiatan kokurikuler dapat menjadi sarana strategis bagi sekolah dalam membentuk generasi yang kreatif, kolaboratif, komunikatif, serta memiliki kecintaan terhadap budaya bangsa. ***