
Ilustrasi simulasi tanggap bencana di SPAB KBB (Istimewa).
Oleh: Dr. H. Rustiyana, ST., MT., M.Pd., M.A.P
(Sekretaris Dinas Pendidikan Kab. Bandung Barat)
Simulasi evakuasi bencana adalah tulang punggung dari Sekolah Aman Bencana (SPAB). Namun, tantangan terbesarnya adalah menjaga agar latihan ini tidak menjadi sekadar “liburan mendadak” atau kegiatan yang tidak dianggap serius oleh siswa. Ketika siswa menganggapnya lelucon, tujuan utama latihan—yakni menanamkan refleks keselamatan—akan gagal tercapai. Simulasi harus dirancang menyerupai kejadian nyata, bukan sekadar baris-berbaris menuju lapangan.
- Bangun Skenario Realistis dan Unpredictable
Untuk menghindari kebosanan, ubah kebiasaan rutin. Jangan selalu menggunakan bunyi alarm yang sama atau selalu memulai latihan pada jam pelajaran yang sama. Terapkan skenario yang melibatkan variabel tak terduga, misalnya “Gempa terjadi saat jam istirahat di kantin” atau “Jalur evakuasi utama terhalang”. Hal ini memaksa siswa dan guru untuk berpikir cepat, berimprovisasi, dan menerapkan prosedur darurat, bukan sekadar mengikuti alur yang sudah dihafal.
- Libatkan Peran Korban dan Tim Penolong
Berikan peran spesifik kepada siswa, seperti “korban” yang pura-pura terluka di kaki, atau siswa yang bertugas membantu anak-anak usia dini. Pembentukan Tim Siaga Bencana Sekolah (TSBS) yang melibatkan siswa sebagai bagian dari tim penyelamat, P3K, dan komunikasi akan menumbuhkan rasa tanggung jawab. Peran aktif ini membuat mereka menyadari pentingnya setiap detail dalam proses evakuasi dan pertolongan.
- Evaluasi dan Umpan Balik yang Kritis
Setelah simulasi, kumpulkan seluruh warga sekolah untuk sesi evaluasi yang kritis, bukan hanya pujian. Guru dan TSBS harus mencatat waktu evakuasi, titik-titik kemacetan, kesalahan prosedur (misalnya, berlari atau mengambil barang), dan area yang masih belum aman. Diskusi terbuka yang menyoroti kesalahan ini akan lebih mengena dan memastikan pelajaran dari simulasi dapat diperbaiki dalam latihan berikutnya.
- Integrasikan Psikologi dan Emosi
Bencana nyata memicu kepanikan. Dalam simulasi, perkenalkan elemen yang memicu respons psikologis, misalnya dengan meminta guru berteriak dengan nada tegas atau menggunakan efek suara sirine yang keras. Setelah evakuasi, adakan sesi singkat pertolongan psikologis awal (PSP) sederhana, menjelaskan bahwa merasa takut adalah wajar, namun harus tetap fokus pada prosedur. Hal ini melatih mereka mengelola emosi di tengah krisis.
- Partisipasi Penuh dari Staf dan Manajemen
Siswa akan serius jika mereka melihat seluruh staf sekolah, termasuk Kepala Sekolah, berperan aktif dan menunjukkan keseriusan. Pastikan semua guru dan staf tata usaha memiliki tugas dan peran yang jelas (misalnya, sweeper atau pencatat kehadiran). Ketika seluruh hirarki sekolah terlibat aktif, hal ini memberikan pesan kuat kepada siswa bahwa keselamatan adalah prioritas tertinggi dan bukan sekadar kegiatan pengisi waktu.
- Dokumentasi Visual sebagai Bahan Belajar
Rekam seluruh proses simulasi evakuasi, kemudian tayangkan video tersebut dalam sesi evaluasi. Dokumentasi visual ini akan menjadi alat yang sangat kuat untuk menunjukkan kesalahan dan keberhasilan secara objektif. Tampilan visual dari diri mereka sendiri yang melakukan kesalahan akan lebih mudah diingat dan dihindari saat simulasi atau kejadian nyata berikutnya. ***