Hj. Elis Lisnawati, M.Pd
(Pengawas Sekolah KBB)
“Tak kenal maka tak sayang.” Pepatah ini menegaskan pentingnya proses mengenal, memahami, dan mendekatkan diri sebagai fondasi membangun kepedulian, penghargaan, serta hubungan yang harmonis. Nilai inilah yang menjadi pijakan awal dalam membangun komunikasi dan kerja sama demi terciptanya sinergi positif untuk mencapai tujuan bersama.
Hamparan pemandangan yang menyejukkan mata menyambut saat memasuki wilayah Kecamatan Gununghalu. Pepohonan hijau membentang di sepanjang jalan, luasnya persawahan berpadu dengan kebun teh yang menambah kesejukan suasana pegunungan. Tingkat polusi kendaraan yang minim serta lalu lintas yang lengang menghadirkan ketenangan tersendiri. Beberapa petani tampak menggarap sawah, mempertegas nuansa pedesaan yang asri dan penuh kesederhanaan.
Perjalanan dengan suguhan alam yang indah itu menjadi pengantar dalam menjalankan amanah baru sebagai Pengawas Sekolah. Tugas pokok dan fungsi pengawasan kini harus diterapkan pada sepuluh sekolah bina di wilayah Gununghalu. Fokus utama adalah mendampingi dan membersamai kepala sekolah dalam pelaksanaan program-programnya, sekaligus melakukan pembinaan kepada seluruh warga sekolah. Komunikasi yang terbuka dan kolaborasi yang kuat menjadi kunci dalam pelaksanaan tugas tersebut.
Kunjungan pertama dilakukan dengan membawa program “SAMPURASUN” — Salam Perkenalan, Rencana, Aksi, dan Supervisi dalam Setahun. Program ini menjadi ruang untuk memperkenalkan diri sekaligus memaparkan rencana kerja pengawasan selama satu tahun ke depan. Dalam kunjungan kurang lebih dua jam tersebut, banyak hal yang dapat diamati dan dipelajari.
Dialog bersama kepala sekolah menunjukkan bahwa proses pembelajaran telah berjalan dengan baik. Program-program sekolah pun dilaksanakan melalui semangat kebersamaan dan gotong royong. Data sekolah yang sebelumnya diperoleh melalui drive bersama dapat diverifikasi secara langsung, mulai dari jumlah tenaga pendidik dan kependidikan, sarana dan prasarana, hingga pelaksanaan kegiatan sekolah.
Dari kunjungan perdana tersebut, muncul berbagai harapan dan cita-cita yang ingin diwujudkan ke depan dalam rangka peningkatan mutu pendidikan. Penekanan utama adalah memaksimalkan aset yang dimiliki sekolah. Kekurangan bukanlah kendala, melainkan tantangan yang dapat diatasi melalui kreativitas dan strategi yang tepat.
Hal penting yang menjadi perhatian dalam komunikasi langsung dengan kepala sekolah adalah bagaimana perspektif dan kepemimpinan mereka dalam membawa sekolah mencapai tujuan. Cara menyikapi regulasi serta menerjemahkannya ke dalam program nyata di lapangan menjadi indikator penting yang akan terus dipantau melalui supervisi berkelanjutan. Di sinilah fokus pendampingan diarahkan.
Medan dan jarak tempuh menuju sekolah bina memang memerlukan semangat dan keberanian ekstra. Namun, hal tersebut bukan menjadi hambatan, melainkan pengalaman berharga dalam perjalanan pengabdian. Amanah sebagai pengawas sekolah harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab untuk menjawab kepercayaan yang telah diberikan.
Seiring waktu, diharapkan perubahan nyata dapat terwujud. Tujuan akhir pendampingan adalah membangun budaya kolaborasi dan refleksi, serta menciptakan lingkungan belajar yang aman dan nyaman bagi peserta didik. Peningkatan kualitas pembelajaran, baik dari sisi proses maupun hasil belajar, menjadi target yang terus diupayakan—sekecil apa pun progres yang dicapai.
Akhirnya, kunjungan perdana ini diharapkan meninggalkan kesan mendalam bagi kedua belah pihak. First impression yang positif akan menjadi fondasi kuat bagi pendampingan selanjutnya. Pengawas diharapkan hadir sebagai support system yang memberikan dukungan emosional, penguatan mental, serta tindakan nyata secara tulus. Dengan demikian, percepatan menuju tujuan bersama—yakni transformasi pendidikan—dapat terwujud. ***

