
Ilustrasi trauma healing korban bencana (Istimewa)
Dr. H. Rustiyana, ST., MT., M.Pd., M.A.P
(Ketua PGRI Kab. Bandung Barat)
Mengaktifkan peer support adalah cara cerdas bagi Sekolah Aman Bencana (SPAB) untuk menciptakan jaringan pemulihan psikologis yang luas dan berbasis komunitas.
Setelah bencana, anak-anak seringkali lebih nyaman berbagi ketakutan dan kecemasan mereka dengan teman sebaya dibandingkan dengan orang dewasa. Inilah kekuatan tak ternilai dari Dukungan Peer Support (Dukungan Sesama), sebuah sistem di mana siswa yang telah dilatih secara sederhana dapat menjadi pendengar, penenang, dan sumber kekuatan bagi teman-teman mereka. Mengaktifkan peer support adalah cara cerdas bagi Sekolah Aman Bencana (SPAB) untuk menciptakan jaringan pemulihan psikologis yang luas dan berbasis komunitas.
Dukungan peer support bekerja karena adanya komunikasi horizontal. Anak-anak menggunakan bahasa dan konteks yang sama, membuat cerita atau kekhawatiran terasa lebih relatable atau dapat dimengerti. Siswa yang menjadi peer helper dapat menciptakan suasana yang tidak menghakimi dan mengurangi perasaan malu atau stigma yang mungkin muncul saat berbicara dengan konselor atau guru.
Program peer support yang efektif dimulai dengan pelatihan yang terstruktur bagi sekelompok siswa yang menunjukkan empati, kematangan, dan kemampuan mendengarkan yang baik. Pelatihan ini tidak bertujuan menjadikan mereka psikolog, tetapi mengajarkan mereka keterampilan dasar PPA: cara mendengarkan secara aktif, cara memvalidasi perasaan (“Aku mengerti kamu pasti merasa takut…”), dan kapan harus merujuk teman ke guru atau konselor.
Sekolah dapat memfasilitasi Lingkaran Berbagi atau kelompok dukungan kecil yang dipimpin oleh peer helper yang sudah dilatih. Di sini, siswa dapat berbagi pengalaman, ketakutan, dan harapan mereka dalam suasana yang rahasia dan aman. Peer helper bertugas memastikan semua orang memiliki kesempatan berbicara dan menjaga agar suasana tetap positif dan saling mendukung.
Peer support tidak harus selalu berupa pembicaraan serius. Ini juga melibatkan memimpin aktivitas positif yang menyatukan kembali komunitas sekolah. Peer helper dapat mengorganisir permainan kelompok yang menenangkan, kegiatan seni kolektif, atau proyek komunitas kecil (seperti membersihkan area sekolah yang rusak) yang memberikan siswa rasa kontrol, tujuan, dan penguatan koneksi sosial.
Salah satu peran terpenting peer helper adalah bertindak sebagai mata dan telinga tambahan bagi konselor sekolah. Karena mereka dekat dengan teman-teman mereka, mereka lebih mungkin menyadari jika ada siswa yang menunjukkan tanda-tanda trauma parah, seperti niat menyakiti diri sendiri atau penarikan diri ekstrem. Peer helper dilatih untuk segera dan diskret merujuk kasus-kasus serius ini kepada profesional.
Akhirnya, dengan adanya sistem peer support, sekolah tidak hanya memulihkan individu tetapi juga membangun resiliensi kolektif. Ketika siswa melihat teman-teman mereka bangkit dan saling membantu, hal itu mengirimkan pesan kuat tentang harapan dan kekuatan komunitas. Peer support mengubah trauma menjadi peluang untuk solidaritas, memastikan seluruh sekolah pulih bersama. ***