Cililin, KBB – Interactive Flat Panel (IPF) adalah layar sentuh interaktif canggih yang menggantikan proyektor dan papan tulis konvensional. Manfaat utamanya meliputi peningkatan kolaborasi dan partisipasi aktif, visualisasi materi yang lebih jelas, efisiensi biaya dan ruang, serta dukungan untuk pembelajaran hybrid maupun kegiatan interaktif lainnya secara dinamis. Demikian disampaikan Samsul Buchori, Pengawas Sekolah saat mengunjungi SMPN Satu Atap Lembang, Cililin, Senin (6/4/2026).
Menurutnya, selain manfaat tersebut, IPF juga mendorong transformasi budaya belajar di sekolah agar lebih adaptif terhadap perkembangan teknologi. Guru tidak lagi terbatas pada metode ceramah konvensional, melainkan dapat menyajikan materi secara multimedia, interaktif, dan kontekstual.

“IPF membuka ruang kreativitas guru dalam menyampaikan materi, sekaligus memantik keaktifan siswa untuk terlibat langsung dalam proses pembelajaran,” paparnya.
Samsul menambahkan, pemanfaatan IPF harus diiringi dengan peningkatan kompetensi guru agar perangkat tersebut benar-benar memberikan dampak optimal terhadap mutu pembelajaran. Ia menegaskan bahwa supervisi yang dilakukan bertujuan memastikan bantuan sarana dari pemerintah dapat digunakan secara maksimal dan berkelanjutan.
Sementara itu, Kepala SMPN Satu Atap Lembang, Adhyatnika Geusan Ulun, menyampaikan pihaknya mengapresiasi pemerintah dan Dinas Pendidikan Kabupaten Bandung Barat (Disdik KBB) yang telah memberikan bantuan IPF. Menurutnya, dengan hadirnya sarana tersebut pembelajaran menjadi semakin inovatif, efektif, dan menyenangkan bagi siswa.

“Kami merasakan perubahan signifikan dalam suasana kelas. Siswa lebih antusias dan guru lebih leluasa mengeksplorasi metode pembelajaran berbasis teknologi,” ungkapnya.
Di sisi lain, Ali Waliyudin, Wakasek yang juga merupakan guru matematika, berkesempatan memperagakan fungsi IPF di hadapan pengawas dan para guru. Dalam presentasinya, ia menjelaskan manfaat utama Interactive Flat Panel (IFP) dalam pembelajaran dan rapat interaktif, di mana pengguna dapat langsung menulis, menggambar, dan menandai konten digital (annotasi) di layar secara real-time.

“Dengan fitur sentuh multi-user, beberapa siswa dapat mengerjakan soal secara bersamaan di layar, sehingga diskusi menjadi lebih hidup dan kolaboratif,” paparnya.
Hal senada disampaikan Pengawas, bahwa dengan adanya IPF sekolah dapat menghemat ruang dan biaya. Perangkat ini mengintegrasikan fungsi proyektor, papan tulis, dan komputer dalam satu layar, sehingga mengurangi kebutuhan perawatan serta biaya operasional jangka panjang.
IPF juga dilengkapi fitur terintegrasi seperti sistem operasi berbasis Android, konektivitas internet, serta kemampuan membagikan hasil pembelajaran atau rapat secara instan. Fleksibilitasnya pun tinggi karena mendukung pembelajaran jarak jauh (hybrid) dengan kamera dan mikrofon bawaan, serta mudah terhubung ke berbagai perangkat seperti laptop dan smartphone.
Dengan teknologi ini, ruang kelas dan ruang rapat menjadi lebih modern, efisien, dan produktif. Kolaborasi tim maupun siswa dapat berlangsung secara simultan, meningkatkan engagement dalam diskusi atau pembelajaran. Selain itu, kualitas visual unggul dengan resolusi 4K menghadirkan tampilan materi yang tajam, jernih, dan tetap terlihat jelas meski di ruangan terang.
“Tampilan visual yang optimal membuat siswa lebih fokus dan mudah memahami materi yang disampaikan,” terangnya.

Di akhir kunjungan, Pengawas menandaskan bahwa pemanfaatan IPF harus terus dievaluasi dan dikembangkan agar sejalan dengan peningkatan mutu pendidikan di Kabupaten Bandung Barat.
“Teknologi hanyalah alat, yang terpenting adalah komitmen kita bersama untuk memaksimalkannya demi layanan pendidikan yang berkualitas bagi peserta didik,” tandasnya. ***