
Dr. H. Rustiyana, ST., MT., M.Pd., M.A.P
(Sekretaris Dinas Pendidikan KBB)
Banyak anak memandang ibadah hanya sebagai kewajiban yang harus dilaksanakan, sebuah ritual yang memakan waktu yang seharusnya bisa digunakan untuk bermain atau belajar.
Pola pikir di atas membuat ibadah terasa membosankan dan tidak relevan dengan kehidupan sekolah. Padahal, ibadah yang dilakukan dengan kesadaran penuh adalah “Power-Up” tersembunyi yang dapat melipatgandakan semangat belajar, motivasi, dan fokus anak. Ibadah bukan sekadar memenuhi tuntutan agama, tetapi sebuah latihan mental yang memiliki dampak neurobiologis yang positif pada kemampuan akademik.
- Meningkatkan Disiplin Diri (Self-Discipline)
Ibadah yang terstruktur (seperti shalat lima waktu atau doa rutin pada jam tertentu) menuntut ketepatan waktu, konsistensi, dan penghentian aktivitas lain. Kualitas disiplin diri yang terbangun melalui kepatuhan pada jadwal ibadah ini secara otomatis menular ke area belajar. Anak yang terbiasa disiplin pada ibadahnya akan lebih mudah disiplin dalam mengatur jadwal belajar dan menepati tenggat waktu tugas.
- Latihan Kontrol Perhatian (Attention Control)
Dalam ibadah, anak dilatih untuk mengarahkan seluruh perhatiannya pada satu objek atau niat. Di era yang penuh distraksi digital, kemampuan untuk mempertahankan fokus (kontrol perhatian) adalah aset akademik yang paling berharga. Ibadah secara rutin melatih “otot fokus” ini, memungkinkan anak untuk lebih mudah mengabaikan gangguan saat di kelas atau saat mengerjakan pekerjaan rumah.
- Pencarian Makna (Meaning-Making) dalam Pendidikan
Anak yang melihat ibadah sebagai sumber motivasi akan lebih mudah menemukan makna dan tujuan yang lebih besar di balik kegiatan belajarnya. Mereka tidak hanya belajar untuk mendapatkan nilai, tetapi untuk berkontribusi, mengasah potensi diri yang diberikan Tuhan, atau melayani komunitas. Perspektif meaning-making ini mengubah kelelahan belajar menjadi semangat yang didorong oleh tujuan yang lebih mendalam.
- Sumber Optimisme dan Grit
Keyakinan spiritual sering kali mengajarkan optimisme, yaitu harapan bahwa usaha yang dilakukan akan membuahkan hasil yang baik, meskipun jalannya sulit. Optimisme ini diwujudkan dalam grit (ketabahan dan kegigihan). Anak yang rajin beribadah cenderung memiliki grit yang lebih tinggi, karena mereka percaya pada proses dan tidak mudah menyerah saat menghadapi materi pelajaran yang rumit atau kegagalan.
- Jeda Kreatif (Productive Breaks)
Ibadah yang terdistribusi sepanjang hari berfungsi sebagai “jeda kreatif” yang produktif. Ketika seorang siswa merasa otaknya buntu saat belajar, jeda untuk beribadah dapat membersihkan pikiran tanpa menguras energi mental seperti istirahat biasa (misalnya scrolling media sosial). Setelah ibadah, otak kembali segar dan siap melihat masalah dari sudut pandang baru, seringkali memicu aha moment atau solusi kreatif.
- Koneksi Emosional dengan Diri Sendiri
Di tengah tuntutan sekolah, ibadah menjadi waktu yang aman bagi anak untuk terhubung dengan diri mereka sendiri, merefleksikan perasaan, dan mengakui emosi mereka. Kemampuan untuk memahami dan mengatur emosi (Emotional Regulation) adalah komponen kunci dari kecerdasan emosional, yang mana riset menunjukkan lebih penting daripada IQ dalam menentukan kesuksesan jangka panjang. Ibadah adalah wadah untuk melatih regulasi emosi tersebut. ***