Dr. H. Rustiyana, ST., MT., M.Pd., M.A.P
(Sekretaris Dinas Pendidikan Kab. Bandung Barat)
Seringkali kita mendengar keluhan siswa yang berbunyi, “Saya tidak bisa matematika,” atau “Saya tidak bakat menggambar.” Kalimat-kalimat ini adalah tembok tebal yang menutup kemungkinan untuk berkembang. Namun, Carol Dweck, seorang profesor psikologi dari Stanford University, menawarkan solusi yang sangat sederhana namun berdampak dahsyat: tambahkan kata “belum” di akhir kalimat tersebut.
Magis di Balik Satu Kata Kecil
Kata “belum” (atau dalam bahasa Inggris, The Power of Yet) adalah jembatan psikologis. Ketika siswa berkata “Saya tidak bisa”, itu adalah pernyataan final, sebuah vonis mati bagi kemampuan mereka. Otak meresponsnya dengan berhenti mencari solusi. Namun, ketika diubah menjadi “Saya belum bisa”, maknanya berubah total. Ada implikasi waktu dan harapan di sana. “Belum” berarti “akan bisa di masa depan, asalkan saya terus berusaha.”
Perubahan frasa ini menggeser fokus siswa dari keterbatasan saat ini menuju potensi masa depan. Ini adalah inti dari Growth Mindset atau pola pikir bertumbuh. Siswa diajak untuk memahami bahwa kemampuan bukanlah harga mati, melainkan otot yang bisa dilatih. Ketidakbisaan hari ini hanyalah satu titik dalam kurva pembelajaran yang panjang.
Menjembatani Kesenjangan Belajar
Dalam praktiknya di kelas, kata “belum” sangat berguna untuk meredakan ketegangan saat menghadapi materi sulit. Seringkali siswa merasa frustrasi karena membandingkan diri dengan teman yang lebih cepat paham. Mereka merasa tertinggal dan bodoh. Guru bisa masuk dan berkata, “Kamu bukan tidak paham, kamu hanya belum paham. Temanmu mungkin butuh 1 jam, kamu mungkin butuh 3 jam, tapi tujuannya sama.”
Konsep ini mengajarkan kesabaran terhadap diri sendiri. Di era serba instan ini, siswa sering menuntut hasil cepat. Filosofi “belum” mengajarkan bahwa belajar adalah maraton, bukan lari cepat. Tidak masalah jika kecepatannya berbeda, asalkan arahnya tetap maju. Ini sangat krusial untuk menjaga kesehatan mental siswa agar tidak mudah stres.
Mengubah Frustrasi Menjadi Penasaran
Kekuatan “belum” juga mampu mengubah emosi negatif menjadi energi positif. Rasa frustrasi (“Ah, susah banget!”) bisa diarahkan menjadi rasa penasaran (“Hmm, cara ini belum berhasil, cara apa lagi yang bisa kupakai?”). Guru dapat membantu dengan memberikan feedback yang mengarah pada kata “belum”. Misalnya, saat mengembalikan tugas yang nilainya kurang, tuliskan catatan: “Kamu belum mencapai standar kompetensi ini, silakan perbaiki bagian X dan kumpulkan lagi.”
Dengan cara ini, nilai buruk bukan lagi hukuman, melainkan sinyal bahwa proses belajar belum selesai. Pintu kesempatan masih terbuka lebar. Siswa tidak akan menyembunyikan kertas ujiannya karena malu, tetapi justru termotivasi untuk memperbaikinya karena tahu masih ada harapan untuk sukses.
Membudayakan “Belum” di Sekolah
Untuk membuat ini efektif, lingkungan sekolah harus mendukung. Poster-poster motivasi bisa diganti dengan narasi kekuatan “belum”. Dalam rapat guru, pembahasan tentang siswa yang tertinggal tidak boleh bernada pesimis, melainkan fokus pada strategi apa yang “belum” dicoba untuk membantu siswa tersebut.
Pada akhirnya, kata “belum” adalah hadiah terbaik yang bisa kita berikan kepada siswa. Ini adalah alat mental yang akan mereka bawa seumur hidup. Saat nanti mereka gagal melamar kerja, gagal dalam bisnis, atau menghadapi masalah hidup, mereka tidak akan hancur. Mereka akan ingat pelajaran di sekolah dulu, dan berkata pada diri sendiri: “Saya belum sukses, tapi saya sedang menuju ke sana”. ***
