
Dr. H. Rustiyana, ST., MT., M.Pd., M.A.P
(Sekretaris Dinas Pendidikan/Ketua PGRI Kab. Bandung Barat)
Di balik riuh rendah diskusi tentang kurikulum merdeka dan digitalisasi sekolah di kota-kota besar, ada realitas lain yang seringkali sunyi dari pemberitaan: perjuangan guru di daerah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal (3T). Di sinilah “nyawa” pendidikan Indonesia diuji setiap harinya. Tanpa sinyal internet yang stabil, tanpa gedung sekolah yang megah, bahkan seringkali tanpa akses jalan yang layak, guru-guru anggota PGRI tetap berdiri tegak menjalankan amanat konstitusi: mencerdaskan kehidupan bangsa.
Kisah mereka bukanlah kisah tentang mengejar tunjangan semata, melainkan kisah heroik tentang pengabdian tanpa batas. Bagi guru-guru di daerah 3T, PGRI bukan sekadar organisasi tempat membayar iuran, melainkan simbol solidaritas yang menguatkan mental mereka. Semangat PGRI yang lahir di masa revolusi seolah menemukan bentuk paling murninya di pelosok-pelosok negeri ini.
Artikel ini didedikasikan untuk mengangkat narasi-narasi kecil namun berdampak besar dari para “pahlawan tanpa tanda jasa” di garis depan. Kita akan menyelami bagaimana mereka menaklukkan tantangan alam dan keterbatasan fasilitas dengan kreativitas dan hati yang tulus, serta bagaimana PGRI terus berjuang agar negara tidak melupakan mereka.
Menaklukkan Alam Demi Ruang Kelas
Bayangkan harus menyeberangi sungai deras dengan perahu getek setiap pagi, atau berjalan kaki menembus hutan berlumpur sejauh 10 kilometer hanya untuk mencapai sekolah yang atapnya bocor. Ini bukan adegan film, melainkan rutinitas harian banyak guru di pedalaman Papua, Kalimantan, hingga pulau-pulau kecil di Maluku. Tantangan alam adalah musuh sekaligus sahabat mereka.
Di daerah 3T, guru seringkali harus menjadi “MacGyver”. Ketika tidak ada buku paket, mereka menulis di papan kayu. Ketika tidak ada alat peraga sains, mereka membawa murid ke alam terbuka. Keterbatasan justru melahirkan kreativitas tanpa batas. Semangat pantang menyerah ini selaras dengan nilai kejuangan PGRI. Mereka tidak mengeluh menunggu bantuan pusat turun, tetapi bergerak dengan apa yang ada di tangan.
Kehadiran fisik seorang guru di daerah terpencil memiliki makna yang jauh lebih dalam daripada sekadar transfer ilmu. Bagi anak-anak di sana, guru adalah jendela satu-satunya menuju dunia luar. Guru adalah harapan bahwa masa depan bisa lebih baik daripada hari ini. Ketidakhadiran guru satu hari saja bisa mematahkan semangat belajar satu desa.
Guru: Lebih dari Sekadar Pengajar
Di daerah 3T, peran guru melebar jauh melampaui deskripsi pekerjaannya. Mereka seringkali merangkap sebagai tokoh masyarakat, penyuluh kesehatan, hingga mediator konflik antarwarga. Karena minimnya aparatur pemerintah di daerah terpencil, guru menjadi representasi negara yang paling dekat dengan rakyat. Masyarakat menaruh kepercayaan penuh kepada sosok “Pak Guru” atau “Bu Guru”.
PGRI memahami beban ganda ini. Oleh karena itu, solidaritas sesama anggota di daerah 3T sangat kuat. Mereka sering berbagi sumber daya, saling menguatkan ketika ada yang sakit atau tertimpa musibah. Rasa senasib sepenanggungan ini membentuk ikatan persaudaraan yang kokoh. Organisasi PGRI di tingkat cabang dan ranting di daerah pelosok seringkali menjadi satu-satunya tempat guru mengadu dan mencari solusi.
Pengabdian ini seringkali dibayar dengan harga mahal: jauh dari keluarga, risiko kesehatan, hingga ancaman keamanan. Namun, binar mata anak-anak pedalaman saat berhasil membaca satu kalimat seringkali menjadi obat pelipur lara yang paling ampuh. Inilah esensi dari “jiwa korsa” guru yang sesungguhnya.
PGRI Mengawal Keadilan bagi Guru 3T
Kisah heroik ini tidak akan lengkap tanpa membahas peran advokasi PGRI. Organisasi ini menyadari bahwa heroisme saja tidak cukup untuk mengisi perut dan menjamin masa depan. Oleh karena itu, PGRI tak henti-hentinya mendesak pemerintah untuk memberikan perhatian khusus. Perjuangan merealisasikan Tunjangan Khusus Guru (TKG) bagi mereka yang bertugas di daerah 3T adalah salah satu agenda prioritas PGRI yang terus dikawal.
PGRI juga vokal menyuarakan agar rekrutmen PPPK (Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja) memberikan afirmasi lebih bagi guru-guru yang sudah puluhan tahun mengabdi di daerah 3T. Tidak adil jika mereka harus bersaing murni secara teknis dengan lulusan baru yang fasilitas belajarnya lengkap di kota. PGRI menuntut keadilan proporsional: menghargai masa bakti dan tingkat kesulitan medan kerja.
Semangat PGRI yang tak pernah padam di daerah 3T adalah bukti bahwa organisasi ini masih memiliki hati nurani. Selama masih ada guru yang rela berkorban di pelosok negeri, selama itu pula PGRI memiliki alasan kuat untuk terus berjuang. Mereka adalah penjaga kedaulatan NKRI melalui jalur pendidikan, dan negara berhutang banyak pada dedikasi sunyi mereka. ***