
Dr. H. Rustiyana, ST., MT., M.Pd., M.A.P
(Sekretaris Dinas Pendidikan Kab. Bandung Barat)
Di tengah laju perubahan dunia yang semakin cepat dan penuh ketidakpastian, peran sekolah tidak lagi sekadar menjadi tempat transfer pengetahuan akademis. Sekolah kini memegang tanggung jawab yang lebih besar; mempersiapkan mentalitas siswa untuk menghadapi tantangan masa depan. Salah satu fondasi psikologis terpenting yang dapat diberikan sekolah kepada siswa adalah Growth Mindset atau pola pikir bertumbuh.
Istilah yang dipopulerkan oleh psikolog Carol Dweck ini telah mengubah cara pandang kita terhadap kecerdasan dan bakat. Namun, mengapa konsep ini menjadi begitu krusial untuk diterapkan di lingkungan sekolah saat ini?
Memahami Growth Mindset vs Fixed Mindset
Sebelum melangkah lebih jauh, kita perlu membedakan dua pola pikir dasar, Fixed Mindset (Pola Pikir Tetap) adalah keyakinan di mana kecerdasan, bakat, dan karakter adalah sifat bawaan yang statis dan tidak dapat diubah. Siswa dengan pola pikir ini sering menghindari tantangan karena takut gagal dan terlihat “bodoh”. Sedangkan Growth Mindset (Pola Pikir Bertumbuh) adalah Keyakinan dimana kemampuan dasar dapat dikembangkan melalui dedikasi, kerja keras, dan strategi yang tepat. Siswa dengan pola pikir ini melihat kegagalan bukan sebagai akhir, melainkan sebagai batu loncatan untuk belajar.

Mengapa Sekolah Perlu Mengajarkan Growth Mindset?
Penerapan growth mindset di sekolah membawa dampak sistemik yang positif bagi perkembangan siswa, antara lain:
Pertama, Meningkatkan Ketahanan (Resiliensi) artinya siswa yang memiliki growth mindset lebih tahan banting. Saat menghadapi materi pelajaran yang sulit atau nilai ujian yang rendah, mereka tidak langsung merasa “saya tidak berbakat”. Sebaliknya, mereka akan berpikir, “saya belum menguasainya, dan saya perlu mencoba cara lain.” Ini menciptakan generasi yang tidak mudah menyerah saat menghadapi kegagalan di dunia nyata.
Kedua, Mendorong Keberanian Mengambil Risiko, artinya dalam lingkungan fixed mindset, kesalahan adalah aib. Namun, dalam budaya growth mindset, kesalahan adalah bukti bahwa siswa sedang berproses. Ketika sekolah merayakan proses belajar—bukan hanya hasil akhir—siswa menjadi lebih berani mengambil risiko, bertanya, dan mencoba hal-hal baru tanpa takut dihakimi.
Ketiga, Menumbuhkan Motivasi Intrinsik, artinya Siswa dengan pola pikir bertumbuh belajar bukan semata-mata demi nilai atau pujian guru, melainkan karena keinginan untuk meningkatkan kapasitas diri. Motivasi yang datang dari dalam (intrinsik) ini jauh lebih bertahan lama dibandingkan motivasi eksternal.
Strategi Mengintegrasikan Growth Mindset di Ruang Kelas
Mengajarkan growth mindset bukan sekadar menempelkan poster motivasi di dinding kelas. Ini memerlukan perubahan pendekatan pedagogis yang konsisten:
- Puji Proses, Bukan Kecerdasan: Alih-alih berkata, “Wah, kamu pintar sekali!” (yang memicu fixed mindset), guru sebaiknya berkata, “Saya suka usahamu menyelesaikan soal sulit ini,” atau “Strategi yang kamu pakai sangat kreatif.” Memuji usaha, strategi, dan ketekunan mengajarkan siswa bahwa proseslah yang menentukan hasil.
- Menambahkan Kata “Belum” (The Power of Yet): Ketika siswa berkata, “Saya tidak bisa matematika,” guru perlu mengoreksi dengan menambahkan satu kata sederhana: “Kamu belum bisa matematika.” Kata “belum” memberikan sinyal ke otak bahwa ada harapan dan waktu untuk menguasainya di masa depan.
- Normalisasi Kesalahan: Guru bisa berbagi cerita tentang kegagalan tokoh-tokoh besar atau bahkan kegagalan mereka sendiri, dan bagaimana mereka bangkit dari situ. Jadikan analisis kesalahan sebagai bagian rutin dari pembelajaran, bukan sekadar momen pemberian hukuman atau pengurangan nilai.
- Umpan Balik yang Konstruktif: Hindari memberikan nilai tanpa catatan. Berikan umpan balik yang spesifik tentang apa yang sudah baik dan langkah konkret apa yang perlu diperbaiki. Ini membantu siswa fokus pada perbaikan berkelanjutan.
Kesimpulan
Mencetak generasi tangguh tidak bisa instan. Ia membutuhkan ekosistem sekolah yang mendukung—mulai dari cara guru berbicara, sistem penilaian, hingga budaya sekolah secara keseluruhan.
Dengan menanamkan growth mindset, sekolah memberikan hadiah terbaik bagi para siswa: keyakinan bahwa masa depan mereka tidak ditentukan oleh bakat bawaan, tetapi oleh seberapa keras mereka mau berusaha dan belajar dari kegagalan. Inilah bekal sejati untuk menghadapi dunia yang terus berubah. ***