
Andri Kurniawan Purnama
(Wakasek Kesiswaan SMPN 2 Cikalongwetan)
Gema takbir yang melangit di ufuk 1 Syawal 1447 H bukan sekadar penanda berakhirnya masa lapar dan dahaga. Ia adalah sebuah proklamasi kemenangan bagi jiwa-jiwa yang telah bersetia dalam madrasah batin selama sebulan penuh. Bagi insan yang berkhidmat di dunia pendidikan, momen Idul Fitri adalah titik temu antara keheningan spiritual dengan gegap gempita pengabdian sosial. Kita baru saja keluar dari sebuah “laboratorium” batin yang melatih kesabaran, integritas, dan empati. Namun, seringkali muncul sebuah pertanyaan reflektif: akankah benderang cahaya Ramadhan ini tetap menyala saat kita kembali berhadapan dengan dinamika di ruang kelas? Di sinilah pentingnya sebuah sinkronisasi. Kita membutuhkan jembatan yang menghubungkan kesuksesan ibadah (ukhrawi) dengan manifestasi karakter dalam kehidupan nyata (duniawi). Di tanah Pasundan, jembatan itu telah tersedia dalam wujud Gapura Pancawaluya.
Gagasan Gapura Pancawaluya yang dicanangkan oleh Kang Dedi Mulyadi (KDM) bukan sekadar deretan kata tanpa makna. Ia adalah saripati dari kearifan lokal yang sangat relevan dengan hasil Tarbiyah Ramadhan. Gapura Pancawaluya: Cageur, Bageur, Bener, Pinter, dan Singer adalah manifestasi dari manusia yang telah selesai dengan dirinya sendiri dan siap mengabdi pada lingkungannya. Sebagaimana riset dalam Journal of Religion and Health (2022) yang mencatat bahwa puasa meningkatkan kontrol diri dan pro-social behavior, nilai Cageur (Sehat) dan Bageur (Baik) adalah output pertama yang kita rasakan. Seseorang yang “Cageur” batinnya setelah dibasuh Ramadhan, secara otomatis akan menjadi pribadi yang “Bageur”. Dalam dunia pendidikan, seorang guru yang Bageur adalah mereka yang menatap murid-muridnya dengan tatapan kasih sayang, bukan sekadar sebagai objek transfer ilmu.
Keunikan pemikiran KDM terletak pada tujuannya membentuk manusia yang sawawa (dewasa/matang). Beliau sering mengungkapkan sebuah kalimat yang sangat menggetarkan nurani:
“Pendidikan teh kudu nyiptakeun manusa anu sawawa. Weruh ka semuna, apal ka basana, rancingas rasana, rancage hatena. Bari manjing ka dirina, manjing ka sasama hirupna, manjing ka alamna sangkan bisa manjing ka gustina.”
Kalimat ini adalah inti dari sinergi duniawi dan ukhrowi. Pendidikan karakter bukan hanya soal angka di atas kertas. Pendidikan harus membuat seseorang weruh ka semuna (peka terhadap isyarat) dan rancingas rasana (tajam perasaannya). Ini adalah hasil nyata dari puasa: mempertajam rasa agar kita lebih peduli pada penderitaan sesama dan keagungan alam. Ketika seorang pendidik sudah manjing ka sasama (menyatu dengan sesama), maka setiap pengajarannya akan menjadi jembatan untuk manjing ka Gustina (sampai kepada Tuhannya). Mengajar pun berubah status, dari sekadar profesi menjadi sebuah bentuk peribadatan yang luhur.
Ramadhan mengajarkan kita untuk tetap Bener (Integritas) meski tak ada mata manusia yang mengawasi. Inilah fondasi utama seorang pendidik. Kang Dedi Mulyadi dalam pidatonya mengenai Kebudayaan dan Pendidikan Karakter mengingatkan bahwa integritas adalah akar dari kepercayaan. Tanpa sifat “Bener”, gelar “Pinter” (Cerdas) hanya akan menjadi alat untuk memanipulasi. Namun, kepintaran juga harus dibarengi dengan sifat Singer (Waspada/Mawas Diri). Jakob Sumardjo dalam Filsafat Sunda (2015) menekankan pentingnya kewaspadaan batin agar manusia tidak pongah dengan kecerdasannya. Seorang pendidik yang memiliki sifat Singer akan selalu berhati-hati dalam berucap dan bertindak, karena ia sadar bahwa setiap kata yang keluar dari mulutnya adalah benih yang akan tumbuh di hati murid-muridnya.
Membawa nilai spiritualitas ke dalam keprofesionalan adalah kunci kemajuan pendidikan karakter. Penelitian mengenai Spiritual leadership among nursing educators: a correlational cross-sectional study with psychological capital (Zeid et.all, 2022) menunjukkan bahwa pendidik yang memiliki kecerdasan spiritual tinggi cenderung lebih mampu mengelola stres dan memberikan solusi inovatif berbasis kasih sayang di kelas. Ini bukan berarti kita merubah sekolah menjadi tempat ibadah secara fisik, melainkan membawa “ruh” ibadah ke dalam setiap interaksi pendidikan. Bayangkan sebuah sekolah di mana gurunya memiliki fisik yang sehat (Cageur), tutur kata yang lembut (Bageur), langkah yang lurus (Bener), wawasan yang luas (Pinter), namun tetap rendah hati dan waspada (Singer). Inilah sekolah masa depan yang dicita-citakan melalui filosofi Pancawaluya.
Sahabat-sahabat pendidik yang senantiasa merawat ketulusan dalam setiap langkah, 1 Syawal 1447 H hanyalah sebuah awal. Mari kita bawa “bekal” dari bulan suci ini ke dalam setiap pengabdian kita. Mari kita jadikan Gapura Pancawaluya sebagai tolak ukur kesuksesan kita dalam mendampingi anak-anak bangsa. Pendidikan yang berhasil adalah pendidikan yang mampu mensinergikan kecerdasan otak dengan kelembutan hati, serta kepentingan dunia dengan harapan di akhirat. Semoga setiap peluh yang jatuh dalam upaya kita membentuk karakter siswa, dihitung sebagai ruku dan sujud kita di hadapan Sang Pencipta.
Wilujeng Boboran Siam. Hatur Nuhun.