
Dr. H. Rustiyana, ST., MT., M.Pd., M.A.P
(Sekretaris Dinas Pendidikan KBB)
Visi Indonesia Emas 2045 adalah impian besar bangsa untuk menjadi salah satu kekuatan ekonomi terbesar dunia tepat di usia seabad kemerdekaan. Namun, visi ini hanya akan menjadi angan-angan jika tidak ditopang oleh pilar utamanya: Sumber Daya Manusia (SDM) yang unggul.
Dalam peta jalan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN), penguasaan sains dan teknologi ditempatkan sebagai syarat mutlak. Di sinilah pendidikan Koding dan Kecerdasan Artifisial memainkan peran strategisnya sebagai akselerator kualitas manusia Indonesia.
Relevansi koding dengan visi nasional ini tertuang jelas dalam Asta Cita dan program prioritas pemerintah. Salah satu fokusnya adalah hilirisasi dan industrialisasi berbasis digital. Kita tidak bisa terus-menerus mengandalkan sumber daya alam mentah. Nilai tambah ekonomi masa depan ada pada inovasi teknologi. Dengan mengajarkan koding sejak dini, kita sedang menyiapkan jutaan talenta digital yang akan menggerakkan roda ekonomi baru, mengubah ekonomi ekstraktif menjadi ekonomi berbasis pengetahuan (knowledge-based economy).
Indonesia saat ini sedang menikmati Bonus Demografi, di mana jumlah penduduk usia produktif sangat melimpah. Namun, bonus ini bisa berubah menjadi bencana demografi jika angkatan kerja muda tersebut tidak memiliki keterampilan (skill) yang relevan dengan kebutuhan pasar. Data menunjukkan adanya kesenjangan talenta digital yang besar; industri membutuhkan jutaan tenaga ahli, namun suplai dari sekolah masih kurang. Kurikulum baru ini hadir untuk menutup celah tersebut, memastikan pemuda kita terserap industri dan produktif.
Potensi ekonomi digital Indonesia diproyeksikan mencapai nilai yang fantastis di tahun-tahun mendatang. Namun, sangat disayangkan jika kue ekonomi raksasa ini hanya dinikmati oleh platform asing sementara kita hanya menjadi pasar. Pendidikan koding bertujuan mencetak “tuan rumah” di negeri sendiri. Kita ingin anak-anak muda Indonesia yang menciptakan e-commerce, aplikasi kesehatan, dan solusi fintech yang digunakan oleh rakyat kita sendiri, sehingga devisa tetap berputar di dalam negeri.
Lebih dari sekadar keterampilan teknis, koding melatih karakter SDM unggul: kritis, kreatif, dan kolaboratif. Koding mengajarkan bahwa kegagalan (error) adalah bagian dari proses menuju keberhasilan, membentuk mentalitas pantang menyerah. Selain itu, proyek koding yang sering dilakukan secara berkelompok melatih kemampuan kerja sama tim dan komunikasi. Karakter-karakter inilah yang dibutuhkan untuk membangun bangsa yang maju dan beradab.
Peran koding dalam inovasi sosial juga sangat besar. Indonesia memiliki banyak masalah unik, mulai dari distribusi logistik antar-pulau, manajemen bencana, hingga layanan kesehatan di daerah terpencil. Solusi untuk masalah ini tidak bisa hanya “diimpor” dari Silicon Valley. Kita butuh inovator lokal yang mengerti konteks masalah di lapangan dan mampu merancang solusi teknologi yang tepat guna. Pendidikan berbasis proyek di sekolah mendorong siswa untuk peka terhadap masalah lingkungan sekitarnya.
Aspek kedaulatan data juga menjadi taruhan di tahun 2045. Di masa depan, data adalah aset paling berharga sebuah negara. Jika SDM kita tidak paham teknologi, kita akan terus bergantung pada sistem asing untuk mengelola data negara, yang berisiko pada keamanan nasional. Mencetak ahli keamanan siber dan analis data dari dalam negeri adalah langkah mutlak untuk menjaga kedaulatan digital Indonesia di kancah geopolitik.
Pemerataan kualitas pendidikan melalui teknologi juga menjadi kunci. Visi Indonesia Emas adalah visi untuk seluruh rakyat, bukan hanya untuk segelintir elit di Jawa. Kurikulum Koding dan AI yang dirancang inklusif—termasuk dengan metode unplugged untuk daerah minim sinyal—bertujuan mengangkat potensi anak-anak di daerah 3T. Banyak talenta brilian yang tersembunyi di pelosok negeri yang, jika diberi alat yang tepat, bisa memberikan kontribusi luar biasa bagi bangsa.
Dukungan pemerintah melalui Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah menunjukkan komitmen politik yang kuat. Pelatihan guru besar-besaran, penyediaan infrastruktur digital, dan penyusunan panduan kurikulum yang komprehensif adalah bukti keseriusan negara. Ini bukan proyek satu malam, melainkan maraton panjang yang membutuhkan konsistensi kebijakan hingga dua dekade ke depan.
Akhirnya, menyongsong Indonesia Emas 2045 bukanlah pekerjaan satu generasi saja. Apa yang kita tanam hari ini di ruang-ruang kelas SD hingga SMA, buahnya baru akan dipetik 20 tahun lagi. Dengan membekali anak-anak kita keterampilan koding dan kecerdasan artifisial, kita sedang memberikan mereka tiket untuk duduk sejajar dengan bangsa-bangsa maju lainnya, membawa Indonesia terbang tinggi di abad ke-21. ***