
Dr. H. Rustiyana, ST., MT., M.Pd., M.A.P
(Sekretaris Dinas Pendidikan Kab. Bandung Barat)
Suasana ruang kelas di pagi bulan Ramadan sering kali memiliki nuansa yang berbeda. Ada keheningan yang lebih syahdu, namun tak jarang diwarnai dengan wajah-wajah sayu dan mata yang menahan kantuk. Puasa memang menuntut ketahanan fisik, tetapi proses belajar mengajar tidak boleh berhenti. Di sinilah letak ujian sekaligus panggung pembuktian bagi seorang guru.
Di bulan suci ini, peran guru bertransisi lebih dari sekadar penyampai materi. Mereka menjadi oase yang menyegarkan dahaga keingintahuan, sekaligus nahkoda yang menjaga agar semangat belajar siswa tidak karam oleh rasa lapar dan kantuk.
“Ramadan bukanlah alasan untuk menurunkan standar pendidikan, melainkan momentum emas untuk mengubah pendekatan belajar menjadi lebih kaya akan makna.”
Lantas, bagaimana sebenarnya peran ideal seorang guru dalam menavigasi pembelajaran di bulan Ramadan?
- Mengedepankan Empati sebagai “Kurikulum” Utama
Hal pertama dan terpenting yang dilakukan guru di bulan Ramadan adalah menghidupkan empati. Menyadari bahwa siswa menahan lapar, haus, dan mungkin kurang tidur karena bangun sahur, menuntut guru untuk lebih peka.
Empati ini bisa diwujudkan melalui penyesuaian beban tugas dan ritme belajar. Guru yang bijak tidak akan memaksakan materi kognitif tingkat tinggi di siang hari yang terik. Sebaliknya, mereka akan meramu jadwal dengan menempatkan materi berat di pagi hari saat energi siswa masih penuh, dan menyisakan aktivitas yang lebih ringan di siang hari.
- Menyemai Karakter di Atas Nilai Akademik
Bulan Ramadan sering disebut sebagai Syahrut Tarbiyah (bulan pendidikan). Ini adalah momen paling tepat bagi guru untuk menggeser sedikit fokus dari sekadar pencapaian angka akademik menuju pendidikan karakter.
Guru mengambil peran sentral dalam menginternalisasi nilai-nilai Ramadan:
- Kejujuran:Melalui puasa, siswa belajar untuk tidak makan dan minum meski tidak ada yang melihat. Guru bisa mengaitkan ini dengan kejujuran dalam mengerjakan ujian atau tugas.
- Empati & Berbagi:Mengajak siswa memahami penderitaan mereka yang kurang beruntung, serta mengorganisir kegiatan amal sederhana di kelas.
- Disiplin Waktu:Mengaitkan disiplin waktu berbuka dan sahur dengan kedisiplinan mengumpulkan tugas dan menghargai waktu belajar.
- Menggebrak Kelesuan dengan Kreativitas
Tantangan terbesar di bulan puasa adalah melawan kantuk. Metode ceramah satu arah adalah “resep sempurna” untuk meninabobokan siswa. Oleh karena itu, guru dituntut untuk memutar otak dan berkreasi.
Pembelajaran interaktif menjadi kunci. Guru dapat menyisipkan permainan edukatif (gamification), kuis interaktif, diskusi kelompok yang dinamis, atau bahkan sesi storytelling yang sarat makna. Dengan melibatkan siswa secara aktif, fokus mereka akan teralihkan dari rasa lapar dan kantuk menuju keseruan memecahkan masalah.
- Menjadi Teladan Energi Positif
Guru digugu lan ditiru (guru dipercaya dan diikuti). Energi sebuah kelas sangat bergantung pada energi yang dibawa oleh gurunya. Meskipun guru tersebut juga sedang berpuasa dan merasakan dahaga yang sama, menunjukkan wajah letih di depan kelas hanya akan menularkan kelesuan kepada para siswa.
Guru yang hebat hadir dengan senyum, antusiasme, dan semangat yang menyala. Ketika siswa melihat gurunya tetap energik dan berdedikasi meski sedang berpuasa, hal tersebut akan menjadi motivasi intrinsik yang jauh lebih kuat daripada teguran lisan.
Kesimpulan: Madrasah Kehidupan yang Sesungguhnya
Pada akhirnya, peran guru di bulan Ramadan adalah menjadi fasilitator bagi sebuah “madrasah kehidupan”. Mereka tidak hanya memastikan silabus akademik selesai, tetapi juga memastikan bahwa setelah Ramadan berlalu, siswa-siswinya “lulus” menjadi pribadi yang lebih tangguh, berempati, dan berkarakter. Di tangan guru-guru yang berdedikasi inilah, rasa lapar dan haus di ruang kelas berhasil diubah menjadi energi spiritual dan intelektual yang tak ternilai harganya. ***