
Dra. Hj. N. Mimin Rukmini, M.Pd
(Kepala SMPN 3 Cililin)
Sungguh miris karakter dan perilaku murid saat ini. Pembahasan dan implementasi pembiasaan sebagai upaya membina karakter murid tiada henti dan terus berproses. Langkah konkret pembinaan karakter terus digalakkan sesuai kapasitas dan kemampuan dari masing-masing satuan pendidikan. Tak terkecuali pada bulan puasa sebagai bulan penuh ampunan. Pembinaan karakter pada bulan ini menjadi kesempatan yang luar biasa melalui pelaksanaan kegiatan pesantren kilat (sanlat).
Kegiatan sanlat merupakan rutinitas yang tepat dalam pembinaan karakter dimaksud. Rencana matang pembinaan karakter telah disusun sejak awal tahun pembelajaran yang tersurat dalam ARKAS. Bahkan, kegiatan pembinaan karakter melalui sanlat tahun ini pun telah direncanakan menyatu dengan kegiatan kokurikuler.
Materi sanlat diisi dengan kegiatan membaca tajwid, hafalan atau tadarus Al-Qur’an, serta implementasi ibadah salat. Ada pula materi akhlak serta doa sehari-hari. Selain itu, dilakukan pula salat duha bersama. Salat dipimpin oleh guru pembimbing sanlat yang terjadwal pada hari tersebut.
Untuk menumbuhkan kepedulian sosial, pada setiap Ramadan dan sanlat murid menunaikan infak harian Ramadan. Melalui kegiatan ini, murid belajar berbagi dengan sesama.
Kegiatan harian selama Ramadan dan sanlat dituliskan dalam buku Ramadan yang diterima masing-masing murid sebelum memasuki awal puasa. Sebagai bentuk apresiasi, murid dengan pengisian buku Ramadan terbaik dan terlengkap diberi hadiah.
Selain pembinaan karakter secara konsisten melalui sanlat di bulan Ramadan, diperlukan pula kolaborasi dengan berbagai pihak. Salah satunya adalah kerja sama dengan puskesmas sebagai bentuk dukungan dalam pembinaan karakter murid, khususnya terkait pemahaman kesehatan reproduksi bagi murid perempuan.
Pada hari Rabu, 10 Maret 2026, kegiatan sanlat menghadirkan narasumber dari puskesmas, yaitu Bidan Desa Karyamukti yang bertugas di Puskesmas Mukapayung. Murid pun terlihat antusias mengikuti kegiatan tersebut. Materi yang disampaikan narasumber berkaitan dengan kesehatan reproduksi dan pencegahan pernikahan dini.
Dalam materi tersebut, murid menerima penjelasan mengenai pentingnya menjaga kesehatan reproduksi, memahami perubahan fisik dan psikis pada masa remaja, serta mengetahui berbagai risiko yang dapat muncul akibat pernikahan dini.
Melalui sosialisasi ini, murid diharapkan dapat lebih memahami pentingnya mempersiapkan masa depan dengan baik, termasuk menyelesaikan pendidikan dan membangun kesiapan diri sebelum memasuki jenjang pernikahan.
Kegiatan sanlat kemudian ditutup dengan pembagian takjil kepada masyarakat di sekitar lingkungan sekolah. Dengan prinsip dari murid, oleh murid, dan untuk masyarakat, pada hari terakhir sanlat murid masing-masing membawa bingkisan berupa makanan untuk takjil dari rumah. Di sekolah, makanan dikumpulkan, dipilah, dan kembali didistribusikan oleh murid serta pembimbing sanlat pada titik-titik lokasi yang telah ditentukan. Ba’da Asar, makanan siap diedarkan dan habis terdistribusikan.
Inilah kiranya rangkaian implementasi kegiatan Ramadan. Murid dengan senang hati secara kontekstual melakukan praktik kepedulian sosial di masyarakat. Tidak hanya menumbuhkan kepedulian sosial, berbagai ibadah harian pun dapat terlaksana di sekolah.
Dengan demikian, harapan untuk memperbaiki dan membina karakter murid secara konsisten akan terus berlanjut sehingga murid terus bertumbuh dan memiliki perilaku yang bermartabat. Semoga! ***