
Dina Maryani, S.Pd.
(SMP Negeri 2 Cihampelas)
Peran TKA semakin strategis karena hasilnya dapat digunakan sebagai salah satu syarat masuk SMA melalui jalur prestasi. Di sisi lain, capaian TKA turut menjadi dasar dalam penilaian rapor mutu sekolah. Artinya, keberhasilan siswa tidak hanya berdampak pada masa depan individu, tetapi juga pada reputasi dan kualitas institusi pendidikan.
Tahun 2026 menjadi fase penting bagi siswa kelas 9 SMP Negeri 2 Cihampelas. Mereka bersiap menghadapi Tes Kemampuan Akademik (TKA), sebuah instrumen evaluasi yang kini menjadi tolok ukur kesiapan akademik sebelum melanjutkan pendidikan ke jenjang SMA atau SMK. Berbeda dengan model ujian akhir di masa lalu yang panjang dan melelahkan, TKA dirancang lebih fokus, terstruktur, dan relevan dengan kebutuhan pembelajaran masa kini.
Pelaksanaan TKA berlangsung selama dua hari. Hari pertama dikhususkan untuk mata pelajaran Matematika, sedangkan hari kedua untuk Bahasa Indonesia. Masing-masing mata pelajaran dikerjakan dalam durasi 75 menit. Waktu tersebut memberi ruang bagi siswa untuk membaca soal secara cermat, menganalisis permasalahan, serta menyusun jawaban dengan logika yang runtut. Karakter soal dirancang berbasis Higher Order Thinking Skills (HOTS), sehingga siswa dituntut berpikir kritis dan tidak sekadar mengandalkan hafalan.
Dalam Matematika, siswa dapat menghadapi persoalan kontekstual seperti perhitungan diskon bertingkat dalam simulasi belanja, menghitung kebutuhan keramik lantai tanpa sisa, hingga menganalisis pola bilangan berbasis data. Soal-soal semacam ini menguji ketelitian, kemampuan estimasi, serta kecakapan memecahkan masalah dalam situasi nyata. Sementara pada Bahasa Indonesia, siswa diuji dalam memahami gagasan utama, menyimpulkan isi teks, menafsirkan informasi tersirat, dan menganalisis pesan secara kritis. Ketajaman membaca menjadi kunci utama keberhasilan.
Menariknya, TKA juga menggantikan peran ANBK. Selain dua mata pelajaran utama, terdapat Survei Karakter dan Survei Lingkungan Belajar yang masing-masing berdurasi 20 menit. Survei ini tidak menguji kemampuan akademik, tetapi memotret nilai, kebiasaan belajar, serta kualitas ekosistem pembelajaran di sekolah. Dengan demikian, TKA bukan sekadar mengukur capaian kognitif, tetapi juga menjadi refleksi pembentukan karakter dan mutu pendidikan secara menyeluruh.
Peran TKA semakin strategis karena hasilnya dapat digunakan sebagai salah satu syarat masuk SMA melalui jalur prestasi. Di sisi lain, capaian TKA turut menjadi dasar dalam penilaian rapor mutu sekolah. Artinya, keberhasilan siswa tidak hanya berdampak pada masa depan individu, tetapi juga pada reputasi dan kualitas institusi pendidikan.
Menyikapi tantangan tersebut, SMP Negeri 2 Cihampelas menyiapkan langkah matang dan terencana. Program pemantapan intensif dilaksanakan selama empat minggu dengan jadwal terstruktur. Kegiatan ini berfokus pada penguatan konsep, latihan soal berbasis penalaran, serta pembiasaan manajemen waktu agar siswa terbiasa menyelesaikan soal dalam batas 75 menit. Pendekatan yang digunakan tidak hanya mengejar kuantitas latihan, tetapi juga kedalaman pemahaman.
Sekolah juga menyelenggarakan pemantapan daring bekerja sama dengan lembaga bimbingan belajar Ganesa untuk memperkaya variasi soal dan strategi penyelesaian. Sebanyak 100 siswa turut mengikuti try out se-Kabupaten Bandung Barat sebagai ajang pemetaan kemampuan dan tolok ukur daya saing. Menjelang pelaksanaan, seluruh siswa mengikuti gladi bersih guna membangun kesiapan mental dan teknis.
Bagi SMP Negeri 2 Cihampelas, TKA 2026 bukan sekadar agenda evaluasi tahunan. Ia adalah gerbang baru prestasi ruang pembuktian kesiapan akademik, penguatan karakter, dan refleksi mutu sekolah. Dengan persiapan matang, dukungan guru, serta semangat belajar yang konsisten, siswa melangkah lebih percaya diri menyongsong masa depan.