Dr. H. Rustiyana, ST., MT., M.Pd., M.A.P
(Sekretaris Dinas Pendidikan Kab. Bandung Barat)
Mewujudkan pemerataan pendidikan teknologi di negara kepulauan seluas Indonesia adalah tugas raksasa. Naskah Akademik secara jujur memotret realitas ketimpangan infrastruktur digital yang masih menganga. Ada sekolah di kota besar dengan laboratorium komputer super canggih, sementara di pelosok masih ada sekolah yang berjuang dengan ketersediaan listrik dan sinyal internet. Namun, dokumen tersebut tidak berhenti pada keluhan, melainkan menawarkan peta jalan solusi yang adaptif dan bertahap.
Tantangan pertama dan paling nyata adalah ketersediaan perangkat keras (hardware). Rasio komputer dibanding siswa di banyak daerah masih sangat rendah. Solusi jangka pendek yang ditawarkan adalah optimalisasi perangkat yang ada melalui konsep “Pusat Sumber Belajar”. Sekolah yang memiliki fasilitas lebih lengkap di suatu kecamatan didorong untuk menjadi hub atau sekolah inti, di mana sekolah-sekolah di sekitarnya bisa datang menggunakan laboratorium secara bergilir. Semangat gotong royong ini menjadi kunci efisiensi sumber daya.
Tantangan kedua adalah koneksi internet. Kurikulum ini dirancang dengan kesadaran bahwa Indonesia belum sepenuhnya terjangkau jaringan fiber optic. Oleh karena itu, materi pembelajaran dan perangkat lunak koding didorong untuk bisa berjalan secara offline. Pemerintah dan pengembang modul menyediakan aplikasi yang bisa diunduh sekali di tempat yang ada sinyal, lalu digunakan seterusnya tanpa koneksi internet. Ini memastikan proses belajar di daerah 3T tidak terhenti hanya karena sinyal hilang.
Solusi paling inovatif dan strategis untuk mengatasi ketiadaan komputer adalah metode CS Unplugged (Computer Science tanpa komputer). Ini adalah pendekatan pedagogis yang valid dan diakui secara global. Guru mengajarkan konsep logika, algoritma, dan sistem bilangan biner menggunakan alat peraga fisik seperti kartu, tali, atau permainan gerak tubuh. Siswa tetap mendapatkan esensi cara berpikir komputasional yang kuat, yang nantinya bisa dengan mudah ditransfer ke komputer saat fasilitas sudah tersedia.
Selanjutnya, strategi Bring Your Own Device (BYOD) didorong dengan bijak. Data menunjukkan bahwa penetrasi telepon pintar (smartphone) di Indonesia jauh lebih tinggi daripada komputer. Oleh karena itu, pembelajaran koding tidak lagi terpaku pada PC desktop. Kurikulum merekomendasikan penggunaan aplikasi koding berbasis blok yang ringan dan bisa berjalan di HP siswa. Ponsel yang biasanya hanya dipakai untuk media sosial, kini diubah fungsinya menjadi alat belajar pemrograman.
Masalah spesifikasi perangkat juga diantisipasi. Aplikasi koding modern kini banyak yang berbasis web (cloud-based) dan tidak membutuhkan spesifikasi komputer tinggi. Laptop tua atau Chromebook murah pun sudah cukup untuk menjalankan editor kode dasar. Hal ini menurunkan hambatan biaya pengadaan perangkat bagi sekolah maupun orang tua, sehingga fokus anggaran bisa dialihkan untuk pelatihan guru atau perbaikan jaringan listrik.
Dukungan pemerintah daerah dan sektor swasta melalui dana CSR (Corporate Social Responsibility) juga menjadi pilar solusi. Sekolah didorong untuk menjalin kemitraan dengan perusahaan lokal untuk pengadaan alat. Selain itu, alokasi dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) kini memberikan fleksibilitas lebih untuk digitalisasi sekolah. Kepala sekolah memiliki otonomi untuk memprioritaskan anggaran demi kebutuhan teknologi yang mendesak.
Tantangan sumber daya manusia (SDM) teknisi juga sering terlupakan. Banyak sekolah punya komputer, tapi rusak dan tidak ada yang bisa memperbaikinya. Solusinya adalah memberdayakan siswa SMK jurusan TKJ (Teknik Komputer Jaringan) untuk melakukan perawatan berkala di sekolah-sekolah SD dan SMP sekitarnya sebagai bagian dari praktik kerja mereka. Ini adalah simbiosis mutualisme yang menyelesaikan masalah teknis sekaligus memberi pengalaman nyata bagi siswa SMK.
Perubahan pola pikir (mindset) juga menjadi bagian dari solusi. Sering kali hambatan terbesar bukan pada alatnya, melainkan pada ketakutan guru atau kepala sekolah untuk menggunakan alat tersebut karena takut rusak. Pelatihan dan pendampingan dilakukan untuk memberi rasa aman dan percaya diri kepada warga sekolah bahwa perangkat teknologi adalah alat kerja yang wajar mengalami keausan, dan yang terpenting adalah manfaat pembelajarannya.
Pada akhirnya, keterbatasan infrastruktur tidak boleh menjadi alasan untuk menunda pendidikan masa depan. Dengan kombinasi metode unplugged, optimalisasi gawai pribadi, kerja sama antar-sekolah, dan materi yang ramah spesifikasi rendah, Indonesia bisa tetap melangkah maju. Kita membangun jembatan digital ini sambil berjalan; tidak perlu menunggu jembatannya sempurna dulu baru kita mulai menyeberang. ***
