KURIKULUM

 


Dadang A. Sapardan
(Kabid Kurikulum & Bahasa, Disdik Kab. Bandung Barat)

Dalam perjalanan ke kantor, tiba-tiba telepon berdering. Setelah dilihat ternyata panggilan dari seorang teman yang bekerja di Kemendikbud. Telepon langsung diangkat. Dari seberang sana Sang teman membuka percakapan dengan bertanya kabar, karena sudah cukup sekian lama tidak bertegur sapa apalagi bersua. Di tengah percakapan, Sang teman mengungkapkan maksudnya, mengajak untuk mengkuti uji publik terkait dengan kurikulum. Ajakan itu cukup menantang karena sudah sekian lama tidak banyak menyelami lebih dalam tentang fenomena per-kurikulum-an saat ini. Dari moment ini dimungkinkan saya “dipaksa” untuk menelaah lebih dalam tentang kurikulum dalam konteks operasional.

Istilah kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) sampai saat ini sudah menjadi makanan keseharian banyak orang yang bergelut dengan dunia pendidikan. Bisa jadi, kata itu begitu familiar sehingga menjadi kata biasa yang rutin digunakan dalam dinamika pengelolaan pendidikan. Namun demikian, tidak semua warga sekolah memahami lebih dalam tentang kata tersebut. Itu dimungkinkan karena keterbatasan yang dimilikinya.

Dari sisi pemaknaan, kurikulum merupakan seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Implementasi dari pemaknaan di atas—mengacu terhadap kebijakan yang diterapkan Kemendikbud sejak beberapa tahun ke belakang—pada setiap satuan pendidikan harus terdokumentasikan satu bundel KTSP yang memuat berbagai program kurikuler. KTSP inilah yang menjadi acuan dari setiap kepala sekolah dan guru serta stakeholder sekolah lainnya dalam dalam memutar roda kurikuler atau pembelajaran.

KTSP merupakan implementasi desentralisasi pendidikan yang memberi ruang dengan begitu luas pada sekolah untuk berkreasi dan berinovasi dalam merancang rencana pengembangan sekolah, terutama terkait dengan rencana pembelajaran. Dengan demikian, KTSP menjadi dokumen khas sekolah yang berisi tentang program kurikuler. Tentunya, program kurikuler yang diselenggarakannya harus program yang linier dengan karakteristik ekosistem sekolah masing-masing.

Menelaah pada kebijakan implementasinya, kemasan program kurikuler yang terdeskripsikan dalam KTSP memuat tiga kelompok kegiatan, yaitu: intrakurikuler, kokurikuler, ekstrakurikuler. Ketiga kelompok kegiatan kurikuler itulah yang harus diramu oleh sekolah, sehingga menjadi sarana efektif dan efisien dalam penyelenggaraan pembelajaran.

Permasalahan yang sering terjadi dalam kaitan dengan penyusunan KTSP sampai saat ini adalah keengganan sekolah untuk berkreasi dan berinovasi dalam penyusunannya. Dengan demikian, KTSP yang disusun bisa jadi merupakan copy paste dari KTSP tahun sebelumnya. Dengan kenyataan tersebut, tertutup kemungkinan berbagai program kretif dan inovatif terbaru untuk dapat terfasilitasi. Bahkan lebih parah lagi, KTSP yang tersusun merupakan copy paste dari sekolah lainnya yang jelas-jelas memiliki karakteristik berbeda.
Sejatinya, KTSP merupakan dokumen khas sekolah. Mengacu pada gagasan Ki Hajar Dewantara, pendidikan pada sekolah sudah berlangsung ketika terjadi penyatu-paduan tiga pusat pembelajaran, yaitu: dunia rumah/masyarakat, dunia pengajaran/sekolah, serta dunia anak/siswa. Ketika belum terjadi sinergitas di antara ketiga tripusat pembelajaran tersebut, maka keberlangsung pendidikan pada sekolah tersebut belum terjadi. Karena itu, langkah yang harus dilakukan adalah mensinergiskan ketiga dunia kehidupan tersebut sehingga terbentuk sebuah harmoni. Jembatan yang menjadi penghubung di antara ketiganya adalah kurikulum yang disusun oleh sekolah. Untuk itulah, KTSP harus benar-benar menjadi produk perencanaan pembelajaran yang dilandasi oleh kajian mendalam tentang karakteristik eksosistem sekolah dan ekosistem luar sekolah.

KTSP harus memainkan peran sebagai menjadi jembatan penghubung dialogis dan refleksi lintas generasi—nilai karakter masyarakat (dewasa) dengan nilai dan karakter siswa (generasi muda). ****Disdikkbb-DasARSS.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *