
Oleh: Dra. Hj. N. Mimin Rukmini, M.Pd
(Kepala SMP Negeri 3 Cililin)
Menarik sekali pertanyaan H. Agus Idris kepada peserta ketika penulis mengikuti diseminasi paparan Pembelajaran Mendalam (PM). Pertanyaan itu tentang binatang apa yang selama ini menjadi raja hutan. Para peserta dengan semangat menjawab bahwa yang menjadi raja hutan adalah singa atau harimau. Pak Yukyuk salah satu peserta menjawab bahwa Beliau menganggap raja hutan adalah gajah. Badan gajah lebih besar, bisa jadi gajah mengalahkan harimau.
Pertanyaan ini pun penulis kemukakan ketika diseminasi PM di sekolah. Guru-guru dengan jawaban dan pola pikir yang sama seperti jawaban di atas, bahwa raja hutan adalah harimau. Ini menandakan bahwa pola pikir tentang raja hutan adalah tetap dan kita berada di zona nyaman. Kecuali Pak Yukyuk tadi berani menjawab dan memberikan alasan yang berbeda.
Ilustrasi pola pikir yang tidak growth mindset tersebut jika diterapkan pada PM, PM tidak akan berkembang dan terimplementasikan dengan baik. Sebaliknya, jika guru dan steakholder memandang bahwa PM adalah terobosan pembelajaran luar biasa dan dilaksanakan dengan keluar dari zona nyaman dipastikan PM akan terlaksana secara holistik dan super baik.
PM sebagaimana Permendikdasmen Nomor 13 Tahun 2025 adalah sebuah pendekatan yang berfokus pada penciptaan suasana belajar dan proses pembelajaran yang sadar, bermakna, dan menyenangkan secara holistik melalui pengolahan pikir, hati, rasa, dan raga. Pendekatan ini menekankan pada pengembangan keterampilan berpikir kritis, kreativitas, kolaborasi, komunikasi, kemandirian, kewargaan, serta keimanan dan ketakwaan. Untuk memudahkan konsep PM dikenal pula sebutan paket 8-3-3-4.
Paket 8 merupakan sebutan untuk delapan profil lulusan, yakni; 1) beriman dan bertakwa pada Tuhan Yang Maha Esa; 2) bernalar kritis; 3) kreatif; 4) kolaboratif; 5) kewargaan; 6) mandiri; 7) kesehatan; dan 8) komunikatif. Tiga (3) paket pertama, berupa prinsip PM, yakni terdiri atas, satu berkesadaran (meanful learning). Dua, bermakna (mainingful learning), dan tiga pembelajaran menyenangkan (joyful learning).
Tiga (3) paket kedua adalah pengalaman belajar. Pengalaman belajar dalam PM tahapannya siswa dituntut untuk memahami, menerapkan, dan merefleksikan hasil pembelajaran. Adapun paket 4 mencerminkan kerangka pembelajaran yang terdiri atas 1) praktik pedagogik, 2) kemitraan pembelajaran, 3) media digital, dan 4) lingkungan pembelajaran.
Penulis yakin, guru dalam pembelajaran selama ini secara sadar atau tidak, langsung atau tidak langsung menyeluruh atau tidak, telah melaksanakan apa yang disebut PM. Dengan dikemasnya PM melalui kebijakan tidak berarti menjadi batu sandungan guru untuk terus menjadi guru hebat. Sebaliknya, guru memiliki growth mindset untuk senantiasa keluar dari kebiasaan dan zona nyaman. Tidak seperti ilustrasi dengan jawaban raja hutan di atas.
Oleh karena itu, demi terlaksananya PM, kiranya growth mindset dan peran guru yang perlu dilakukan adalah sebagai berikut.
Pertama, guru sejatinya terus kreatif menciptakan pembelajaran yang inovatif. Melalui PM-lah pengalaman nyata pembelajaran dengan pola 8-3-3-4 akan tercapai. Pembelajaran tidak lagi hanya sekadar mencari hasil pada akhir, tetapi menciptakan proses pembelajaran yang berkesadaran, bermakna, dan menyenangkan. Dengan demikian, pembelajaran yang berpusat pada siswa, kuncinya tetap ada pada guru sebagai kunci pelaksana pembelajaran. Keberadaan dan kreativitas guru tidak tergantikan oleh teknologi digital sekali pun.
Kedua, guru senantiasa menjadi pendorong dan pelayan anak selama dalam pembelajaran di sekolah. Artinya, sebagus apapun kebijakan pemerintah dalam PM, jika guru tidak berkesadaran membangun, memahami, dan menerapkan konsep PM, hasil pembelajaran akan tetap jauh dari harapan. Umpamanya saja, membangun dan menyadarkan siswa untuk berpikir kritis dalam diskusi, tanpa didorong dan didampingi guru, pembelajaran akan tetap tidak atau belum menyenangkan.
Ketiga, guru terus belajar secara konsisten. Belajar sedikit demi sedikit, dengan prinsip pelan, tetapi pasti bisa. Artinya, guru senantiasa berpikiran terbuka. Mau menerima dengan lapang dada perubahan paradigma dalam pendidikan. Lebih jauh, tidak bersifat arogan, sebaliknya tetap santun dan menjadi teladan bagi para siswa dan lingkungan sekitar.
Terakhir, guru yang berperan dan memosisikan diri jadi guru sejati. Artinya, guru yang terus menggali potensi siswa baik dalam kegiatan intrakurikuler, ekstrakurikuler, maupun kokurikuler dengan segala keberadaan dan keberagaman potensi siswa tersebut. Guru yakin, semua siswa dipastikan memiliki potensi dan kompetensi yang beragam.
Pelaksanaan PM yang tidak asal menggugurkan kewajiban, adalah jalan menuju perbaikan pendidikan secara holistik. Menyeluruh, baik pada aspek kompetensi, karakter, maupun pada aspek keterampilan siswa sehingga mewujud pada delapan profil lulusan. Semoga! ***