Skip to content

Dinas Pendidikan Kabupaten Bandung Barat

Primary Menu
  • Beranda
  • Tentang Kami
    • Tujuan Dinas Pendidikan
    • Struktur Organisasi
    • Pejabat Struktural Dinas Pendidikan
    • Tupoksi
    • Kontak Kami
    • Visi Misi & Moto
    • Maklumat Pelayanan
  • Statistik
    • Neraca Pendidikan 2016
    • Neraca Pendidikan 2017
    • Neraca Pendidikan 2018
    • Neraca Pendidikan 2019
    • Neraca Pendidikan 2020
    • Neraca Pendidikan 2021
  • Produk Hukum
  • Download
    • Library Document
    • Ebook
  • SAKIP
    • Renstra Disdik 2018-2023
    • IKU 2022
    • Perjanjian Kinerja Pejabat Eselon 2022
    • RKT Tahun 2021
  • Gallery Photo
  • Standar Pelayanan
  • PPPK
    • PPPK 2022
    • PPPK 2023
  • Portal Layanan
    • Portal Pelayanan
    • Portal Pengaduan
    • PETADIK
  • Publikasi
    • Majalah Kinanti
    • Podcast Bisa Cerdas
  • Home
  • Artikel Populer
  • Menciptakan Kelas yang Merayakan Kesalahan: Aneh Tapi Efektif
  • Artikel Populer

Menciptakan Kelas yang Merayakan Kesalahan: Aneh Tapi Efektif

bidangsmp 7 January 2026

Dr. H. Rustiyana, ST., MT., M.Pd., M.A.P
(Sekretaris Dinas Pendidikan Kab. Bandung Barat)

 

Bayangkan sebuah ruang kelas di mana siswa tidak takut tunjuk jari meski belum yakin dengan jawabannya. Bayangkan suasana di mana ketika seorang siswa salah menjawab soal di papan tulis, teman-temannya tidak menertawakan, melainkan berdiskusi bersama untuk menemukan letak kekeliruannya dengan antusias. Terdengar utopis? Sebenarnya tidak. Konsep ini disebut sebagai budaya “merayakan kesalahan”, sebuah pendekatan yang terdengar aneh namun sangat efektif dalam dunia pendidikan modern.

Mengubah Cara Pandang Terhadap Kesalahan

Selama puluhan tahun, sistem pendidikan konvensional secara tidak sadar mendidik siswa untuk takut pada kesalahan. Tinta merah di kertas ujian, tatapan tajam guru saat jawaban melenceng, hingga sorakan teman sekelas menciptakan trauma kecil yang membungkam rasa ingin tahu. Padahal, secara neurologis, otak justru berkembang paling pesat saat kita melakukan kesalahan dan berusaha memperbaikinya.

Kesalahan sebenarnya adalah data. Bagi seorang ilmuwan, kesalahan dalam eksperimen adalah informasi berharga yang memberi tahu jalan mana yang tidak berhasil. Di dalam kelas, kita perlu menanamkan pola pikir serupa. Kesalahan bukan tanda kebodohan, melainkan bukti bahwa siswa sedang berproses menuju pemahaman yang lebih dalam. Tanpa kesalahan, artinya siswa hanya mengerjakan hal-hal yang sudah mereka kuasai, dan itu berarti tidak ada pembelajaran baru yang terjadi.

Ritual “Kesalahan Terbaik Hari Ini”

Bagaimana cara memulainya? Guru bisa memulai dengan ritual sederhana seperti sesi “Kesalahan Terbaik Hari Ini”. Di akhir pelajaran, guru bisa meminta siswa berbagi satu kesalahan yang mereka buat hari itu dan apa yang mereka pelajari darinya. Kegiatan ini menormalisasi ketidaksempurnaan dan mengubah rasa malu menjadi kebanggaan atas pembelajaran.

Ketika kesalahan dirayakan, tekanan psikologis di dalam kelas menurun drastis. Siswa yang tadinya pasif karena takut salah (“lebih baik diam daripada ditertawakan”) mulai berani berpartisipasi. Mereka merasa aman secara psikologis (psychological safety). Rasa aman inilah syarat mutlak agar proses berpikir kritis dan kreatif bisa muncul.

Peran Guru sebagai Model Ketidaksempurnaan

Guru memegang peran kunci dalam skenario ini. Guru tidak boleh tampil sebagai “dewa serba tahu” yang anti-salah. Sesekali, guru perlu mengakui kesalahannya di depan kelas dengan elegan. Misalnya, “Maaf, Bapak salah hitung di bagian ini. Terima kasih sudah mengoreksi. Mari kita cari tahu di mana letak kelirunya.”

Sikap guru yang terbuka terhadap koreksi mengajarkan siswa tentang kerendahan hati dan integritas. Siswa melihat bahwa orang dewasa pun bisa salah dan itu bukanlah akhir dunia. Ini memangkas jarak antara guru dan siswa, membuat interaksi belajar menjadi lebih manusiawi dan kolaboratif. Guru menjadi mitra belajar, bukan sekadar hakim yang memegang palu nilai.

Dampak Jangka Panjang

Kelas yang merayakan kesalahan akan melahirkan siswa-siswa yang inovatif. Inovasi membutuhkan keberanian untuk mencoba hal baru yang berisiko gagal. Jika sejak sekolah mereka sudah dihukum karena salah, mereka akan tumbuh menjadi orang dewasa yang cari aman dan miskin kreativitas. Sebaliknya, pembiasaan ini akan melahirkan mentalitas resiliensi atau daya lenting yang kuat.

Menciptakan budaya ini memang butuh waktu dan konsistensi. Mungkin awalnya terasa canggung merayakan jawaban yang salah. Namun, ketika kita melihat mata siswa berbinar karena mereka akhirnya paham mengapa mereka salah, bukan sekadar menghafal jawaban yang benar, di situlah kita tahu bahwa pendidikan yang sesungguhnya sedang terjadi. Mari kita ubah “Awas kalau salah!” menjadi “Wah, kesalahan yang menarik, ayo kita bedah!”. ***

Total Views: 309

Continue Reading

Previous: Menyongsong Indonesia Emas 2045: Peran Koding dalam Mencetak SDM Unggul
Next: Waspada Deep Fake: Pentingnya Literasi Etika AI Sejak Dini

Related Stories

Dina maryani
  • Artikel Populer

Strategi SMP Negeri 2 Cihampelas Menyambut TKA 2026

bidangsmp 18 February 2026
sekdis1
  • Artikel Populer

Kekuatan Kata “Belum”: Mengubah Frustrasi Siswa Menjadi Motivasi

bidangsmp 12 February 2026
Cuplikan layar 2026-02-10 204544
  • Artikel Populer

Dinamika Proses Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah: Studi Kasus di Pemda Kabupaten Bandung Barat

bidangsmp 10 February 2026

Tautan

  • Log in
  • Entries feed
  • Comments feed
  • WordPress.org

हाल के पोस्ट

  • Simfoni Rasa dan Budaya Nusantara: Penguatan Karakter melalui Pembelajaran Kokurikuler Lintas Disiplin Ilmu di Kelas IX SMPN 1 Cihampelas
  • Strategi SMP Negeri 2 Cihampelas Menyambut TKA 2026
  • Ketua MKKS SMP KBB Dorong Satuan Pendidikan Tingkatkan Prestasi Warga Sekolah
  • SMPN 2 Cipongkor Berjaya di ITN Open IX–Kejuaraan Taekwondo Jawa Barat 2026
  • Pelaksanaan Pembelajaran Bulan Suci Ramadhan 1447 H

हाल की टिप्पणियां

  1. bidangsmp on Teknik Pembelajaran Sosial-Emosional
  2. NeptunBahis Giris on Peran Guru Penggerak dalam Menggerakkan Komunitas Praktisi di Sekolah
  3. Yuli on Sambut Tahun Pelajaran 2023/2024, MKKS SR 01 SMP KBB Gelar Workshop IKM
  4. N. Mimin Rukmini on Guru Penggerak Angkatan 7 KBB Terbitkan Buku “Mereka yang Merrdeka”
  5. N. Mimin Rukmini on SMPN 2 Cikalongwetan Rebut Juara Umum GEFUC-2nd

अभिलेखागार

  • February 2026
  • January 2026
  • December 2025
  • November 2025
  • October 2025
  • September 2025
  • August 2025
  • July 2025
  • June 2025
  • May 2025
  • April 2025
  • March 2025
  • February 2025
  • January 2025
  • December 2024
  • November 2024
  • October 2024
  • September 2024
  • August 2024
  • July 2024
  • June 2024
  • May 2024
  • April 2024
  • March 2024
  • February 2024
  • January 2024
  • December 2023
  • November 2023
  • October 2023
  • September 2023
  • August 2023
  • April 2023
  • March 2023
  • November 2022
  • May 2021
  • April 2021
  • March 2021
  • November 2020
  • October 2018
  • March 2018

श्रेणियाँ

  • Artikel Populer
  • Berita
  • Edaran
  • Opini
  • PPPK 2022
  • PPPK 2023
  • Sastra
  • Tak Berkategori

You may have missed

Gambar1
  • Berita

Simfoni Rasa dan Budaya Nusantara: Penguatan Karakter melalui Pembelajaran Kokurikuler Lintas Disiplin Ilmu di Kelas IX SMPN 1 Cihampelas

bidangsmp 19 February 2026
Dina maryani
  • Artikel Populer

Strategi SMP Negeri 2 Cihampelas Menyambut TKA 2026

bidangsmp 18 February 2026
SUHARTONO1
  • Berita

Ketua MKKS SMP KBB Dorong Satuan Pendidikan Tingkatkan Prestasi Warga Sekolah

bidangsmp 17 February 2026
WhatsApp Image 2026-02-16 at 18.11.08
  • Berita

SMPN 2 Cipongkor Berjaya di ITN Open IX–Kejuaraan Taekwondo Jawa Barat 2026

bidangsmp 17 February 2026
Copyright © All rights reserved. | MoreNews by AF themes.