
Oleh: Dra. Hj. N. Mimin Rukmini, M.Pd
(Kepala SMP Negeri 3 Cililin)
Peringatan Hari Kartini menjadi momentum refleksi bagaimana keberadaan kiprah dan martabat perempuan Era Digital saat ini. Sebut saja Kartini Era Digital karena berharap perempuan saat ini memiliki pemikiran yang selaras dengan nilai-nilai pemikiran RA Kartini saat itu.
Pemikiran RA Kartini sekitar tahun 1900-an jauh melampaui batas pemikiran perempuan zaman Hindia Belanda saat itu. Hal tersebut dibuktikan dengan surat-surat RA Kartini kepada sahabat- sahabatnya di Belanda, ikhwal cita-cita dan harapan bagaimana perempuan Jawa ingin ada kesejajaran dengan kaum laki-laki dalam hal pendidikan dan kekesetaraan kerja atau pun kehidupan.
Pada akhirnya surat-surat RA Kartini walau Beliau sudah wafat tahun 1904, dikumpulkan menjadi buku dengan judul “Habis Gelap Terbitlah Terang”. Makna dari judul tersebut menandakan setelah adanya kegelapan bagaimana RA Kartini berjuang tentang emansipasi wanita, pastikan akan datang cahaya terang atau suksesnya kaum perempuan yang setara dengan kaum laki-laki.
Demikian pun saat di Era Digital ini, terbukti kita telah mendengar dan merasakan bagaimana perempuan- perempuan tangguh Indonesia (Kartini Era Digital) sukses di panggung dunia. Sebut saja Sri Mulyani Mantan Menkeu, siswi-siswi SMA tahun 2026 yang diterima di beberapa perguruan tinggi ternama dunia. Salah satunya Saskia Zahra diterima di kampus terbaik Kanada. Tilawah Quran International Erin Zelia Nawawi (2023), dan sebagainya yang menandakan bahwa Kartini di Era Digital pendidikan, dan kehidupan mereka telah sejajar dengan kaum laki-laki pada umumnya.
Di balik keberhasilan dan kesuksesan perempuan di zaman ini, tetap bahwa perempuan memegang peranan penting untuk mempertahankan dan menguatkan karakter dan kepribadian atau harkat dan martabat sebagai seorang perempuan. Perempuan dengan kesederhanaan dalam bertingkah laku, berpenampilan, sopan dan santun. Termasuk saat menggunakan media sosial.
Oleh karena itu dapat penulis paparkan beberapa langkah agar Kartini Era Digital tetap menjadi perempuan hebat dan bermartabat, yakni
Pertama, tidak bergaya hidup mewah.
Sebagaimana RA Kartini walau anak pejabat saat itu, Beliau tetap memiliki gaya hidup sederhana.
Dua, terus belajar dan berkarya secara konsisten sehingga perempuan sejajar dengan kaum laki-laki.
Tiga peduli lingkungan, baik lingkungan alam, sosial, budaya, pendidikan, dan sebagainya. Misalnya saja peduli lingkungan alam terdekat, peduli sampah, kebersihan rumah, dan lingkungan sekitar.
Terakhir memupuk rasa kasih dan sayang. Memupuk rasa kasih sayang adalah harkat dan martabat perempuan yang paling utama. Dari rasa kasih sayang inilah, perempuan belajar menjadi ibu, belajar bahwa generasi tangguh akan terlahir dari ibu dan perempuan hebat dan tangguh pula.
Tak ada manusia yang sempurna, sebagai perempuan atau Kartini Era Digital tetap perlu bekerja sama bahu membahu dengan kaum laki-laki. Dalam kolaborasi tersebut Kartini Era Digital sama-sama memiliki kebanggaan terhadap diri sendiri, keluarga, negara, dan bangsanya. Semoga!