
Parongpong, KBB-SMP Negeri 3 Parongpong kembali meneguhkan komitmennya sebagai institusi pendidikan berwawasan lingkungan dengan mengukuhkan Duta Adiwiyata 2026. Melalui proses seleksi ketat, terpilih 2 perwakilan terbaik dari setiap kelas yang dipersiapkan menjadi motor penggerak pelestarian alam di lingkungan sekolah.
Sebelum dikukuhkan, para duta terpilih mendapatkan pembekalan intensif mengenai lima aspek penting lingkungan hidup, yaitu: pengelolaan sampah, pemeliharaan drainase, penanaman dan pemeliharaan pohon/tanaman, konservasi air, serta konservasi energi. Pembekalan ini bertujuan agar setiap duta memiliki landasan teori yang kuat sebelum terjun langsung ke lapangan.
Demikian disampaikan, Kepala SMPN 3 Parongpong, Nani Sulyani. Pihaknya menekankan pentingnya karakter dalam menjaga alam.
“Duta Adiwiyata ini adalah pionir. Kami ingin menumbuhkan KEKESEK (Keyakinan Kebersihan) yang mendarah daging pada setiap warga sekolah. Bukan hanya soal estetika, tapi bagaimana kebersihan menjadi keyakinan batin yang melahirkan aksi nyata tanpa perlu diperintah,” ujarnya.
Lebih jauh disampaikan, dalam kegiatan di atas, sekolah turut mensosialisasikan deretan program inovatif yang menjadi identitas kuat SMPN 3 Parongpong dalam menjaga kelestarian alam, seperti SEHATI yang menggalakkan penggunaan tumbler dan misting guna menekan sampah plastik, serta SAMTAKU (Sampahku Tanggung Jawabku) untuk menanamkan kemandirian siswa dalam mengelola sampah pribadi.
“Selain itu, semangat kolaboratif juga diwujudkan melalui aksi RESIK dan NIKREUH, sebuah program pembersihan lingkungan dan jalan santai sambil memungut sampah yang merepresentasikan kepedulian nyata seluruh warga sekolah terhadap lingkungan secara mandiri dan berkelanjutan,” imbuhnya.
Sementara itu, Ketua Tim Adiwiyata SMPN 3 Parongpong, Indri Wendiyana menjelaskan bahwa peran dua orang perwakilan kelas ini sangat strategis.
“Mereka memegang tongkat estafet program SAMTAKU di level kelas. Dengan pembekalan ini, mereka siap menjadi teladan bagi rekan-rekannya,” jelasnya.
Ditandaskannya, kegiatan pengukuhan ditutup dengan aksi lapangan yang edukatif. Para duta mempraktikkan langsung pemilahan sampah menggunakan metode 5S (Seiri, Seiton, Seiso, Seiketsu, Shitsuke), metode ini bukan sekadar tentang “bersih-bersih”, melainkan tentang perubahan pola pikir.
“Dengan menerapkan 5S, lingkungan sekolah menjadi lebih efektif, tingkat stres berkurang, dan kenyamanan belajar meningkat drastis. Selain itu, siswa juga diajak untuk melakukan pengomposan sederhana dalam mengolah limbah organik sekolah. Tidak hanya di dalam pagar sekolah, para siswa juga melakukan kampanye lingkungan kepada warga sekitar, mengajak masyarakat untuk bersama-sama menjaga kelestarian alam secara mandiri dan berkelanjutan,” tandasnya. ***