Akomodasi Gaya Belajar Siswa dengan CANVA

Oleh: Endang Wahyu Widiasari, M.Pd
(SMP Negeri 4 Cikalongwetan)

Ki Hajar Dewantara (KHD) memberikan pemikiran tentang dasar-dasar Pendidikan. Menurut KHD, pendidikan bertujuan untuk menuntun segala kodrat yang ada pada anak-anak, agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya.

Pendidik  hanya dapat menuntun tumbuh atau hidupnya kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak, agar dapat memperbaiki lakunya (bukan dasarnya) hidup dan tumbuhnya kekuatan kodrat anak.

Setiap anak terlahir dengan keunikan masing masing, mereka memiliki minat, gaya belajar, dan kesiapan belajar yang berbeda-beda. Kemampuan anak dalam mencerna pembelajaran pun tidak sama.

Melihat keunikan yang dimiliki oleh setiap anak, sebagai guru harus mampu merancang pembelajaran yang dapat mengakomodasi kebutuhan siswa, agar setiap siswa dapat mengembangkan potensinya sesuai dengan gaya belajar yang mereka miliki.

Pembelajaran berdiferensiasi merupakan salah satu strategi yang digunakan untuk mengakomodasi minat dan gaya belajar siswa yang beragam.

Pembelajaran berdiferensiasi adalah pembelajaran yang mengakomodasi kebutuhan belajar siswa, sehingga semua siswa dapat mengembangkan potensi yang dimilikinya sesuai dengan gaya belajar yang dimiliki.

Untuk melaksanakan pembelajaran berdiferensiasi guru harus membuat pemetaan kebutuhan belajar berdasarkan tiga aspek, yaitu: kesiapan belajar, minat belajar, dan profil belajar siswa hal ini bisa dilakukan dengan cara wawancara, observasi, atau survey menggunakan angket, dll.

Setelah itu membuat perencanaan pembelajaran berdiferensiasi berdasarkan hasil pemetaan. Pembelajaran berdiferensiasi dapat disajikan dalam konten materi, proses pembelajaran dan produk yang dihasilkan pada akhir pembelajaran.

Dari hasil pemetaan di atas dapat diketahui, ada siswa dengan gaya belajar visual, maka diberikan media pembelajaran berupa gambar dan bahan bacaan melalui bahan ajar.

Siswa dengan gaya belajar kinestetik diberi tugas merancang percobaan sederhana, sedangkan siswa yang memiliki gaya belajar audio diberikan tayangan video.

Pada pembeoajaran kali ini, penulis mengangkat topik kondisi lingkungan sekitar tempat terkait, yakni pencemaran lingkungan dengan tujuan untuk menumbuhkan rasa cinta terhadap lingkungan.

Siswa disajikan beberapa permasalahan terkait kondisi kerusakan lingkungan di sekitar tempat tinggal. Kemudian dari permasalahan tersebut, siswa berdiskusi dengan kelompoknya untuk mengatasi permasalahan yang disajikan.

Hasil diskusi dituangkan dalam bentuk produk.
Produk yang dihasilkan di akhir pembelajaran disesuaikan dengan minat dan gaya belajar siswa tentunya dengan konten materi yang sudah ditentukan.

Siswa dibebaskan menuangkan kreativitas hasil belajar nya sesuai dengan gaya dan minatnya.

Siswa dapat menuangkan hasil belajarnya dalam bentuk karya tulis, Powerpoint, video, poster maupun bentuk yang lain sesuai dengan gaya belajarnya. Adapun media yang digunakan adalah media Canva, yang menurut hemat penulis dapat mewadahi keberagaman gaya dan minat belajar siswa.

Dalam media Canva terdapat fitur-fitur yang beraneka ragam yang menarik, dan dapat mengakomodir gaya belajar siswa, dalam canva juga antara anak yang satu dengan anak yang lainnya dapat berkolaborasi untuk menyelesaikan tugas-tugas yang harus diselesaikan.

Selain itu, dengan menggunakan media Canva menjadi salah satu cara memperkenalkan kepada anak dalam hal literasi digital, yang merupakan salah satu kecakapan yang dimiliki oleh anak dalam kecakapan abad 21, yang di dalamnya terdiri dari keterampilan berpikir kreatif, berpikir kritis dan pemecahan masalah, berkomunikasi dan berkolaborasi atau yang dikenal dengan 4C harus dimiliki oleh peserta didik di Indonesia.

Produk yang dihasilkan oleh siswa di akhir pembelajaran beraneka ragam sesuai dengan gaya dan minat belajar siswa. Ada siswa yang membuat poster, membuat karya tulis sederhana berdasarkan hasil pengamatan lingkungan, pantun, dan ada juga yang membuat video sederhana tentang kerusakan lingkungan hidup.

Dalam proses kegiatan pembelajaran terlihat siswa sangat senang dan antusias mengikuti pembelajaran, siswa dalam kelompoknya juga bergotong royong dalam menyelesaikan tugas yang diberikan.

Pada kegiatan pembelajaran ini juga penulis menggunakan tutor sebaya di mana siswa yang sudah lebih paham terlebih dahulu menggunakan Canva dijadikan tutor dalam kelompoknya. Hal ini memudahkan siswa dalam belajar. Mereka dapat leluasa bertanya kepada temannya sebelum bertanya kepada guru.

Di akhir kegiatan pembelajaran, diadakan kegiatan refleksi. Adapun respon siswa terhadap pembelajaran berdiferensiasi dengan menggunakan Canva ini adalah: mereka dapat memilih aneka ragam fitur-fitur di dalam media Canva secara gratis, lebih kreatif dalam menyajikan hasil karyanya.

Pembelajaran berdiferensiasi dengan menggunakan media Canva ini menurut hemat penulis sesuai dengan konsep pemikiran KHD yang dapat mengakomodasi keberagaman siswa, sesuai dengan kodrat zaman sekarang ini, di mana siswa harus dibekali dengan keterampilan abad 21.

Selain itu, pembelajaran tersebut juga memuat penguatan literasi, dan tak kalah pentingnya adalah pendidikan budi pekerti untuk terwujudnya Profil Pelajar Pancasila, yaitu pelajar sepanjang hayat yang memiliki kompetensi global dan berperilaku sesuai dengan nilai-nilai Pancasila.

IDemikian, salah satu kegiatan pembelajaran berdiferensiasi yang pernah penulis lakukan di kelas dengan menggunakan media Canva.

Walaupun masih banyak kekurangan, namun mencoba mempraktikkan hal-hal baru itu lebih baik daripada tidak sama sekali.

Kekurangan-kekurangan yang ditemui dalam proses pembelajaran akan menjadi evaluasi untuk perbaikan ke depannya.

Semoga bermanfaat.

Pewarta/Editor: Adhyatnika Geusan Ulun-Penulis adalah Guru IPS SMPN 4 Cikalongwetan