LADANG AMAL DI MASA PANDEMI

Deni Ramdani, M.Pd

(Kasubag Kepegawaian dan Umum Disperindag KBB)

Ada kebanggaan tersendiri bagi penulis menjadi bagian dari Dinas Pendidikan, mengingat bukan berlatar belakang keluarga pendidik. Namun, justru dari mereka lahirlah anak-anak yang terjun di dunia pendidikan-ada yang sudah menjadi ASN dan ada juga  yang masih berstatus honorer, tersebar di sejumlah kabupaten dan kota.

Menarik saat masa pandemi Covid-19 – dan sekarang bertambah dengan munculnya varian baru, Delta yang lebih menular- dikaitkan dengan wacana perpanjangan PPKM darurat dengan istilah PPKM level 4. Hal ini mendorong Dinas Pendidikan untuk mengambil sejumlah kebijakan sebagai upaya untuk tetap menjaga marwah pendidikan agar tetap berlangsung sesuai dengan harapan semua pihak. Terutama pelayanan pendidikan kepada masyarakat  menghadapi tahun pelajaran baru saat ini.

Seperti diketahui, proses pembelajaran di sekolah sekarang ini tidak dilaksanakan dengan moda tatap muka. Hal ini sebagai implementasi SKB Empat Menteri yang bertujuan agar meminimalisasi penyebaran Covid-19. Kegiatan pembelajaran pun diarahkan ke moda jarak jauh, baik daring maupun luring.

Sesungguhnya, proses pembelajaran yang bermutu/berkualitas dengan inovasi model pembelajaran yang disesuaikan dengan masa pandemi akan menciptakan kepercayaan orang tua peserta didik kepada pendidik. Kepercayaan tersebut merupakan bagian dari layanan pendidikan.

Banyak aspek yang menjadi pertimbangan seorang pendidik untuk memilih salah satu model pembelajaran yang berkualitas sesuai dengan yang kondisi yang ada. Hal ini dimaksudkan sebagai upaya pemenuhan kebutuhan peserta didik serta ketepatan penyampaiannya untuk mengimbangi harapan semua pihak.

Kualitas pelayanan menurut Ratminto dan Atik– tolok ukur keberhasilan pelayanan ditentukan oleh tingkat kepuasan penerima layanan. Sedangkan tingkat kepuasan penerima layanan ini akan dapat diperoleh apabila seorang penerima layanan tersebut mendapatkan jenis pelayanan sesuai dengan yang mereka harapkan dan yang di butuhkan. Dengan demikian maka kebutuhan penerima layanan harus sebisa mungkin dipenuhi agar diperoleh kepuasan

Dari kutipan tersebut sangatlah berat beban yang dipikul oleh pendidik dalam melayani peserta didiknya dengan model pembelajaran yang bermutu, apalagi belum merata dan maksimalnya sarana pendukung yang ada, baik software maupun hardware pembelajaran jarak jauhnya.  Belum lagi tersitanya waktu pendidik dalam meng implementasikan model pembelajaran tersebut karena adanya pengelompokan jumlah peserta didik. Termasuk adanya penjadwalan khusus terhadap mereka, dan tentu saja memunculkan masalah-masalah lainnya

Problem umum di setiap kabupaten/kota atau provinsi adalah berkenaan dengan status kepegawaian guru yang belum seluruhnya sebagai ASN.  Masih banyak di antara mereka masih berstatus honorer, yang mana ketika berbicara gaji tentu saja belum sesuai dengan UMR. Terutama bagi mereka yang mengajar di sekolah-sekolah negeri. Walaupun demikian, untuk pendidik yang berstatus honorer, mereka masih mempunyai empati yang tulus untuk turut serta mencerdaskan anak anak bangsa, serta berusaha memupuk karakter ke arah yang lebih baik.

Akhirnya, penulis hanya bisa berucap dalam doa semoga pelayanan dalam dunia pendidikan bagi guru menjadi ladang amal di masa pandemi ini. Semoga ada secercah harapan yang bisa diraih ke arah yang lebih baik. Dan semoga pandemi Covid-19 dan varian virus corona tertentu, terutama Delta, yang lebih menular dari jenis aslinya, cepat sirna di bumi pertiwi ini agar proses pembelajaran yang bermutu/berkualitas bisa ter implementasikan secara maksimal.***