PERJALANAN ILMU

Oleh: Retno Gandaresmi Fitroh
(SMPN 2 Cikalongwetan)
Kokok ayam jantan berbunyi nyaring pertanda fajar datang menggantikan malam. Kegiatan di pagi hari yang sangat biasa. Kegiatan kali ini sangat biasa hanya ditambah dengan persiapan perjalanan menambah ilmu ke SMPN 4 Cikalongwetan.
Keberadaan SMPN 4 Cikalongwetan yang masih diraba dalam gelap, dimana lokasi sekolah berada di perbatasan antara kabupaten bandung barat dengan purwakarta. Satu daerah yang jarang disebutkan namanya,membuat orang merasa asing. Cireundeu atau orang lain kadang menyebutkan Tengek adalah daerah terluar dari Cikalongwetan.
****
Perjalanan dimulai kala embun pagi mulai membasahi dedaunan. Tepat pukul 07.00  aku berangkat menuju desa Cireundeu. Sebelum berangkat bertugas ku kecup kedua buah hatiku. Lambaian tangan mungil mereka mengantarkanku  di depan pintu.
Aku menempuh jarak sekitar 10 km, atau 45 menit perjalanan dari desa Cikalong perjalanan yang cukup jauh meski masih dalam satu daerah kecamatan. Maka sebelum itu kusinggahi sebuah pom untuk mengisi bahan bakar roda dua kesayanganku.
Setelah  siap melanjutkan kembali perjalanan, ku hubungi temanku terlebih dahulu untuk berangkat bersama. Namun suara di sebrang sana memberikan kabar bahwa mereka telah berangkat terlebih dahulu, aku pun berangkat menyusuri jalanan sendirian.
Ketika melewati salah satu gerai toko di pinggir jalan ada seseorang yang melambaikan tangan padaku. Temanku setia menunggu karena khawatir aku tersesat salah jalan. kami pun melanjutkan perjalanan.
Perjalanan pagi ini kami memilih jalur Bojongsero, karena jalur ini yang kami tahu. Melalu jalan Bojongsero kami disuguhi pemandangan yang memanjakan mata  disepanjang jalan. Hamparan sawah bagai permadani berundak sangat memesona, sekaligus cuci mata bagi yang memandangnya.
Udara sejuk yang belum terkontaminasi polusi perkotaan membuat oksigen merayap ke otak membuatnya segar. Jauhnya dari jalan utama membuat jalan menuju Cireundeu kurang perhatian pemerintah di atas sana. Kelak-kelok perjalanan dihiasi dengan lubang beraneka ukuran dan kedalaman sepanjang jalan memandang.
Akibat hujan lubang pun terisi penuh dengan air, membuat perjalanan semakin berwarna dan beraneka rasa berkecamuk dalam dada. Tanjakan dan turunan menjadi tantangan lain dalam perjalanan yang kami tempuh. Hingga setelah belokan disertai tanjakan terakhir sampailah kami ke SMPN 4 Cikalongwetan.
****

Di gerbang SMPN 4 Cikalongwetan kami disambut dan diarahkan oleh siswa untuk memarkirkan kendaraan. Kemudian kami menuju meja pendaftaran ulang peserta bimtek. Kami dihadiahi sebuah buku karya bapak Dadang A Sapardan yang berjudul Pikiran dari Pinggiran

Kami bergegas masuk ke ruang pelatihan, namun ternyata peserta  yang baru hadir sekitar lima orang padahal waktu telah menunjukkan pukul delapan kurang sepuluh dimana seharusnya acara akan dimulai sepuluh menit lagi.
Penantian pun dimulai. Satu demi satu para peserta bimtek berdatangan, kami bertegur sapa satu sama lain. Acara ini menjadi ajang tambah ilmu bareng dan reuni yang tak terduga bagi sebagian orang. Sambil menikmati jamuan yang berupa pangan hasil bumi ibu pertiwi kami berceloteh tentang trek yang sangat istimewa untuk sampai ke gudang ilmu di sini.
****
Penantian pun berakhir acara dimulai namun molor satu jam karena para kepala sekolah dan pemateri harus mengadakan rapat terlebih dahulu. Bimtek dibuka, sambutan demi sambutan kami simak.
Materi pertama disampaikan oleh Pak Dadang A Sapardan dan dilanjutkan oleh Pak Idris Apandi dengan penuh rasa semangat menggelora. Kami menikmat sajian materi seperti gelas kosong yang ingin segera diisi. Meski di luar diguyur hujan yang deras, kami tetap menikmati dan tetap berusaha menyimak materi yang disampaikan dalam gemuruh air hujan yang beradu suara dengan Pak Idris Apandi.

Waktu bergulir terasa terlalu cepat hingga tak terasa hari telah siang dimana datang pertanda waktu isoma telah menjemput Pak Idris apandi. Kami rasanya enggan untuk beranjak karena sangat terbius dengan materi yang disampaikan Pak Idris Apandi. Namun waktu jua lah yang menang.

Isoma berlalu, kami kembali menimba ilmu dengan pemateri terakhir yaitu Pak Nanang Saiful Anwar, M.Pd. materi yang membuat kami bersemangat untuk menjadi penulis amatir. Pak Nanang menggiring kami menjadi penulis pemula pada saat itu juga. Kami berlomba merangkai kata dengan kata, kalimat dengan kalimat tanpa memikirkan beban, Apakah tulisanku bagus?
Ternyata menjadi penulis itu gampang-gampang susah, begitulah yang kami rasakan. Namun, ini membuktikan setiap orang dapat menulis. Menulis pada hakikatnya sama dengan berbicara, namun yang membedakannya adalah media penuangannya. Menulis itu mudah jika kita mau melakukannya dan siap dengan media penuangannya.
****

Acara telah selesai, aku bangkit pulang. Jalanan menjadi licin akibat guyuran air hujan. Aku perlahan membawa kendaraanku menapaki jalnan yang berliku dan berbatu. Fokus agar tidak tergelincir. Sepanjang perjalanan ku panjatkan puji pada Illahi atas lukisan nyata yang memanjakan mata.

Meter demi meter ku tapaki jalanan hingga sampai jua aku di rumah. Melihat kedua anakku tersenyum bahagia melihat ibunya kembali pulang. Pelukan hangat mereka berikan, sehingga lelahku hilang seketika.

Pulang bukan berarti selesai. Perjuangan untuk menulis baru dimulai. Siapkan diri, hati dan pikiran untuk membuat suatu karya yang akan tergores dalam kertas putih dengan tinta hitam.

Profil Penulis

Penulis memiliki nama panjang Retno Gandaresmi Fitroh yang dilahirkan di Bandung pada tanggal 31 Agustus 1990 dari pasangan Susilo dan Yuyun Yuniati. Penulis saat ini aktif mengajar di SMPN 2 Cikalongwetan. 
Pewarta: Adhyatnika Geusan Ulun-Newsroom Tim Peliput Berita Pendidikan Bandung Barat.