BEKAL HIDUP

Oleh: Adhyatnika Geusan Ulun

(SMPN 1 Cipongkor)

Dunia sering diibaratkan sebuah perahu yang sedang mengarungi samudera kehidupan. Layar dan kompasnya adalah ilmu. Kemudinya adalah keyakinan. Dayungnya adalah ikhtiar. Dan pelabuhannya adalah akhirat.

Dalam sebuah kajian dibahas tentang fase kehidupan manusia. Tentu dipandang dari kacamata Islam. Disampaikannya bahwa terdapat dua fase yang sudah dilewati, satu yang sedang dijalani, dan dua yang sedang menunggu, yakni fase di saat kita berada di alam ruh, kemudian alam rahim, dan dunia. Sementara dua lagi, yakni alam barzah, dan akhirat.

Hal di atas, sebenarnya sudah dipahami oleh semua orang yang beriman. Bahkan di luar Islam sekalipun, terutama agama samawi. Namun, yang menjadi permasalahan bagi kita adalah bagaimana menyikapi serta mempersiapkan diri untuk menghadapi dua alam sisanya.

Masih dalam kajian tersebut, dibahaslah tentang sejumlah persiapan yang harus dimiliki oleh mukmin. Hal ini menjadi kajian menarik saat semua akan dihadapkan dengan perjalanan panjang yang harus ditempuh oleh semua makhluk berakal di alam raya ini.

Terungkaplah bahwa terdapat lima bekal hidup yang harus dimiliki manusia untuk menghadapi dua alam sisanya ini, yakni Al Qur’an sebagai pedoman hidup, Ibadah sebagai tugas hidup, Rasulullah SAW sebagai teladan hidup, Setan sebagai musuh hidup, dan Mardhatillah sebagai tujuan hidup.

Al Qur’an Pedoman Hidup

Tuhan menciptakan makhluk-Nya dengan tidak sisa-sia. Dipersiapkan-Nya hamparan alam yang luas untuk dikelola dan dijaganya sebagai khalifah di muka Bumi, tentu dengan  anugerah rambu-rambu dan pedoman yang harus diikuti dan ditaati. Pedoman itu adalah Al Qur’an, sumber dari segala sumber hukum Islam.

Al Qur’an adalah bekal utama yang harus dimiliki oleh seorang muslim. Dengannya, manusia  akan selamat dunia dan akhirat. Dan dengan kitab suci ini, seorang yang beriman akan terarah dalam melangkah. Hal ini dikarenakan dalam setiap aktivitasnya akan selalu tunduk dan patuh pada aturan Allah. Selain itu, Al Qur’an merupakan pedoman yang tidak ada keraguan di dalamya. Inilah Kitab, yang tidak ada keraguan di dalamya. Menjadi petunjuk bagi orang yang bertakwa. (QS:2:2)

Seorang muslim yang berperdomankan Al Qur’an akan berjalan sesuai dengan perintah Allah. Tidak melangkah berdasarkan hawa nafsu. Begitupun jika berhenti, selalu tunduk pada larangan-Nya. Tidak berhenti dikarenakan kehendak sendiri.

Ibadah Tugas Hidup

Seorang muslim akan selalu tenang dalam menjalani fungsinya sebagai khalifah di muka Bumi. Hal ini dikarenakan dia mengetahui kedudukannya sebagai hamba Allah yang memiliki tugas, yakni ibadah. Inilah yang selalu diyakini sepenuh hati oleh seorang mukmin berdasarkan firman Allah: Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia, kecuali untuk beribadah kepada-Ku (QS.51:56).

Seseorang akan nyaman dimanapun dia berada manakala mengetahui tugas yang diembannya. Dia akan menjalankan segalanya sesuai dengan kapasitas dan kemampuan ya g diamanahkan kepadanya dengan penuh tanggung jawab.

Ketika seorang muslim menjalankan perintah Allah, maka selalu diyakininya bahwa hal tersebut adalah tugasnya sebagai seorang hamba. Tidak dipandang sebagai sebagai sebuah beban yang akan membuat dirinya tersiksa dan teraniaya, karena selalu yakin bahwa Allah tidak akan memberi suatu beban di luar kemampuan dirinya.

Rasulullah, Teladan Hidup

Tentu dalam menjalankan segala aktivitas di dunia, kita memerlukan model. Hal ini sangat penting sebagai rujukan yang tepat dalam mengintepretasikan kehadiran kita di muka Bumi ini. Hal ini ditegaskan Allah dalah firman-Nya: Sungguh telah ada pada diri Rasulullah, suri teladan yang baik. (QS.33:21)

Rasulullah Muhammad SAW dihadirkan Allah sebagai Role Model  paling ideal di alam semesta. Kepribadian mulianya tidak lekang oleh masa, tidak surut oleh waktu.  Selalu berlaku di sepanjang zaman.  Sabdanya bukan hanya untuk umat di masa kenabian, tetapi untuk manusia di akhir zaman.

Setiap kurun waktu, setiap bangsa selalu dihadirkan Tuhan seorang  tokoh panutan. Tetapi tidak semua yang bertahan dalam masa yang lama. Mereka hanya dipuja pada saat mereka hidup. Jasanya akan sirna seiring tenggelamnya jasad di dalam perut Bumi.

Namun, Rasulullah SAW telah ditakdirkan Allah untuk menjadi tokoh sepanjang masa. Segala perilakunya selalu diikuti umat dari zaman ke zaman. Kepopulerannya  terus melejit melampui batas ruang dan waktu.  Bahkan, kalaupun ada yang menghinanya, kita dapat menyaksikan bahwa semakin dicaki, semakin mulia nama dan kharismanya.

Setan, Musuh Hidup

Sudah menjadi sunatullah bahwa pada setiap kebaikan selalu saja beriringan (atau berseberangan) dengan keburukan. Dan pada setiap keburukan, disanalah bercokol makhluk yang tidak menginginkan orang beriman dekat dengan Allah. Dialah setan laknatullah.

Secara bahasa, setan berarti sesuatu yang menghalangi. Sedangkan secara istilah, setan bermakna segala hal yang menghalangi seorang yang beriman untuk mengingat kepada Allah, dan berusaha untuk menjatuhkan derajat kemuliaan mukmin untuk terjerumus dalam bujuk rayunya hingga masuk bersama-sama dalam tempat yang bernama Neraka.

Hal di atas digambarkan oleh Al Qur’an tentang sebagian perilaku setan yang menghalangi manusia untuk mengngat kepada Allah. (Qs.5:91).

Seperti diketahui, manusia terlahir suci. Lingkunganlah yang menyebabkan dia mulia atau hina. Nah, kemuliaan itulah fitrah manusia yang dianugerahkan Allah sebagai buah dari kepatuhan menuruti perintah dan menjauhi segala larangan-Nya. Sedangkan kehinaan merupakan buah dari mengikuti bujuk rayu setan.

Maka, bekal hidup ini diberikan oleh Allah sebagai betuk kasih sayang-Nya agar manusia tidak terjerumus ke dalam kesesatan akibat menuruti kemauan setan. Sehingga di dalam hidupnya seorang mukmin akan berhati-hati dan selalu menjauhi tipu daya makhluk ini.

Rida Allah, Tujuan Hidup

Dunia sering diibaratkan sebuah perahu yang sedang mengarungi samudera kehidupan. Layar dan kompasnya adalah ilmu. Kemudinya adalah keyakinan. Dayungnya adalah ikhtiar. Dan pelabuhannya adalah akhirat.

Namun, diperlukan tujuan utama dalam hidup ini agar dalam mengarungi ‘samudera’ tersebut dapat selamat dunia dan akhirat. Dia adalah Rida Allah. Sebuah harapan yang harus diwujudkan dalam setiap aktivitas hidup orang beriman.

Rida Allah adalah sebuah karunia yang diberikan kepada siapapun yang Dia kehendaki. Namun, kita wajib menggapainya. Hal dikarenakan, sehebat apapun ibadah seorang hamba, tidak akan bisa meraih kemualiaan dunia dan akhirat tanpa rida Allah.

Dalam sebuah riwayat di kisahkan ada seorang alim di kalangan Bani Israil yang selama hampir 500 tahun tidak berhenti beribadah kepada Allah. Hingga sampailah ia di akhir hayat, wafat.  Akhirnya Allah tempatkan dia di Surga. Sang ahli ibadah itu bertanya: Amalan apakah yang membuatku berada di tempat ini?

Para malaikat yang diutus-Nya, menjawab: Rahmat Allah! Orang itu, kemudian bertanya kembali: Tidakkah amalanku yang 500 tahun yang membuatku dimasukan ke Surga ini? Para Malaikat menegaskan bahwa sebesar apapun amal seseorang tidak akan pernah mampu membeli Surga yang luasnya seluas langit dan bumi, tanpa ada rahmat dan rida dari Allah.

 

Renungan

Dalam perjalanan mengarungi samudera kehidupan diperlukan peta yang akan menjadi pedoman dan akan menuntun kita ke pelabuhan yang dituju dengan selamat. Begitupun dengan fungsi kita di kapal ini, sebagai penumpang biasa, atau sebagai kru yang ikut berperan dalam perjalanan tersebut.

Nakhoda yang mengomandoi setiap laju perahu haruslah orang terpilih, yang setiap ucap, tingkah dan lakunya membuat seluruh penumpang tenang, merasa aman dan nyaman. Dan dari nakhoda inilah kita akan ditambatkan ke pelabuhan sesuai dengan tujuan utama perjalanan hidup.

Maka, itulah gambaran kehidupan yang tengah kita arungi. Ketika Al Quran dijadikan sebagai pedoman hidup, Ibadah sebagai tugas hidup, Rasulullah SAW sebagai teladan hidup, Setan sebagai musuh hidup, dan Rida Allah sebagai tujuan hidup, maka kita akan selamat menuju pelabuhan akhirat dengan penuh suka cita, sebagaimana doa yang selalu dipanjatkan: Ya Allah, anugerahkanlah kepada kami kebahagiaan dunia dan kebahagiaan akhirat, dan jauhkanlah kami dari azab api neraka. (Qs:2:201.

Dari berbagai sumber

 

Profil Penulis:

Adhyatnika Geusan Ulun, lahir 6 Agustus 1971 di Bandung. Tinggal di Kota Cimahi. Guru Bahasa Inggris di SMPN 1 Cipongkor Bandung Barat sejak 1999. Pengurus  MGMP Bahasa Inggris Kab. Bandung Barat. Alumnus West Java Teacher Program di Adelaide South Australia, 2013. Alumnus MQ ‘Nyantren di Madinah dan Makkah’ 2016, Pengasuh Majelis Taklim dan Dakwah Qolbun Salim Cimahi, Penulis buku anak, remaja dan dakwah. Editor NEWSROOM, tim peliput berita Dinas Pendidikan Bandung Barat. Jurnalis GUNEMAN Majalah Pendidikan Prov. Jawa Barat. Pengisi acara KULTUM Studio East Radio 88.1 FM Bandung. Redaktur Buletin Dakwah Qolbun Salim Cimahi. Kontributor berbagai Media Masa Dakwah. Sering menjadi juri di even-even keagamaan.

Adhyatnika.gu@gmail.com., Ig.@adhyatnika geusan ulun.