INDAHNYA KAJIAN DI BULAN RAJAB

Oleh Adhyatnika Geusan Ulun

(SMPN 1 Cipongkor)

Sesungguhnya kewajiban kita adalah menyikapi segala macam permasahan dengan sikap terbaik; diberi  nikmat sekecil apapun bersyukur, dan syukur menjadi kebaikan bagi kita . Pada saat diuji dengan cobaan dan musibah seberat apapun, kita mampu bersabar, dan sabar menjadi kebaikan bagi kita.

Setiap membuka lembaran kisah perjalanan Baginda Rasul saat memasuki bulan Rajab, sungguh sarat dengan hikmah yang terkandung di dalamnya.

Peristiwa Isra Miraj yang terjadi pada Rajab, haruslah dipahami dengan keimanan yang bulat, dan keyakinan yang utuh. Sungguh  tidak patut untuk meragukan Kuasa Allah Swt yang telah berkehendak dengan memperjalankan hamba-Nya pada satu lintasan dengan menembus ruang dan waktu, membelah tiga alam; alam nasut (alam fisika/inderawi), alam malakut (alam ke-malaikatan), dan alam Lahut (alam ke-Ilahian) dalam waktu kurang dari semalam saja.

Menarik untuk dikaji, dan sejarah telah mencatatnya. Peristiwa yang bermula dari penderitaan Rasulullah ketika ditinggal wafat oleh dua orang yang sangat dicintainya, yaitu paman Abu Thalib, orang yang mengasuh mendidik, dan merawat sejak kecil hingga menikahkannya ketika sudah dewasa,  Tidak berapa lama kemudian, Sayidah Khadijah al Kubra ra, istrinya yang menjadi sumber kekuatan Islam, yang jiwa raga dan seluruh hartanya diwakafkan untuk kejayaan Islam. Penderitaan Rasulullah pun kian bertambah dengan semakin menjadi-jadinya kaum kufar Quraisy memusuhi, menindas menganiaya kaum muslimin.

Kejadian tersebut di atas sebagai gambaran kepada kaum muslimin bahwa dalam kehidupan tidak akan pernah lepas dari perjuangan, dan perjuangan selalu menuntut pengorbanan. Semakin tinggi kedudukan seseorang, semakin berat pula perjuangan yang harus ditempuh, dan semakin besar pengorbanan yang harus dipersembahkan.

Manusiawi, Baginda Rasul pun sangat berduka, tapi dari sinilah keteladananpun bermula. Sebagai manusia pasti kita akan mengalami putaran roda hidup, terkadap kita berada di atas di samping bahkan di bawah. Fluktuatif kehidupan yang tidak bisa dihindari oleh bahkan sekelas Rasul sekalipun. Makin tinggi derajat seseorang maka makin berat pula beban derita yang dipikul dan makin deras putran roda hidup itu. Firman Allah menegaskan bahwa Kebanyakan di antara manusia sering menyangka akan dibiarkan begitu saja  setelah menyatakan’kami beriman  kepada Allah, padahal belum datang ujian yang akan menakar seberapa kualitas keyakinan seorang hamba kepada Sang Khaliknya (Al Ankabut:1).

Yang sering  menjadi masalah bagi kita, adalah selalu melupakan sumber segala sumber solusi yakni Allah azza wa Jalla.  Sesungguhnya kewajiban kita adalah menyikapi segala macam permasahan dengan sikap terbaik; diberi  nikmat sekecil apapun bersyukur, dan syukur menjadi kebaikan bagi kita . Pada saat diuji dengan cobaan dan musibah seberat apapun, kita mampu bersabar, dan sabar menjadi kebaikan bagi kita.

Sesungguhnya kewajiban kita adalah menyikapi segala macam permasahan dengan sikap terbaik; diberi  nikmat sekecil apapun bersyukur, dan syukur menjadi kebaikan bagi kita . Pada saat diuji dengan cobaan dan musibah seberat apapun, kita mampu bersabar, dan sabar menjadi kebaikan bagi kita.

Itulah keteladanan yang luar biasa dari Baginda Rasul kepada kita, bahwa sabar bukanlah kepasifan diri yang hanya mau menerima semua takdir tanpa meau berikhtiar untuk melewati kesulitan dengan hasil terbaik menurut Allah SWT.

Keteladanan Baginda Rasul tidak berhenti di situ, tetapi terus berlanjut dengan mengadukan segala permasalahan yang dihadapinya kepada Sang Pemilik hidup dan kehidupan, Allah SWT dengan mendirikan shalat. Bukankah muara utama dari peristiwa Isra Mi’raj adalah shalat? Dan Allah menegaskan bahwa segala macam permasalahan hanya dapat diatasi dengan sabar dan shalat .  Berat memang tetapi pasti dapat diamalkan oleh orang yang yakin sepenuhnya kepada Allah yang senantiasa mengawasi dan tempat kita kembali  (Al Baqarah:153-154) .

(Bersambung)

“Wahai Allah yang Maha Menantap, Maha Agung ampunilah atas segala kekhilapan yang telah kami kerjakan, ampuni atas segala kesalahan yang telah kami lakukan, atas segala maksiat yang telah diperbuat. Jadikanlah kami menjadi hamba MU yang mampu brsyukur atas sekecil apapun kenikmatan yang telah  Engkau berikan. Jadikanlah kami menjadi hamba MU yang mampu bersabar atas seberat apapun ujian yang Kau timpakan. Jadikanlah bibir ini mampu berdzikir menyebut nama Mu. Jadikanlah     lidah   ini  senantiasa fasih     membaca ayat –ayat suci Mu.

Ya Alloh ampunilah kedua orang tua kami, beri maaf mereka atas segala kekhilapan yang telah dilakukan, jangan pernah siapapun menghina kehidupannya. Jika mereka sakit sembuhkan ya Alloh yang Maha menyembuhkan.. jadikan sakitnya menjadi kifarat atas dosa-dosanya. Angkatlah harkat martabatnya Ya Alloh. Jika mereka wafat , wafatkanlah dalam keadaan khusnul khatimah, jauhkan dari siksa kubur, ringankan hisabnya hindarkan dari azab kubur. Pertemukan dan kumpulkanlah kami dengan penuh rahmat dan ridlo Mu dengan mereka di surga Mu kelak.

Wahai Allah berkahilah sisa usia kami, berkahilah rizki, ilmu, dan ikhtiar kami pada bula Rajab dan Sya’ban ini. Dan perkenankanlah kami untuk bisa hidup pada bulan Ramadhan. Allohumma bariklana fii rojaba wa sya’bana wa balighna romadhon… Aamiin Ya Robbal’aalamiin.”

(Khutbah Jum’at Jelang Rajab 1442 H)

Profil Penulis:

Adhyatnika Geusan Ulun, lahir 6 Agustus 1971 di Bandung. Tinggal di Kota Cimahi. Guru Bahasa Inggris di SMPN 1 Cipongkor Bandung Barat sejak 1999. Pengurus  MGMP Bahasa Inggris Kab. Bandung Barat. Alumnus West Java Teacher Program di Adelaide South Australia, 2013. Alumnus MQ ‘Nyantren di Madinah dan Makkah’ 2016, Pengasuh Majelis Taklim dan Dakwah Qolbun Salim Cimahi, Penulis buku anak, remaja dan dakwah. Editor NEWSROOM, tim peliput berita Dinas Pendidikan Bandung Barat. Jurnalis GUNEMAN Majalah Pendidikan Prov. Jawa Barat. Pengisi acara KULTUM Studio East Radio 88.1 FM Bandung. Redaktur Buletin Dakwah Qolbun Salim Cimahi. Kontributor berbagai Media Masa Dakwah. Sering menjadi juri di even-even keagamaan.

œAdhyatnika.gu@gmail.com., Ig.@adhyatnika geusan ulun.