KARTINI Era Digital, dan Penanaman Karakter Kerja Keras pada Siswa


N. Mimin Rukmini
(Guru Bahasa Indonesia SMPN 1 Cililin)

“Habis Gelap Terbitlah Terang”, ketika berusaha dan kerja kerja keras dipastikan dapat prestasi gemilang. Demikian apa yang telah dilakukan mendiang RA Kartini beberapa waktu lampau. Terpatri dalam lubuk hati ibu pertiwi.
Beberapa waktu lalu pada kolom pendidikan Harian Umum Pikiran Rakyat terpampang tiga Mahasiswa UI menjadi finalis olympiade teknologi bergengsi dunia. Kelompok tiga mahasiswa UI tersebut adalah Muhammad Danial Yusra dan dua di antaranya adalah perempuan tangguh yakni Zafira dan Ayu Maharani. Mereka adalah salah satu sosok Kartini di Era Digital. Kartini Milenial, perempuan hebat penerus perjuangan RA Kartini pahlawan emansipasi wanita.
Betapa berat perjuangan RA Kartini dulu. Betapa berat pula perjuangan wanita di era digital sekarang. Era digital dengan arus informasi serba cepat menuntut stile hidup untuk terus bergerak dan berinovasi. Demikian pun tugas guru untuk menanamkan karakter disiplin dan kerja keras kepada para siswanya bukanlah hal yang mudah.. Disiplin dan kerja keras hingga melahirkan jiwa kreatif dan inovatif.
Pembentukan karakter di masa pandemi yang belum usai membutuhkan kepandaian dan pelayanan luar biasa. Tidak saja untuk kaum hawa, untuk kaum adam pun demikian, perlu energi ekstra dan istimewa.
Langkah-langkah yang dapat ditanamkan sebagai value dari kerja keras RA Kartini, dan Kartini di Era Digital di antaranya adalah sebagai berikut.
Pertama, keteladanan. Tak ada perjuangan tanpa teladan dan pengorbanan. RA Kartini dan sosok Mahasiswi UI tersebut telah memberi teladan kepada kita semua. Teladan dari kerja keras dan pengorbanan mereka demi mewujudkan apa yang mereka cita-citskan. Sejatinya guru memberi teladan kepada siswa-siswinya untuk selalu kerja keras dalam belajar. Semangat dan pantang menyerah. Contoh konkret kerja keras, dari seorang guru adalah guru selalu terdepan dalam belajar. Berusaha memfasilitasi siswa seoptimal mungkin hingga siswa merasakan pula bagaimana ia kerja keras dalam belajar dan menyelesaikan tugas mata pelajaran hingga tuntas.
Kedua melayani dengan hati dan santun. Tak ada pembelajaran tanpa memfasilitasi siswa. Dengan adanya paradigma baru bahwa siswa menjadi sentral atau subjek dalam pembelajaran, guru tetap memiliki tugas memfasilitasi melalui bimbingan dan latihan hingga siswa mampu secara mandiri memiliki kompetensi yang diharapkan dalam pembelajaran itu. Misalnya saja siswa mampu mengidentifikasi dan mendiskusikan permasalahan remaja berdasarkan teks yang dibaca melalui bimbingan guru.
Sebagaimana dikemukakan pada bagian paragraf terdahulu, Era Digital yang ditandai dengan arus informasi yang serba cepat memerlukan kemampuan memilah info positif maupun negatif, info hoax maupun bukan. Demikian pula dalam menyampaikan informasi , guru dituntut untuk bisa menyampaikan kepada siswa bagaimana siswa mampu menyampaikan informasi secara santun dan bermanfaat bagi orang lain.
Terakhir, tetap semangat dan terus belajar. Kartini Era Digital berjiwa inovatif terus semangat belajar tanpa henti lewat kompetisi yang sehat baik dalam kelas, media sosial, maupun dalam jaringan yang lebih luas. Selayaknya guru menciptakan kenyamanan dalam kelas bagaimana siswa agar siswa bisa berkompetisi secara sehat dan kreatif hingga siswa memiliki motivasi yang kuat terus menggali apa yang mereka cita-citakan.
Teladan dan semangat berjuang R.A Kartini akan terus mengalir pada generasi mana pun ketika guru, dan siswa duduk bersama dan terus belajar tanpa henti. Santun dalam menyampaikan informasi, dan dapat memilah informasi secara kritis dan bijak. Bisa!

Sumber: Harian Umum Pikiran Rakyat tanggal 8 April 2022

Profil Penulis

N. Mimin Rukmini, Guru Mata Pelajaran Bahasa Indonesia SMPN 1 Cililin Kabupaten Bandung Barat (KBB). Sebagai salah satu Tim Newsroom dan Fasda Literasi KBB. Suka menulis artikel dan telah diterbitkan di media massa (cetak dan online) dan telah menerbitkan 15 buku, baik tunggal maupun antologi. Tinggal di Bandung Barat, Jabar.