KOLABORASI ANTAR MAPEL TINGKATKAN KREATIVITAS SISWA DI SMPN 4 CIKALONGWETAN

Oleh: Endang Wahyu Widiasari, M.Pd
(Guru IPS SMPN 4 Cikalongwetan)

Model Pembelajaran Project Based Learning merupakan strategi belajar mengajar yang melibatkan siswa untuk mengerjakan sebuah proyek yang bermanfaat untuk menyelesaikan permasalahan masyarakat atau lingkungan, permasalahan yang dikaji merupakan permasalahan yang kompleks dan membutuhkan penguasaan berbagai konsep atau materi pelajaran dalam upaya penyelesaiannya, proyek yang dibuat dapat merupakan proyek dari satu guru, atau proyek bersama dari beberapa guru yang mengasuh pelajaran yang berbeda. (Abdullah Sani (2015:172))

Kolaborasi Antar Mata Pelajaran

Salah satu strategi pembelajaran yang dikembangkan dalam kurikulum 2013 untuk merangsang supaya siswa aktif, kreatif, inovatif dan mampu bekerjasama dalam kegiatan pembalajaran adalah Model pembelajaran Project Based Learning.

Menurut pengertian di atas, Project Based Learning merupakan model pembelajaran yang menggunakan proyek sebagai langkah awal pembelajaran, pembelajaran dilakukan secara sistematik untuk mengeksplor peserta didik dan mengikut sertakan peserta didik dalam proses pembelajaran dimana peserta didik dituntut untuk bisa kreatif dan bekerjasama, di akhir pembelajaran peserta didik dapat menghasilkan suatu produk sebagai hasil kegiatan pembelajaran.

Kegiatan pembelajaran dengan menggunakan model Project Based Learning tidak harus berdiri sendiri pada satu bidang studi tertentu tetapi dapat juga gabungan dari berbagai mata pelajaran, ini juga akan mempermudah peserta didik dalam pengerjaan dan tidak banyak menyita waktu, sebab gabungan pelajaran dapat disatukan untuk menghasilkan sebuah proyek.

Kolaborasi guru antar mata pelajaran dalam pembuatan proyek ini selain mempercepat tercapainya tujuan pembelajaran juga membuat peserta didik lebih kreatif, inovatif, memudahkan membimbing siswa, bisa mengurangi beban kerja guru karena siswa dibimbing oleh beberapa guru yang berbeda mata pelajaran. Tentunya akan terasa melelahkan jika guru hanya sendiri membingbing siswa dalam kegiatan pembelajaran, selain itu juga untuk menekan biaya yang terlalu tinggi dalam pembuatan proyek.

Untuk mencapai tujuan di atas, penulis mencoba mengolaborasi antar mata pelajaran untuk membuat satu proyek. Kegiatan ini diketuai oleh penulis selaku wakil kepala sekolah bidang kurikulum.

Sejumlah mata pelajaran yang terlibat adalah Prakarya dan Kesenian yang dibimbing oleh Ikah Sani Sapitri, S.Pd., dan Nuraeni, S.Pd., dengan materi melukis di atas kayu. Tetapi  temanya diganti dengan melukis di atas ember bekas.

Sementara itu, IPS di bawah bimbingan penulis, dengan materi kreativitas dalam kegiatan ekonomi, pemanfaatan barang bekas menjadi bernilai guna. Di sisi lain, Bahasa Inggris yang dimbing oleh Asep Burhanudin, S.Pd. dengan materi Prosedur teks. Kemudian, Bahasa Indonesia di bawah bimbingan Arifin hidayat, S.Pd. dengan materi tentang slogan dan poster. Terakhir, PAI yang dipandu oleh Jajang Abdurahman, S.PdI. dengan materi mengenal Asma’ul Husna.

Tahap Awal Proyek

Penulis dan para guru yang terlibat berembuk mencari kompetensi dasar antar mata pelajaran yang kira-kira cocok dengan produk yang akan di buat. Ketika itu, masalah yang diangkat adalah pemanfaatan limbah tutup ember bekas, hasil dari sumbangan salah satu perusahaan garmen untuk penataan lingkungan sekolah. Embernya kami jadikan pot bunga, sedangkan tutup embernya dimanfaatkan untuk penataan lingkungan sekolah berikutnya.

Dalam proses pembelajaran, para siswa terlihat aktif dan kreatif di bawah bimbingan guru.  Mereka melakukan tahapan-tahapan dalam kegiatan pembelajaran sebagai berikut; siswa membuat tema proyek apa yang akan dibuat. Selanjutnya dengan didampingi guru melakukan penjadwalan semua kegiatan yang akan dilakukan dalam penyelesaian proyek. Setelah perencanaan dibuat, para siswa menyelesaikan proyek yang sudah dirancang. Selanjutnya memublikasikan hasil proyek tersebut kepada yang lain. Kegiatan publikasi ini bisa dilakukan dengan cara mempresentasikan hasil proyek, bisa juga dengan memamerkan/memajang di tempat yang terbuka agar diketahui oleh siswa lainnya, atau masyarakat sebagai hasil dari proses kegiatan pembelajaran.

Tahap Akhir

Tahap akhir dari proses pembelajaran dengan menggunakan project based learning adalah melakukan refleksi terhadap aktivitas dari tugas proyek yang sudah dilakukan.

Hasil dari produk pemanfaatan ember bekas ini adalah dibuatnya slogan AKU SUKA BACA. Rencananya akan disimpan di taman literasi sekolah. Selain itu, kolaborasi dengan mata pelajaran PAI, kami membuat Asma’ul Husna. Pembuatan proyek tersebut diharapkan menjadi salah satu pengingat siswa akan pentingnya membaca buku dan juga menjadi salah satu cara untuk menguatkan penanaman pendidikan karakter dengan memeperkenalkan siswa terhadap Asma’ul Husna.

Dalam kegiatan mempresentasikan hasil belajar, siswa juga dituntut menggunakan bahasa Inggris. Hal ini bertujuan untuk memperlancar penggunaan dan penguasaan bahasa Inggris.

Dengan kolaborasi kegiatan pembelajaran antar mata pelajaran selain kreativitas siswa meningkat, tujuan pembelajaran lebih cepat tercapai dan biaya yang digunakan menjadi lebih murah. Nilai tambah yang penulis dapatkan, yaitu kerjasama dan rasa kekeluargaan guru dalam kegiatan pembelajaran semakin meningkat.

Sebenarnya program di atas adalah kali ke dua dilakukan. Sebelumnya, kami juga melakukan hal serupa, akan tetapi dengan media limbah bubuk gergaji. Produknya dipamerkan pada kegiatan Pameran Pendidikan Kabupaten Bandung Barat 2017 dengan tema ‘Indah dengan Limbah Bubuk Gergaji.’

Tentunya masih banyak kekurangan dalam kegiatan tersebut, tetapi penulis berharap kegiatan ini bisa menjadi salah satu jalan membangun generasi emas 2045 yang dibekali keterampilan abad 21, yaitu tumbuhnya kualitas karakter peserta didik, literasi dan juga kompetensi abad 21 yang dikenal dengan 4C, Communication, Collaborative, Critical Thinking, Dan Creativity

Siswa Bahagia, Guru Bahagia

Dengan melakukan pembelajaran kolaborasi antar mata pelajaran, semoga melahirkan lebih banyak lagi karya yang luar biasa. Bukankah kegiatan pembelajaran yang dilakukan dengan rasa bahagia, penuh tali kekeluargaan akan menjadikan kita nyaman dan tenteram dalam bekerja?

Pada dasarnya manusia harus bahagia, guru bahagia, siswa bahagia dan pendidikan seharusnya menggembirakan semua, agar lebih menghasilkan generasi penerus yang lebih berkualitas di kemudian hari.

Akhirnya, seperti yang diamanatkan oleh Mas Menteri Nadiem Makarim pada waktu Hari Guru beberapa waktu lalu bahwa guru penggerak memiliki perbedaan dengan guru biasa, yang mana guru penggerak mengutamakan muridnya dari apapun. “Bahkan dari kariernya pun dia mengutamakan murid dan pembelajaran murid. Guru itu akan mengambil tindakan tanpa disuruh, tanpa diperintah, untuk melakukan terbaik untuk muridnya, itu guru penggerak.”

Semoga…***
Editor: Adhyatnika GU