Literasi Mampu Manifestasikan Prestasi

Oleh: Dra. Hj. Yeti Resmiati, M.M., dkk.

Bukan sesuatu yang mudah untuk mencapai prestasi GLN penuh dengan perjuangan dan kekompakan.

Membaca merupakan fondasi dasar Pendidikan bangsa. Hal ini akan menjadi penentu arah kemana suatu bangsa akan dibawa. Akankah mampu bertahan ataukah hilang terlindas roda zaman? Berdasarkan survei BPS Tahun 2020, jumlah orang yang buta aksara di Indonesia tinggal 1.71 % (Kompas.com, 06/09/2021). Artinya, lebih dari 90% penduduk Indonesia sudah memiliki kemampuan membaca.

Namun, ironinya meningkatnya kemampuan membaca itu tidak berbanding lurus dengan kegemaran membaca. Membaca masih dianggap sebagai aktivitas yang hal yang biasa dan sesuatu yang membosankan. Padahal membaca sangat bermanfaat dalam kehidupan manusia khususnya para pelajar untuk memperoleh pesan yang disampaikan orang lain.

Sebagaimana menurut para ahli membaca, di antaranya Prof. Guntur Tarigan (2015:7) menyampaikan bahwa membaca adalah suatu proses yang dilakukan serta dipergunakan oleh pembaca untuk memperoleh pesan, yang hendak disampaikan oleh penulis melalui media kata-kata/bahasa tulis.

Kita menghadapi suatu kenyataan bahwa membaca belum menjadi budaya dalam masyarakat. Menurut data UNESCO, minat baca Indonesia hanya 0,0001%. Artinya, dari 1000 orang hanya satu orang saja yang rajin membaca. Masya Allah, rendahnya minat membaca tersebut terasa begitu nyata dalam keseharian di setiap lembaga pendidikan, khususnya sekolah.

Setiap hari disela-sela kegiatan pembelajaran, baik para pendidik maupun peserta didik lebih banyak diisi dan dihabiskan hanya untuk sekedar mengobrol, bersenda gurau atau bercengkrama serta membuka layar gawai. Jauh dari keinginan dan kepedulian terhadap kegiatan membaca. Meskipun tidak sedikit banyak buku yang disuguhkan berjejer di rak-rak, di ruang guru, dan di perpustakaan.

Seperti diketahui, pada masa kepemimpinan Menteri Muhajir Efendi telah dimulai sebuah gebrakan di bidang literasi yaitu Gerakan Literasi Sekolah (GLS). Siswa diwajibkan untuk membaca sejumlah buku. Dengan harapan akan menjadikan habituasi membaca bagi siswa bahkan hingga akhir akhir hayatnya. Kebijakan ini disambut antusias oleh berbagai institusi dan lembaga pendidikan yang kemudian melahirkan berbagai kegiatan yang mendorong terjadinya perubahan khususnya kemampuan berliterasi.

Demikian pula pada pertengahan 2016, Pemerintah Provinsi Jawa Barat meluncurkan sebuah program unggulan dalam meningkatkan kegemaran membaca. Kegiatan ini dilakukan melalui pembiasaan membaca bertajuk WJLRC (West Java Leaders Reading Challenge). Program ini adalah sebuah tantangan dari Gubernur Jawa Barat kepada seluruh peserta didik mulai kelas IX sampai dengan kelas XII. Hal ini dilakukan untuk dapat menuntaskan membaca buku minimal 24 buku selama kurun waktu 10 bulan.

Dengan antusias, SMPN 2 Parongpong turut ambil bagian dalam kegiatan di atas, dengan mengirimkan 10 orang peserta didik dan 2 orang pendidik sebagai pembimbing. Keikutsertaan SMPN 2 Parongpong dalam kegiatan ini menjadi sebuah langkah awal perjuangan sekolah untuk menumbuhkembangkan budaya literasi yang berkelanjutan, di lingkungan sekolah pada khususnya dan lingkungan masyarakat pada umumnya.

Pada pelaksanaannya, merubah kebiasaan peserta didik dan para pendidik untuk gemar membaca tidaklah mudah. Banyak kendala yang dihadapi, yaitu peserta didik memiliki motivasi yang rendah untuk membaca.  Hal ini mungkin saja disebabkan karena lingkungan yang tidak mendukung hadirnya budaya baca. Ditambah lagi minimnya kepemilikan buku-buku non mata pelajaran di sekokah.

Selain itu, para pendidik dan tenaga kependidikan selama ini sering menganggap bahwa literasi hanya milik dari guru-guru bahasa. Akibatnya, guru-guru mata pelajaran lainnya dan tenaga kependidikan merasa kurang antusias untuk ikut melaksanakan program-program literasi. Ditambah pula dengan berbagai kesibukan dalam menyelesaikan administrasi serta tanggung jawab dalam kegiatan berbagai pembelajaran yang sangat padat sering menjadi suatu kendala yang dihadapi.

Di sisi lain, keterbatasan sarana dan prasarana di sekolah utamanya sarana bangunan sekolah, serta minimnya alat-alat IT, sekolah sering menjadi kendala yang umum ditemui di sekolah-sekolah.

Seperti halnya juga kendala yang ditemui di SMPN 2 Parongpong. Misalnya, terbatas sarana ruangan perpustakaan dikarenakan dipakai sebagai ruang kepala sekolah dan guru serta staf administrasi. Dengan tidak memiliki ruang perpustakaan yang representative. Inilah kendala yang menyebabkan kenyamanan dalam kegiatan membaca para pendidik dan peserta terganggu.

Di samping itu, jumlah buku non-pelajaran, seperti jumlah cerita yang berhubungan dengan fiksi dan non fiksi, selain buku mata pelajaran tidak seimbang dengan jumlah siswa. Dengan demikian, inilah tantangan yang harus mampu mencari jalan keluar dan solusi bagi para pegiat literasi.

Habituasi Literasi

Bertolak dari latar belakang di atas, SMPN 2 Parongpong perlu melakukan dan mencari upaya dan jalan keluar. Akhirnya, dengan berbagai tantangan tersebut di atas, sekolah membuat program yang akan mendukung terbentuknya budaya literasi, yaitu dengan istilah Habituasi. Merubah suatu prilaku agar menjadi karakter seseorang.

Tentunya, tidak bisa dilakukan dalam waktu yang sekejap mata, seperti membalikkan tangan, dan sesingkat mungkin. Perlu waktu dan proses pembiasaan atau adaptasi dengan waktu yang lama. Oleh sebab itu, SMP Negeri 2 Parongpong membuat program unggulan untuk mendukung hal tersebut, di antaranya:

  1. Mewajibkan siswa untuk membaca minimal 3 buah buku dalam satu semester”. Hal ini dilakukan dan dibuktikan dengan penulisan Reviu Buku serta Diorama Dunia Baca, sebagai salah satu syarat siswa untuk dapat mengikuti Penilaian Akhir Semester (PAS).
  2. Secara konsisten sekolah mengikuti kegiantan- kegiatan bertajug literasi, seperti TMBB dan GLN Gareulis Jawa Barat, agar siswa dan guru yang mengikuti kegiatan tersebut memiliki target yang terstruktur,
  3. Selain kegiatan-kegiatan di atas, sekolah konsisten melaksanakan pula perlombaan – perlombanan yang bernafaskan literasi baik untuk peserta didik maupun para pendidik di tingkat sekolah maupun luar sekolah.

Contoh kegiatan perlombaan tersebut, seperti lomba menulis puisi, lomba menulis pantun dan menulis cerpen, serta lomba membuat pohon literasi, membuat diorama kelas, yang dibimbing oleh wali kelas dan orang tua peserta didik.

  1. Memberikan Teladan. Memberikan contoh merupakan cara terbaik dalam proses Pendidikan, tak terkecuali dalam bidang literas. Guru sebagai pendidik tentu saja harus menjadi yang pertama memiliki kegemaran membaca dan menulis sebelum dapat menularkannya kepada peserta didik.
    Untuk itulah di SMPN 2 Parongpong memiliki kegiatan:
  2. Kepala Sekolah dan para pendidik harus melaporkan dan menyampaikan reviu buku yang telah di baca,
  3. Setiap satu pekan sekali setelah kegiatan upacara para pendidik harus mampu mempresentasikan buku yang telah dibacanya beserta dengan hikmahnya.
  4. Lalu meninformasikan hasil reviu guru di mading sekolah. Hal ini, dapat menjadi contoh teladan bagi para peserta didik di sekolah.
  5. Melaksanakan kegiatan menulis secara bersama (Writethon). Kepala sekolah, guru, tenaga pendidik dan siswa secara bersama melakukan kegiatan menulis, baik itu berupa pantun, ataupun puisi, kemudian setiap perwakilan peserta didik dari setiap kelas dan pendidiknya membacakan hasil tulisannya.
  6. Memberikan Motivasi.
    Motivasi atau ambisi menjadi hal yang penting,. Tanpa motivasi maka program sebaik apapun tidak akan dapat dijalankan secara maksimal. Untuk itulah, perlu dilakukan motivasi , tekad, dan ambisi yang besar dan konsisten. Artinya secara terus-menerus memberikan sufort agar semangat baja selalu membara dalam dada agar berliterasi tetap terjaga.
    Kegiatan yang mendukung motivasi ini adalah:
  7. Mengikutsertakan siswa dan guru dalam berbagai kegiatan seminar literasi, khususnya mengenai literasi digital. Dimana diketahui bahwa pada masa industri 4.0 ini, kemampuan digital sangat dibutuhkan, yang terutama dalam kegiatan penyampaian informasi dari jejaring internet yang sangat rentan terjadinya penyalahgunaan maupun informasi yang salah (hoax).
  8. Mengikutsertakan guru dalam pelatihan menulis. Kegiatan literasi bukan hanya berkaitan dengan membaca saja, namun juga kemampuan menulis dan menerjemahkan apa yang dibaca maupun apa yang difikirkan menjadi sebuah tulisan.Oleh Karena itu, diperlukan pelatihan khusus untuk berusaha dapat menumbuhkembangkan kemampuan tersebut. Jika guru sudah memiliki kematangan dalam menulis, tentu akan menjadi lebih mudah untuk mentransferkan dan memindahkan kemampuan tersebut kepada peserta didiknya, minimal kepada peserta didik yng tergabung dalam kegiatan tantangan litersi.
  9. Selalu memberikan reward atau penghargaan kepada siswa maupun guru yang memiliki prestasi dalam bidang literasi.Maksudnya, sekolah memberikan apresiasi terhadap pencapain yang didapatkan oleh guru dan siswa sehingga akan memberikan motivasi tidak hanya untuk yang bersangkutan tetapi juga untuk siswa yang lainnya.

Kerjasama, konfirmasi, dan konsultasi sebagai tim yang mumpuni harus selalu dimunculkan untuk melahirkan kekompakan. Demikian pula koordinasi harus selalu terjaga dan terlaksana karena keberhasilan suatu program sangat ditentukan oleh kondusifitas lingkungan. Oleh karena itu, perlu terjalin kerjasama dan kekompakan. Sebagaimana disampaikan dalam (Kompas.com 2020) bahwa kerja sama iti sangat bermanfaat bagi kehidupan manusia.

Manfaat kerja sama antara lain: Kerja sama dapat membuat pekerjaan yang berat menjadi lebih ringan dan cepat. Kerja sama dapat menumbuhkan rasa kebersamaan dan mempererat tali persaudaraan. Kerja sama dapat memupuk rasa sosial dan menciptakan kepedulian terhadap sesama. (Kompas.com.27 Jul 2020).

Untuk itulah, SMPN 2 Parangpong melakukan berbagai kegiatan dalam rangka meningkatkan Gerakan Literasi Sekolah (GLS), antara lain:

  1. Berkomunikasi secara intens dengan komite sekolah dan alumni sehingga mereka dapat turut andil khususnya dalam menanggulangi keterabatasan dan kekurangan sarana dan prasarana di sekolah. Sebagai contoh orang tua siswa dan alumni memberikan bantuan buku-buku bacaan yang layak dibaca oleh siswa sekolah menengah. Orang tua siswa, melalui paguyuban juga dilibatkan secara aktif untuk menyemarakkan kelas dengan pembuatan pohon geulis atau diorama dunia baca, juga pojok-pojok baca di sekolah.
  2. Pembentukan tim literasi lintas bidang studi. Selama ini ada anggapan bahwa literasi hanya monopoli dari guru rumpun bahasa. Dengan demikian dibutuhkan paradigma baru bahwa kemampuan literasi merupakan tanggung jawab semua guru mata pelajaran. Terlebih pada saat ini, pendidikan masa kini, dimana pemerintah menghapuskan system ujian Nasional dan diganti dengan AKM yang pada dasarnya menguji kemampuan literasi baca dan numerasi. Dwngan demikian, Tim GLS SMPN 2 Parongpong harus terdiri dari guru mapel bahasa, IPS, Seni, dan Matematika.

Setelah melewati berbagai tantangan dan juga program literasi, lahirlah  beberapa produk literasi SMPN 2 Parongpong, di antaranya adalah:

  1. Writethon. Sebuah program literasi untuk membangun dan meningkatkan kemampuan menulis siswa dan guru SMPN 2 Parongpong. Teknisnya serupa dengan readathon. Guru dan siswa menulis sebuah tulisan dengan jenis dan tema yang telah ditentukan. Penulisan dilakukan secara serentak dengan durasi waktu yang telah ditentukan juga.
  2. U-tuber (Uniknya Tulisan Berantai)
    Produk ini adalah pengembangan dari writethon namun dilakukan secara berkelompok. Sebuah nanggota kelompok. Di awal, didiskusikan terlebih dahulu benang merah dari cerita yang akan dikembangkan. Anggota kelompok yang pertama betugas membuat awal cerita. Anggota selanjutnya melanjutkan cerita yang telah duawali oleh anggota pertama. Dan begitu selanjutnya hingga cerita selesai. Projek U-tuber menuntut kerja sama dan pengembangan imajinasi sebagai salah satu modal dasar menulis. Projek ini telah melahirkan beberapa tulisan cerita yang salah satunya berjudul Legenda Cibadak yang menceritakan legenda terciptanya daerah Cibadak di mana SMPN 2 Parongpong berdiri.
  3. D’Dors (Di Dupong Ngabodor) Ini adalah produk baru dari literasi digital Dupong. Ini adalah konten You tube Dupong dengan konsep sketsa-sketsa lucu berbahasa Sunda yang diperankan oleh guru dan siswa Dupong. Konten ini diluncurkan di channel you tube Dupong Bersinar. Sehingga dapat dinikmati secara luas baik oleh warga sekolah maupun umum. Video-videonya yang dimunculkan harus berkelanjutan sehingga viewers dapat menikmati terus konten-kontennya. Produk ini jelas menggali bakat dan minat berbagai pihak di sekolah untuk berkolaborasi menghasilkan tayangan.Tayangan-tayanganya juga akan memberikan motivasi bagi siswa lain untuk bisa berkarya baik secara kelompok maupun perseorangan, baik di sekolah maupun mandiri.
  4. 1001 Guruku
    Produk in adalah yang terbaru. Sama halnya dengan D’TenDors, 1001 Guruku adalah konten You Tube yang menceritakan berbagai karakter guru dengan gaya yang menghibur berbentuk parodi maupun informatif, seperti Sehat Bersama Bu Iis, yaitu konten kesehatan yang dibawkan oleh Bu Iis, salah seorang guru yang juga pemerhati nutrisi.
  5. Jalan Bareng Dudu dan Popong. Konten ini berisi perjalan Dudu dan Popong bersama para sahabatnya ke berbagai tempat menarik di sekitar sekolah untuk dijadikan bahan sumber belajar selain di sekolah. Contohnya di video berjudul “Seni Pencak Silat Paguron Domas Geger Hanjuang”. Konten semacam ini akan memberikan banyak manfaat bagi siswa. Mereka belajar aktif di masyarakat, juga membangun kepercayaan diri.

Bertolak dari penjelasan di atas, ternyata program literasi di SMPN 2 Parongpong yang sudah berjalan hampir lima tahun, sedikit banyaknya telah membuahkan hasil yang memuaskan. Hal ini tergambar dari beberapa prestasi yang diraih oleh sekolah, di antaranya SMPN 2 Parongpong mendapatkan 4 medali untuk siswa dan 2 medali untuk guru yang berhasil menuntaskan tantangan membaca dari gubernur dalam program WJLRC. Selain itu, sekolah dapat mengikuti kegiatan Jambore Literasi Tingkat Provinsi di Kiara paying.

Kemudian, selama 3 tahun berturut-turut menjadi sekolah inspiratif literasi tingkat KBB. Siswa SMPN 2 Parongpong atas nama Devita Putri Nandini menjadi siswa dengan jumlah baca buku terbanyak. Pada tahun 2019, ia mampu membaca 230 buku dalam 7 bualan tantangan, dan pada tahun berikutnya mampu menyelesaikan lebih banyak buku, yaitu 325 buku.

Selanjutnya, guru SMPN 2 Parongpong atas nama Dra. Kristiani Prihatiningsih menjadi guru motivator tingkat nasional, serta karya puisisnya terpilih sebagai pemenang Seleksi Nasional Cipta Puisi 2021, dan hasil karyanya diterbitkan dalam kumpulan puisi terbaik berjudul “Seribu Bait Cinta Sang Guru”.

Selain itu, SMPN 2 Parongpong telah menghasilkan lima antologi buku dan dua draf  buku yang merupakan hasil karya seluruh warga dupong, yaitu:

  1. Buku antologi puisi berjudul Daras Hati,
  2. Buku Antologi Pantun Pena Bertuah,
  3. Buku Antologi Cerpen berjudul Lentera Literasi
  4. Buku Antologi Artikel berjudul Senarai Asa Kala Pandemi
  5. Buku Antologi Artikel Jejak Literasi Guru Inspiratif Kala Pandemi

Berikutnya, program-program literasi yang dijalankan oleh SMPN 2 Parongpong juga telah menunjukann hasil yang benar-benar nyata dan mengejutkan bagi seorang siswa. Siswa yang cukup rajin dan aktif di kelasnya, namun seringkali mendadak pingsan tak sadarkan diri bahkan ada kalanya tiba-tiba menangis

Ketika ia banyak melakukan kegiatan membaca buku dan melakukan berbagai literasi baca, dia tak pernah lagi pingsan. Dia tak pernah lagi kerasukan dan tak pernah melamun lagi karena kegiatannya habis dengan kegiatan literasi. Luaar biasa. Inilah kehebatan kegiatan literasi di dunia pendidikan.

Keikutsertaannya dalam tantangan literasi telah merubah pola hidupnya. Meskipun pada awalnya membaca membuatnya jenuh, namun seiring berjalannya waktu kejenuhan berubah menjadi menyenangkan dan mengasyikkan. Sejurus dengan itu, ia tidak pernah tejatuh pingsan lagi karena waktu-waktu disela kegiatan belajar tidak pernah ia biarkan kosong tanpa membaca sebuah buku.

Dari hal ini, terbukti sudah bahwa literasi memang teramat penting, bukan saja berkaitan dengan hal-hal rumit dan angka-angka peringkat PISA, tetapi ia menjadi nyata sebagai obat. Obat penawar bagi hari dan hati yang kosong, mengisinya dengan keyakinan dan harapan.

Merubah sebuah prilaku menjadi kebiasaan yang baik pasti tidak akan mudah, akan banyak tantangan dan hambatan yang dihadapi. Untuk itulah dibutuhkan  perjuangan, kesabaran, keuletan kerjasama, dan program yang secara konsisten dijalankan.

Dalam usaha melaksanakan  gerakan literasi sekolah ini,  diharapkan menjadi salah satu sumbangsih SMPN 2 Parongpong untuk menghadirkan anak-anak yang memiliki wawasan luas, berfir logis dan kritis, memiliki rasa ingin tahu yang tinggi bahkan dapat menghasilkan karyanya sendiri. Sehingga pada akhirnya membawa masa depan anak dan masa depan bangsa ini ke arah yang jauh lebih baik, menjadi negeri yang baldatun toyyibatun wa robbun ghofur.

Penulis adalah Kepala SMPN 2 Parongpong Kab. Bandung Barat- Pewarta/Editor: Adhyatnika Geusan Ulun-Newsroom Tim Peliput Berita Pendidikan Bandung Barat.