Membangun Budaya Positif di Sekolah

Oleh: Rustandi, M.Pd.

 (SMPN 2 Ngamprah)

Budaya positif sangat berkaitan erat dengan materi-materi yang telah dibahas dalam Modul Program Guru Penggerak. Hal ini dikarenakan Budaya Positif menjadi sebuah bagian yang tidak dapat dipisahkan dari refleksi filosofi pendidikan Ki Hadjar Dewantara, Nilai dan Peran Guru Penggerak, serta Visi Guru Penggerak. Jika semuanya dipahami maka akan dapat diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari, terutama di lingkungan sekolah.

Budaya positif yang di dalamnya membahas tentang materi perubahan paradigma, konsep disiplin positif dan motivasi, keyakinan kelas, pemenuhan kebutuhan dasar, lima posisi kontrol, serta segitiga restitusi  dapat ditumbuhkembangkan di sekolah melalui sebuah kegiatan dan pembiasaan yang diawali dan dipelopori oleh calon guru penggerak.

Untuk membangun budaya yang positif, sekolah perlu menyediakan lingkungan yang positif, aman, dan nyaman agar murid-murid mampu berpikir, bertindak, dan mencipta dengan merdeka, mandiri, dan bertanggung jawab.

Salah satu strategi yang perlu ditinjau ulang adalah bentuk disiplin yang dijalankan selama ini di sekolah-sekolah kita.

Sudah sewajarnya, guru di sekolah mulai menerapkan dan membangun budaya positif secara bersama-sama dengan warga sekolah, bahu-membahu dengan dimulai dari diri sendiri, untuk selanjutnya ditularkan kepada murid kita sebagi subyek pendidikan dalam rangka menggapai Profil Pelajar Pancasila.

Seperti diketahui, Profil pelajar Pancasila dapat terbentuk dari lingkungan sekolah yang memiliki budaya positif. Terwujudnya budaya positif ini memerlukan proses dan kolaborasi semua warga sekolah, orang tua, dan lingkungan masyarakat.

Oleh karenanya, diperlukan peran guru penggerak untuk dapat mewujudkannya. Peran guru penggerak sebagai pemimpin pembelajaran dapat secara nyata menggerakkan komunitas praktisi, menjadi coach bagi guru dan mendorong kolaborasi antar guru untuk bersama-sama mewujudkan budaya positif. Peran ini dapat diwujudkan apabila guru penggerak memiliki nilai-nilai mandiri, reflektif, kolaboratif, inovatif, dan berpihak pada murid.

Berdasarkan filosofi Ki Hadjar Dewantara, tidak ada keabadian dalam kehidupan manusia dan lingkungannya. Pengaruh alam dan zaman adalah penguasa kodrat yang tidak bisa dihindari oleh manusia.

Anak-anak merupakan sebuah kehidupan yang akan tumbuh menurut kodratnya sendiri, yaitu kekuatan hidup lahir dan hidup batin mereka. Maka, Ki Hadjar Dewantara menekankan arti penting memperhatikan kodrat alam dalam diri anak semasa pendidikan.

Hal tersebut berarti Pendidikan itu sudah setua usia manusia ketika manusia mulai bertahan hidup dan mempertahankan hidup dengan membangun peradabannya.

Mendidik anak itu sama dengan mendidik masyarakat karena anak itu bagian dari masyarakat. Mendidik anak berarti mempersiapkan masa depan anak untuk berkehidupan lebih baik, demikian pula dengan mendidik masyarakat berarti mendidik bangsa.

Budaya positif di sekolah ialah nilai-nilai, keyakinan-keyakinan, dan kebiasaan-kebiasaan di sekolah yang berpihak pada murid agar murid dapat berkembang menjadi pribadi yang kritis, penuh hormat dan bertanggung jawab.

Dalam mewujudkan budaya positif ini, guru memegang peranan sentral. Guru perlu memahami posisi apa yang tepat untuk dapat mewujudkan budaya positif baik lingkup kelas maupun sekolah.

Selain itu, pemahaman akan disiplin positif juga diperlukan karena sebagai pamong, guru diharapkan dapat menuntun murid untuk menjadi pribadi yang bertanggung jawab. Oleh karena itu, dua konsep yaitu posisi kontrol guru dan disiplin positif yang menjadi landasan dari budaya positif.

Penting bagi guru untuk memahami bagaimana guru harus memposisikan diri saat berhadapan dengan murid. Oleh karena itu, dalam sesi ini kita harus merefleksi diri seperti Guru apa kita selama ini.

Dalam komponen kelas, posisi guru dapat dikatakan sebagai penggerak utama. Hal ini mewujudkan juga adanya kontrol guru dalam proses belajar mengajar. Terwujudnya Budaya Positif, tantangannya banyak dan tidak semua masalah dapat diselesaikan dengan satu cara saja.

Butuh cara yang bervariasi untuk menuntun murid sampai mereka benar-benar dapat berubah menjadi bertanggung jawab dan mandiri. Penerapan akan tidak memberikan hukuman lagi tetapi lebih pada pembinaan terhadap murid, kita harus memosisikan diri sebagai manajer dalam upaya mendidik murid. Artinya membiarkan murid menemukan dan sadar sendiri apa yang dapat dilakukan untuk merubah diri dan apa yang akan dilakukan terkait masalah yang dialami.

Dalam proses menuntun dan mendidik tidak lagi dibutuhkan ancaman, paksaan atau memberi hukuman kepada murid. Praktik nyata tentang segitiga restitusi yang ada dalam modul 1.4 memberi dasar pemahaman kepada kita untuk memupuk disiplin positif.

Disiplin positif merupaka model disiplin yang difokuskan pada perilaku positif murid agar menjadi pribadi yang penuh hormat dan bertanggung.  Disiplin positif mengajarkan keterampilan sosial dan emosional dan keterampilan kehidupan yang penting dengan cara penuh hormat dan membesarkan hati tidak hanya bagi murid tetapi juga bagi orang dewasa (termasuk orangtua, guru, staf administrasi, dan lainnya).

Kebalikan dari disiplin positif adalah disiplin negatif yang berfokus pada hukuman. Disiplin negatif cenderung menghambat perkembangan sosial, emosional dan keterampilan hidup murid. Dengan disiplin positif, guru diharapkan dapat mewujudkan budaya positif baik di kelas maupun sekolah.

Upaya dalam membangun budaya positif di sekolah yang berpihak pada murid diawali dengan membentuk lingkungan kelas yang mendukung terciptanya budaya positif, yaitu dengan menyusun kesepakatan kelas.

Kesepakatan kelas yang efektif dapat membantu dalam pembentukan budaya disiplin positif di kelas. Hal ini juga dapat membantu proses belajar mengajar yang lebih mudah dan tidak menekan.

Seringkali permasalahan dengan murid berkaitan dengan komunikasi antara murid dengan guru, terutama ketika murid melanggar suatu aturan dengan alasan tidak mengetahui adanya aturan tersebut. Kurang adanya komunikasi ini menyebabkan relasi murid dan guru menjadi kurang baik.

Kesepakatan kelas berisi beberapa aturan untuk membantu guru dan murid bekerja bersama membentuk kegiatan belajar mengajar yang efektif. Kesepakatan kelas tidak hanya berisi harapan guru terhadap murid, tapi juga harapan murid terhadap guru. Kesepakatan disusun dan dikembangkan bersama-sama antara guru dan murid.

Dalam menyusun kesepakatan kelas, guru perlu mempertimbangkan hal yang penting dan hal yang bisa dikesampingkan. Murid dapat mengalami kesulitan dalam mengingat banyak informasi, jadi susunlah 4 – 8 aturan untuk setiap kelas. Jika berlebihan, murid akan merasa kesulitan dan tidak mendapatkan makna dari kesepakatan kelas tersebut. Kesepakatan harus disusun dengan jelas sehingga murid dapat memahami perilaku apa yang diharapkan dari mereka.

Sekolah memiliki peran penting dalam membimbing, memperbaiki, dan mensosialisasikan kepada   murid mengenai perilaku yang sesuai. Agar perubahan berhasil, diperlukan pendekatan terkoordinasi yang melibatkan semua peran di komunitas sekolah.

Sekolah perlu bekerja dengan orangtua untuk memastikan konsistensi antara rumah dan sekolah, serta membekali mereka dengan informasi dan alat untuk mempraktikkan disiplin positif di rumah.

Dengan pemahaman yang komprehensif akan konsep budaya positif berikut konsep mengenai posisi kontrol guru dan disiplin positif yang merupakan landasan dalam membangun budaya positif di sekolah, guru memiliki bekal yang memadai dalam menjalankan peran untuk membangun budaya positif di sekolah.

Materi restitusi dengan jelas menguraikan bahwa tujuan restitusi adalah sebagai disiplin positif. Penekanannya bukan pada bagaimana berperilaku untuk menyenangkan orang lain atau menghindari ketidaknyamanan, namun tujuannya adalah menjadi orang yang menghargai nilai-nilai kebajikan yang mereka percayai.

Melalui restitusi ketika murid berbuat salah, guru akan menanggpai dengan cara yang memungkinkan murid untuk membuat evaluasi internal tentang apa yang dapat mereka lakukan untuk memperbaiki kesalahan mereka dan mendapatkan kembali harga dirinya.  Dalam arti itu, maka restitusi menguntungkan korban tetapi juga menguntungkan orang yang telah berbuat salah. Dalam teori restitusi tidak ada yang salah, yang ada adalah menang menang.

Dengan melaksanakan restitusi ini anak dibimbing memperbaiki kesalahannya dan untuk bertanggung jawab atas tindakan yang dilakukannya.

Mudah-mudahan budaya positif di sekolah dapat terwujud seiring dengan penerapan konsep disiplin positif dan motivasi, keyakinan kelas, pemenuhan kebutuhan dasar, lima posisi kontrol, serta segitiga restitusi. Dengan dimulai dari diri, dari yang kecil semoga bisa menular dan mengilhami semua warga sekolah dan profil Pelajar Pancasila dapat terwujud sehingga Merdeka Belajar akan terasa di lingkungan sekolah kita.

Akhirnya, membangun budaya positif yang berpihak pada murid adalah dengan mengembangkan visi bersama tentang apa yang ingin dicapai sekolah. Daripada berfokus pada masalah dan perilaku buruk, ada baiknya kita mulai dengan melihat hal-hal positif yang sudah berhasil di sekolah. Ini semua akan memberikan landasan untuk membangun visi bersama bagi komunitas sekolah yang berpusat pada diri murid dan pemberdayaannya sehingga akan  membawa visi tersebut menjadi kenyataan.***

Pewarta: Adhyatnika Geusan Ulun-Penulis: H. Rustandi,M.Pd (Guru PJOK SMPN 2 Ngamprah Bandung Barat)