Meningkatkan Keterampilan Numerasi Siswa dengan Program ‘Klinik Matematika’

Oleh: Saeful Muhtadin, S.Pd.,Gr.
(SMAN 1 Rongga)

 

Keterampilan numerasi adalah kemampuan seseorang dalam memahami, menggunakan, dan memanipulasi angka. Ini mencakup pemahaman terhadap konsep matematika dasar, seperti penjumlahan, pengurangan, perkalian, pembagian, pemahaman terhadap fraksi, desimal, persentase, geometri dasar, dan kemampuan dalam menafsirkan data numerik. Konsep dasar numerasi memang berkaitan erat dengan matematika.

Matematika adalah disiplin ilmu yang mempelajari pola, struktur, ruang, dan kuantitas. Dalam konteks keterampilan numerasi, matematika memberikan landasan untuk memahami dan menggunakan angka serta konsep-konsep matematika lainnya secara efektif. Konsep dasar matematika yang penting untuk keterampilan numerasi meliputi : Penjumlahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian; Pemahaman tentang bilangan bulat, desimal, fraksi, dan persentase; Geometri dasar, termasuk pengukuran dan perbandingan bentuk dan ukuran; Pemahaman tentang pola dan hubungan matematis; dan Kemampuan dalam membaca dan menafsirkan data numerik dalam berbagai bentuk, seperti tabel, diagram, dan grafik.

Dengan memahami konsep-konsep dasar matematika ini, seseorang dapat mengembangkan keterampilan numerasi yang kuat untuk digunakan dalam berbagai konteks kehidupan sehari-hari dan profesional. Keterampilan numerasi penting dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam hal keuangan pribadi, berbelanja, memasak, serta dalam banyak bidang profesional seperti ilmu pengetahuan, teknologi, ekonomi, dan bisnis. Kemampuan numerasi yang baik membantu seseorang untuk membuat keputusan yang cerdas berdasarkan data, memecahkan masalah, dan mengembangkan keterampilan kritis dalam berpikir.

Latar Belakang

Matematika adalah Pelajaran yang dianggap sulit oleh Sebagian besar siswa kami, mereka cenderung tidak mempunyai semangat dalam mengikuti pembelajaran matematika karena mereka tidak mempunyai pemahaman dasar sebagai penunjang berbagai konsep materi matematika.

Dalam beberapa budaya atau lingkungan, terdapat stigma sosial terhadap kesulitan dalam matematika, di mana kesulitan dan stigma tadi dianggap sebagai tanda ketidakmampuan atau kebodohan. Hal ini dapat menciptakan tekanan tambahan dan meningkatkan rasa tidak nyaman terhadap matematika.

Pandangan negatif terhadap pelajaran matematika bisa berasal dari berbagai faktor, dan ini dapat memengaruhi cara seseorang memandang negatif pembelajaran matematika. Sebagian besar siswa kami mengalami kesulitan dalam memahami konsep-konsep matematika, yang dapat menyebabkan frustrasi dan perasaan tidak percaya diri. Beberapa orang mungkin merasa bahwa materi matematika yang dipelajari di sekolah tidak relevan dengan kehidupan sehari-hari atau tidak berguna dalam karier atau kehidupan mereka di masa depan.

Tanpa melihat hubungan antara matematika dengan kehidupan nyata, seseorang mungkin kehilangan minat dan motivasi dalam mempelajari matematika. Beberapa siswa mungkin merasa bahwa matematika memerlukan tingkat kecerdasan atau kemampuan yang tinggi, mereka tidak merasa cukup pintar, mereka mungkin merasa bahwa matematika bukan untuk mereka. Rasa rendah diri ini bisa menjadi penghalang bagi motivasi dalam mempelajari matematika.

Hampir dalam setiap materi matematika mereka sepertinya mengalami kesulitan untuk memahami materi yang disampaikan. Ketidaknyamanan ini terus berjalan yang membuat mereka sepertinya tidak termotivasi dalam mengikuti pembelajaran matematika, apalagi jika dihadapkan pada tes/AKM dimana soal-soalnya berbentuk literasi dan numerasi, sehingga berimbas pada pencapaian nilai rapot sekolah yang masih rendah dalam numerasai.

Puncak dari ketidanyamanan ini akhirnya mereka mengeluhkan pada guru matematika, sepertinya mereka memerlukan bimbingan khusus supaya kekurangan pemahaman konsep dasar matematika dapat diatasi. Kami sebagai guru perlu mengakomodir keinginan siswa karena secara tidak langsung ini juga akan berdampak baik pada sekolah.

Pada aspek lain bisa jadi dasar bahwa kepemimpinan siswa yang harus terus dikembangkan dengan mengimplementasikan program yang berpihak pada murid untuk membentuk karakter profil pelajar Pancasila. Kegiatan penguatan dengan ‘Klinik Matematika’ mendapatkan respon dan minat yang baik berdasarkan hasil wawancara dengan siswa jika diberikan kegiatan penguatan yang menyenangkan

Setelah melakukan berbagai Analisa serta kolaboratif antar semua unsur, muncullah ide untuk mengakomodir keinginan siswa tersebut dengan meluncurkan program numeri yang kami namakan “KLINIK MATEMATIKA”. Kegiatan ini sudah dimasukan ke dalam visi misi sekolah saat perubahan visi misi pada pergantian semester

Tujuan dilaksanakannya Program kokulikuler ‘Klinik Matematika’ 

  1. Melatih keterampilan dan mengembangkan pengetahuan siswa dalam bidang matematika;
  2. Mendorong siswa mengembangkan cara berpikir yang sistematik, terbuka dan kritis;
  3. Menghasilkan sesuatu yang bermakna dan berdampak dalam beragam permasalahan sehari-hari yang berbentuk numerasi pada siswa.

Impelementasi Program ‘Klinik Matematika’

Program penulis rancang untuk diimplementasikan dalam waktu satu tahun dengan rencana waktu pada semester satu dan dua TP 2024-2025 tepatnya pada bulan Juli 2024, teknis pelaksanaannya adalah setiap hari selasa dan jum’at dimulai dari pukul 07.00-07.30 sebelum kegiatan KBM berlangsung. Kolaborasi antar wali kelas, guru matematika dan guru yang mempunyai jadwal di jam pertama sebagai pelaksanannya, mereka secara rutin mengasah konsep dasar matematika sesuai waktu yang dijadwalkan pada semua kelas. Sehari sebelum kegiatan ini berlangsung guru matematika sudah menyampaikan materi yang akan disampaikan kepada semua guru yang mempunyai tugas mengisi kegiatan “KLINIK MATEMATIKA”

Tahapan Bagja

Berikut ini adalah penjelasan tentang tahap-tahap dalam melakukan program ini. Pertama yaitu : Buat pertanyaan yang menyangkut kegiatan yang akan dilakukan. Kedua adalah ambil pelajaran, dalam melakukan tahapan ini pengalaman individu atau kelompok dapat diambil. Ketiga Gali Mimpi Bersama, tahapan ini menuntut komunitas sekolah termasuk murid, guru, kepala sekolah, dan staff sekolah memberikan pemahaman kalau mimpi atau cita-cita itu penting. Dalam melakukan tahapan ini kita bisa mulai dari pertanyaan, apakah kebiasaan-kebiasaan baru yang bisa kita bayangkan akan terjadi di masa depan?. Keempat yaitu jabarkan rencana untuk mencapai gambaran yang diinginkan, pada tahap ini penulis dapat mengidentifikasi tindakan yang diperlukan dan mengambil keputusan-keputusan. Yang terakhir adalah atur Eksekusi, tahapan ini membantu transformasi rencana menjadi nyata.

Program ini merupakan kegiatan kokurikuler dilaksanakan sebagai penguatan atau pendalaman materi matematika yang dibutuhkan di hampir setiap mata pelajaran. Program ini dilakukan seperti kegiatan pengayaan mata Pelajaran matematika yang dapat menguatkan karakter murid.

Kegiatan klinik matematika dilakukan sejalan dengan mata pelajaran matematika yang diajarkan di sekolah. Ini adalah kegiatan yang mendukung dan melengkapi kurikulum formal, kegiatan ini dilakukan dengan diorganisir dalam lingkungan sekolah dan dapat mencakup aspek sains dan aktivitas sosial. Kegiatan ini menjadi wadah bagi siswa untuk mengeksplorasi minat mereka yang tidak tercakup dalam pembelajaran klasikal.

Proses pembelajaran murid melibatkan berbagai pihak, dan tanggung jawabnya dapat dibagi antara guru, siswa, sekolah, dan bahkan keluarga. Tetapi kendali penuh ada pada siswa sendiri, prinsipnya adalah kita tidak bisa mengatur orang lain termasuk murid tetapi murid sendiri yang harus menjaga kendali itu.

Siswa memiliki peran dalam mengambil inisiatif untuk belajar secara aktif. Mereka perlu berpartisipasi, bertanya, dan terlibat dalam proses pembelajaran. Murid dapat memegang kendali dengan menetapkan tujuan pembelajaran pribadi mereka, ini membantu mereka memiliki fokus dan motivasi. Keterlibatan dan peran aktif murid dalam berbagai program dan kegiatan pembelajaran sekolah dapat memberikan kontribusi positif yang signifikan bagi lingkungan dan masyarakat.

Berikut adalah beberapa cara di mana hal ini dapat terjadi: Pembangunan Karakter dan Nilai Positif, Peningkatan Kesadaran Sosial dan Tanggung Jawab Sosial, Pembentukan Keterampilan Kewirausahaan, Peningkatan Keterampilan Komunikasi dan Pemecahan Masalah, Pengembangan Keterampilan Kritis dan Kreativitas, Pemberdayaan Komunitas dan Pemimpin Masa Depan, Peningkatan Keterlibatan Keluarga, Pemahaman Lingkungan dan Keberlanjutan, Mendukung Pengembangan Pendidikan Lokal, Pemberdayaan Individu dan Komunitas.

Konsep suara (voice), pilihan (choice), dan kepemilikan (ownership) pada murid merujuk pada upaya untuk memberikan murid kontrol lebih besar atas pengalaman pembelajaran mereka. Inilah makna dari ketiga konsep tersebut :  Suara (Voice), makna suara pada murid mencakup memberikan mereka kesempatan untuk mengemukakan pendapat, menyampaikan ide, dan berkontribusi dalam keputusan yang memengaruhi pengalaman belajar mereka. Implementasinya dengan memberikan kesempatan pada murid untuk berpartisipasi dalam diskusi kelas, mendorong penggunaan proyek atau tugas kreatif di mana murid dapat mengekspresikan pandangan atau pemikiran mereka. Pilihan (Choice), makna ini memberikan murid pilihan berarti mengizinkan mereka memiliki kendali atas beberapa aspek dari pembelajaran mereka, seperti topik penelitian, metode presentasi, atau cara menyelesaikan tugas. Implementasinya adalah denga memberikan pilihan topik proyek atau tugas yang sesuai dengan minat mereka, engizinkan murid untuk memilih cara mengekspresikan pemahaman, seperti melalui presentasi lisan, tulisan, atau proyek visual. Kepemilikan (Ownership), maknanya adalah  kepemilikan pada murid berarti membuat mereka merasa memiliki proses pembelajaran dan hasilnya. Ini mencakup tanggung jawab terhadap pembelajaran mereka sendiri dan keterlibatan aktif dalam proses tersebut. Implementasinya adalah dengan mendorong murid untuk mengambil tanggung jawab atas tujuan pembelajaran pribadi mereka, memberikan kesempatan kepada mereka untuk merencanakan, melaksanakan, dan mengevaluasi proyek atau tugas mereka sendiri.

Dengan menerapkan konsep suara, pilihan, dan kepemilikan, pendekatan pembelajaran menjadi lebih inklusif, responsif terhadap kebutuhan individu murid, dan mendorong keterlibatan yang lebih dalam. Ini memungkinkan setiap murid merasa didengar, diberdayakan untuk membuat keputusan yang berarti, dan memiliki tanggung jawab penuh terhadap pembelajaran mereka. Pendekatan ini juga membantu membentuk sikap positif terhadap belajar, meningkatkan motivasi, dan merangsang perkembangan pribadi yang holistik.

Rencana Evaluasi perlu dilakukan demi menjaga kegiatan program agar berjalan berkesinambungan dengan Langkah-langkah :

  1. Kepala sekolah melakukan monitoring jalannya kegiatan kokulikuler ‘klinik matematika’
  2. Melakukan refleksi mingguan setelah kegiatan kokulikuler ‘klinik matematika’ berlangsung
  3. Semua guru matematika melakukan pertemuan 1 bulan sekali untuk mengevaluasi kegiatan yang sudah berjalan
  4. Membuat angket siswa secara berkala untuk mengetahui kekurangan dan kelemahan program yang sudah berjalan

Dalam setiap Langkah dan kegiatan ini memungkinkan adanya tantangan yang dihadapi yaitu satu dikhawatirkan guru dan siswa menjadi tidak konsisten dalam menjalankan program. Rencana Solusi yang akan dilakukan adalah dengan koordinasi dengan Waka kurikulum agar program tertuang dalam jadwal Pelajaran. Dua guru masih kurang pengalaman karena ini adalah program  baru yang ada di sekolah, rencana Solusi adalah bekerjasama dengan komunitas belajar untuk meningkatkan kualitas guru dalam memberikan pembelajaran yang menarik.

Simpulan

Dengan adanya program kokulikuler ‘Klinik Matematika’ diharapkan dapat membantu melatih keterampilan dan mengembangkan pengetahuan siswa dalam bidang matematika, siswa diharapkan mampu mengembangkan cara berpikir yang sistematik, terbuka dan kritis, serta dapat menghasilkan sesuatu yang bermakna dan berdampak dalam beragam permasalahan sehari-hari yang berbentuk numerasi pada siswa. Program ini juga diharapkan mampu memberikan dampak positif atau memberi manfaat bagi sekolah termasuk dapat meningkatkan nilai lapor sekolah dalam keterampilan numerasi. Dengan kolaborasi dan sinergitas yang terjalin dengan baik mudah-mudahan dapan membantu efisiensi dan efektivitas penggunaan sumber daya yang ada di sekolah tentunya diperlukan evaluasi terhadap kegiatan yang sudah berjalan.

Kesinambungan dan keberlanjutan program ‘Klinik Matematika’ semoga dapat dipertahankan dan berkelanjutan dalam jangka Panjang, hal ini bisa berjalan andai semua aspek bisa dipenuhi yang mencakup ketersediaan sumber daya yang diperlukan, dukungan dari pemangku kepentingan, dan integrasi program ke dalam kebijakan atau praktik yang ada. Diperlukan juga rekomendasi untuk perbaikan atau pengembangan karena berdasarkan evaluasi terhadap pelaksanaan dan hasil program sangat berguna bagi perbaikan atau pengembangan program di masa depan. Ini dapat mencakup saran untuk penyesuaian strategi, peningkatan sumber daya, atau perubahan dalam pendekatan atau metode. **