MENTAL PESERTA DIDIK DI ERA DIGITAL

Deni Ramdani, M.Pd

(Kasubag Kepegawaian dan Umum Disperindag KBB)

Sekarang ini, anak-anak paruh baya jarang berkumpul dengan rekan sekolahnya bukan karena proses pembelajaran jarak jauh, daring atau luring. Bukan juga karena masa pandemi Covid-19 dan perpanjangan PPKM. Bahkan dengan orang tua dan masyarakat sekitar pun sudah jarang berkumpul. Ini disebabkan karena ketergantungan pada gadget yang dapat menimbulkan dampak secara mental, baik sosial, psikis, maupun fisik.

Sepintas terlihat dari kerumunan anak-anak paruh baya di suatu tempat sedang asyik bermain dengan gadgetnya masing-masing. Mereka memainkan piranti tersebut dengan game yang menjadikan kesukaanya. Jari-jemarinya begitu mahir dalam menekan tombol yang ada. Pandangan matanya fokus dan tidak terlalu peduli pada rekan di sampingnya. Begitupun rekan di sampingnya, padahal anak-anak paruh baya tersebut sedang berkumpul bersama dalam tempat yang sama.

Di masa pandemi Covid-19 dan perpanjangan PPKM  yang mendorong Dinas Pendidikan untuk mengambil sejumlah kebijakan sebagai upaya untuk tetap menjaga marwah pendidikan agar tetap berlangsung sesuai dengan harapan semua pihak. Seperti diketahui, proses pembelajaran di sekolah sekarang ini tidak dilaksanakan dengan model tatap muka. Hal ini sebagai implementasi SKB Empat Menteri yang bertujuan agar meminimalisasi penyebaran Covid-19. Kegiatan pembelajaran pun diarahkan ke model jarak jauh, baik daring maupun luring.

Seperti diketahui, pembelajaran jarak jauh merupakan proses belajar mengajar dengan menggunakan berbagai media. Gadget salah satu bagian dari unsur pendukung lainya dalam proses pembelajaran. Tanpa mengurangi kualitas pendidikan bagi peserta didik yang tidak dapat mengikuti pendidikan tatap muka, tujuannya untuk meningkatkan perluasan dan pemerataan akses terhadap pendidikan yang bermutu dan relevan sesuai kebutuhan.

Sementara untuk peserta didik sebelum penyebaran Covid-19, yang namanya  gadget oleh orang tua bukanlah sebagai skala prioritas. Karena Pembelajaran jarak jauh, suka tidak suka untuk peserta didik harus mempunyai media, salah satunya adalah gadget. Di sisi lain, handphone merupakan salah satu jenis gadget yang paling banyak digunakan karena secara nominal handphone terjangkau oleh kalangan menengah ke bawah.

Dalam pembelajaran jarak jauh bukan tidak ada kendala terhadap proses pembelajaran atau terhadap peserta didiknya. Dalam proses pembelajaran, khususnya di pelosok yang lokasi rumahnya tidak terjangkau jaringan internet, termasuk kuota internet. Media pembelajaran yang digunakan para guru dominan terasa monoton. Hal ini membuat peserta didik merasa jenuh dan membosankan. Tidak terawasinya peserta didik secara langsung oleh pendidik saat proses pembelajaran karena di luar lingkup sekolah dan juga oleh orang tua saat di rumah, berdampak terhadap peserta didik terkait dengan gadget yang digunakan.

Mereka menjadi terlalu bergantung kepada gadget, sementara dalam media tersebut penyebaran informasi-informasi yang menyesatkan menjadi lebih mudah. Bahaya gadget bagi anak anak paruh baya dapat menimbulkan dampak mental, sosial, psikis, dan fisik.

Hal di atas, dampak Sosial yang muncul adalah  membuat anak-anak paruh baya menjadi jarang berkumpul, bercanda secara normal dengan teman-temannya ataupun dengan keluarga. Sementara,
secara psikis, dampaknya adalah membuat mereka ketagihan dan selalu ingin memainkan permainan yang tidak ada kaitannya dengan kegiatan belajar-mengajar. Akibatnya, anak-anak paruh baya akan
melakukan berbagai cara untuk memuaskan keinginannya.

Di lain pihak, secara fisik hal di atas, membuat anak-anak belum merasakan dampaknya secara langsung, karena masa-masa pertumbuhan, masa-masa berkembang. Namun,  dampak negatif dalam jangka panjang dapat menyebabkan syaraf mata dan otak terganggu, serta dapat menyebabkan dampak fisik lainnya.

Biar bagaimanapun, gadget ini sudah menjadi bagian dari hidup yang sulit untuk dipisahkan. Diperlukan sikap bijak dalam menggunakanya.  Artinya, jangan terlalu lama berada di posisi yang sama saat menggunakannya.

Sesunggunya, kesehatan mental yang baik adalah kondisi ketika batin kita berada dalam keadaan tentram dan tenang. Sehingga memungkinkan kita untuk menikmati kehidupan sehari-hari dan menghargai orang lain di sekitarnya. Hal ini dikarenakan belajar adalah perubahan perilaku sebagai hasil dari pengalaman. Belajar juga merupakan sesuatu yang dilakukan untuk menguasai hal tertentu yang diperkuat melalui latihan sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya.

akhirnya, penggunaan gadget tanpa disadari sudah mengubah pola hidup serta mental anak-anak paruh baya, baik sosial, pisikis, maupun fisik. Perubahan ini bisa memberikan dampak buruk dalam jangka pendek, dan jangka panjang. Jadi, kita perlu lebih bijak dalam menggunakan teknologi yang satu ini.*