Pemimpin dalam Pengelolaan Sumber Daya Sekolah

Oleh: Taufik Mulyana, M.Pd

(SDN Tunas Karya Kab. Bandung Barat)

Pemimpin Pembelajaran dalam pengelolaan sumber daya merupakan pemanfaatan pada aset-aset sekolah yang dimiliki dan dikelola dengan baik oleh seorang pemimpin pembelajaran sebagai sebuah kekuatan/potensi sekolah sesuai kodrat alam dan kodrat zaman.

Sekolah merupakan sebuah ekosistem yang di dalamnya terdapat tata interaksi antara makhluk hidup dan unsur yang tidak hidup dalam sebuah lingkungan. Sebuah ekosistem mencirikan satu pola hubungan yang saling menunjang pada sebuah teritorial atau lingkungan tertentu.

Jika diibaratkan sebagai sebuah ekosistem, sekolah adalah sebuah bentuk interaksi antara faktor biotik (unsur yang hidup) dan abiotik (unsur yang tidak hidup). Kedua unsur ini saling berinteraksi satu sama lainnya sehingga mampu menciptakan hubungan yang selaras dan harmonis.

Dalam ekosistem sekolah, faktor-faktor biotik akan saling memengaruhi dan membutuhkan keterlibatan aktif satu sama lainnya. Faktor-faktor biotik yang ada dalam ekosistem sekolah, yaitu: Murid, Kepala Sekolah, Guru, Staf/Tenaga Kependidikan, Pengawas Sekolah, Orang Tua, Masyarakat sekitar sekolah.

Selain itu, faktor faktor abiotik seperti: Keuangan dan Infrastruktur atau sarana prasarana juga berperan aktif dalam menunjang keberhasilan proses pembelajaran di sekolah.

Pemikiran Ki Hadjar Dewantara bahwa pendidikan sebagai sebuah proses Menuntun segala kodrat yang ada pada anak -anak, agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi -tingginya baik sebagai manusia maupun sebagai anggota masyarakat. Maka, sebagai pemimpin pembelajaran dalam pengelolaan sumber daya sekolah, seharusnya memanfaatkan seluruh kodrat alam dan kodrat zaman yang ada sebagai sebuah kekuatan aset yang dimiliki untuk mendorong sebuah agen perubahan transformasi pendidikan dalam mewujudkan merdeka belajar bagi murid dan guru.

Adapun pendekatan yang dapat kita lakukan melalui aset sekolah adalah pendekatan berbasis kekurangan/masalah (Deficit-Based Thinking) yang akan memusatkan perhatian kita pada apa yang mengganggu, apa yang kurang, dan apa yang tidak bekerja. Segala sesuatunya akan dilihat dengan cara pandang negatif.

Kita harus bisa mengatasi semua kekurangan atau yang menghalangi tercapainya kesuksesan yang ingin diraih. Semakin lama, secara tidak sadar kita menjadi seseorang yang terbiasa untuk merasa tidak nyaman dan curiga yang ternyata dapat menjadikan kita buta terhadap potensi dan peluang yang ada di sekitar.

Pendekatan berbasis aset/kekuatan (Asset-Based Thinking) adalah sebuah konsep yang dikembangkan oleh Dr. Kathryn Cramer, seorang ahli psikologi yang menekuni kekuatan berpikir positif untuk pengembangan diri. Pendekatan ini merupakan cara praktis menemukan dan mengenali hal-hal yang positif dalam kehidupan, dengan menggunakan kekuatan sebagai tumpuan berpikir, kita diajak untuk memusatkan perhatian pada apa yang bekerja, yang menjadi inspirasi, yang menjadi kekuatan ataupun potensi yang positif.

Apabila kita mengaitkan dengan visi, misi, nilai dan peran Guru Penggerak.maka, seharusnya komunitas sekolah memusatkan pendidikan yang berpihak pada murid dan berorientasi pada lingkungan bersih, indah, serta nyaman demi mewujudkan nilai dan peran guru penggerak yang mandiri, reflektif, kolaboratif, inovatif, berjiwa pancasila, dan berpihak pada murid sebagai sebuah agen perubahan di sekolah.

Kekuatan yang dibangun oleh pemimpin pembelajaran dalam pengelolaan sumber daya di kelas, sekolah, dan masyarakat yang mumpuni, akan mengembangkan potensi yang dimiliki sebagai budaya positif bagi pola interaksi lingkungan biotik dan abiotik sekolah dalam bentuk pemetaan tujuh aset sekolah yang sangat berdampak positif dan berkualitas sebagai contoh bagi sekolah lainnya.

Menurut Green dan Haines (2002) dalam Asset building and community development, ada tujuh aset utama sebagai modal utama sekolah, yaitu manusia, sosial, fisik, lingkungan/alam, finansial, politik, agama, dan budaya

Penulis sebagai Calon Guru Penggerak (CGP) harus membuat rancangan tindakan dengan sistem BAGJA-Buat Pertanyaan), Ambil Pelajaran, Gali Mimpi), Jabarkan Rencana, Atur Eksekusi- yang merupakan sebuah model manajemen perubahan yang berbasis kekuatan yaitu IA (Inkuiri Apresiatif)

Pemetaan dan pengelolaan asset atau sumber daya dilakukan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran di kelas , meningkatkan minat belajar, menjadikan siswa senang dan bahagia belajar atau mewujudkan “well-being” siswa. Program ini juga bertujuan mewujudkan kepemimpinan murid dengan melibatkan siswa dalam mengorganisir perubahan tersebut. Sehingga harapannya tentunya hal tersebut akan berdampak pada peningkatan kualitas pendidikan secara umum.

Sementara itu, tolok ukur dari inisiasi perubahan adalah tercapainya suasana kelas yang nyaman dan menyenangkan, tercapainya kualitas pembelajaran yang lebih berkualitas, siswa senang dan bahagia belajar. Kemudian, untuk melakasanakan aksi nyata diperlukan kolaborasi semua pihak di sekolah, sehingga penulis memerlukan bantuan pemangku kepentingan di sekolah, seperti; kepala sekolah-rekan sejawat, staf TU, siswa. orang tua, dan juga sarana dan prasarana.

Selanjutnya, untuk melaksanakan aksi nyata, berdasarkan BAGJA di atas, penulis meminta murid untuk menggali cita-cita dan harapan tentang kelas impian mereka dengan menginventarisir potensi dan kekuatan, contohnya: Apa yang bisa kita lakukan untuk membuat kelas lebih menyenangkan? Bagaimana mewujudkan kelas yang nyama dan menyenangkan?

Kemudian, penulis mengidentifikasi hal-hal yang diinginkan, contohnya: apa pengalaman menyenangkan yang pernah siswa alami. Lalu, penulis menanyakan kepada siswa , menanyakan pendapat setiap angota kelas tentang pendapat dan perasaan mereka tentang impian kelas yang nyaman dan menyenangkan, contohnya: Seperti apa kelas yang menyenangkan? Bagaimana perasaan kelas yang nyaman dan menyenangkan?

Berikutnya, penulis membuat capaian yang realistis, misalnya: Apa langkah-langkah untuk menyiapkan kelas yang nyaman dan menyenangkan? Bagaimana pengaturan kelas agar tetap nyaman dan menyenangkan?

Akhirnya, penulis menyusun tim kerja, misalnya: Siapa saja yang terlibat dan apa saja peran masing-masing murid?

Dengan tahapan di atas, diharapkan dapat membuat proses pembelajaran menjadi jauh lebih efektif, menarik, dan menyenangkan. Terutama dapat memanfaatkan semua potensi yang dimiliki sekolah bagi terwujudnya pemimpin pembelajaran yang berpihak pada murid sesuai dengan harapan semua pihak.***

Pewarta: Adhyatnika Geusan Ulun-Newsroom Tim Peliput Berita Pendidikan Bandung Barat

Profil Penulis:

Taufik Mulyana, S.Pd, M.Pd., mengajar di SDN Tunas Karya Kec. Parongpong Kab. Bandung Barat, lulus S1 PGSD 2008 di UPI Bandung  dan melanjutkan Pasca-Sarjana PIPS di STKIP Pasundan Cimahi lulus tahun 2013.