Pendidikan yang Memerdekakan


Endang Wahyu Widiasari, M.Pd
(Guru IPS di SMPN 4 Cikalongwetan)

Selalu teringat kata kata Ibuku sampai hari, yang membuat aku selalu berupaya menyayangi dan mengedepankan kepentingan anak-anak. Kata-katanya sederhana tapi mempunyai makna yang dalam, kalau dicerna lebih dalam mungkin itulah benang merah dari pemikiran Ki Hajar Dewantara (KHD).

Ketika itu beliau memberikan petuah dalam bahasa daerah, yang sering kami gunakan di rumah, yaitu bahasa sunda. Walau Ibu asli keturunan Jawa Timur, akan tetapi pengucapan bahasa sundanya sangat halus, terkadang tak ada yang mengira kalau beliau berasal dari daerah Jawa Timur. Beliau punya prinsip di mana bumi di pijak di situ langit dijunjung, dimataku beliau adalah pembelajar sejati sama halnya juga dengan almarhum Ayahanda tercinta.

Kata-kata yang diucapkan dalam bahasa daerah kira kira seperti ini jika di terjemahkan kedalam bahasa Indonesia. “Neng (panggilan untuk diriku) harus banyak bersyukur, sudah punya pekerjaan yang tetap, dan sudah lolos menjadi Pegawai Negeri Sipil/Guru, bukannya mendahului takdir Allah. Insya Allah gajih setiap bulan akan didapatkan, bahkan mungkin kalau nanti pengsiun akan mendapatkan gajih tetap juga dari pemerintah. Tapi lihatlah anak-anak didikmu! mereka belum tentu menjadi apa. Tugas Neng lah untuk membantu mereka mencapai cita-citanya. Sayangi mereka, berbahagialah di kelasmu, berkreasi dengannya, utamakan kepentingan mereka, jangan banyak meninggalkannya hanya untuk hal-hal yang tidak penting. Guru harus betah di kelas bersama anak-anak. Karena anak-anakmu seperti tanaman yang masih rapuh dan perlu terus disiram supaya tumbuh subur. Tugas Neng lah untuk menyirmi mereka supaya tumbuh dan berkembang. Semoga itu akan menjadi jalan untuk mencapai ridho Nya”. Tentunya tanpa melupakan kewajiban sebagai ibu rumah tangga.

Ibuku adalah salah seorang pengsiunan guru sekolah dasar, beliau tamatan salah satu Sekolah Pendidikan Guru setingkat SMA. Banyak sekali inspirasi dari beliau, semoga Allah selalu melindungi kedua orang tua kami, amin….
Kata-kata Ibuku memang sederhana tapi dahsyat. Jika direnungkan, bisa jadi petuahnya itu adalah benang merah dari pemikiran Bapak Pendidikan KHD, yang sedang aku perdalam sekarang. Pendidikan yang memuliakan anak.

Ketika dulu di bangku kuliah sebenarnya sudah memiliki bukunya, tapi belum sempat dibaca sampai selesai dan tidak begitu mendalaminya. Baru sekarang ketika mengikuti pendidikan guru penggerak aku berusaha memahaminya dan mendalami pemikiran KHD, gagasan-gagasanya sangat luar biasa untuk mewujudkan pendidikan yang memuliakan anak/mengutamakan kepentingan anak.

Ki Hajar Dewantara atau dikenal dengan nama asli Soewardi Surjaningrat adalah salah satu tokoh penting dalam sejarah bangsa Indonesia, pemikiran-pemikiranya untuk dunia pendidikan tak lekang ditelan jaman. Beliau adalah tokoh pelopor dan pendiri taman siswa, serta pernah diangkat sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan pertama setelah Indonesia merdeka.

Selama ini seringnya kita belajar teori-teori pendidikan berkiblat pada pemikiran luar, hal itu tentunya tidak salah, akan tetapi ada hal yang kita lupakan, sebenarnya kita punya Bapak pendidikan, pemikiran-pemikiranya sangat sesuai dengan falsapah bangsa Indonesia, sesuai dengan jati diri dan kebudayaan bangsa kita. Jika dicermati lebih dalam, pemikiran-pemikiranya sungguh mempunyai makna yang luas. Beliau juga berasal dari negeri kita sendiri, rasanya ada ikatan rasa kebanggan.

Beliau menjelaskan bahwa tujuan pendidikan yaitu: menuntun segala kodrat yang ada pada anak-anak, agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya, baik sebagai manusia maupun sebagai anggota masyarakat. Oleh sebab itu, pendidik itu hanya dapat menuntun tumbuh atau hidupnya kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak, agar dapat memperbaiki lakunya (bukan dasarnya) hidup dan tumbuhnya kekuatan kodrat anak.

Dalam menuntun laku dan pertumbuhan kodrat anak, KHD mengibaratkan peran pendidik seperti seorang petani atau tukang kebun. Anak-anak itu seperti biji tumbuhan yang disemai dan ditanam oleh pak tani atau pak tukang kebun di lahan yang telah disediakan. Anak-anak itu bagaikan bulir-bulir jagung yang ditanam. Bila biji jagung ditempatkan di tanah yang subur dengan mendapatkan sinar matahari dan pengairan yang baik maka meskipun biji jagung adalah bibit jagung yang kurang baik (kurang berkualitas) dapat tumbuh dengan baik karena perhatian dan perawatan dari pak tani.

Demikian sebaliknya, meskipun biji jagung itu disemai adalah bibit berkualitas baik namun tumbuh di lahan yang gersang dan tidak mendapatkan pengairan dan cahaya matahari serta ‘tangan dingin’ pak tani, maka biji jagung itu mungkin tumbuh namun tidak akan optimal.
Dari filosopi petani di atas dapat kita tarik benang merah, kalau setiap anak mempunyai potensi yang berbeda beda, tidak ada manusia di dunia ini yang sama, dan itu adalah salah satu bentuk kekuasaan Tuhan yang Maha Esa. Melalui pendidikan yang berkualitas dan bermakna harus bisa membentuk karakter peserta didik, pembentukan mental, sosial, moral, dan nilai religius agar mereka bisa hidup dijamannya.

Sebagai guru kita harus manpu untuk membuka cakrawala pemikiran anak didik kita, menggali potensi-potensi yang ada padanya, membuat mereka terbuka dengan hal-hal baru dan juga berwawasan global, tanpa melupakan nilai-nilai kearifan budaya lokal/nusantara.
Tentu saja itu bukan menjadi tugas guru saja, akan tetapi menjadi tugas kita bersama, sinergi antara keluarga, sekolah dan masyarakat yang oleh Bapak KHD sebut sebagai Tri Pusat Pendidikan yaitu, pendidikan di lingkungan keluarga, pendidikan di lingkungan perguruan, pendidikan di lingkungan masyarakat.

Menurut penulis, tidaklah usah berpikir hal-hal yang sulit untuk mengembangkan potensi anak-anak didik kita. Salah satu yang bisa dilakukan oleh guru untuk membantu peserta didik mengembangkan potensinya adalah, dengan cara menciptakan kegiatan pembelajaran yang menyenangkan dan membahagiakan. Memahami kodrat yang dimiliki oleh seorang anak, memberikan perlakuan sesuai dengan karakter dan gaya belajar yang dimilikinya tanpa harus merampas haknya sebagai seorang anak yang butuh bermain dalam proses pembelajarannya.

Menciptakan pembelajaran yang memerdekakan anak didik. Merdeka belajar merupakan sebuah gagasan yang membebaskan para guru dan siswa dalam menentukan sistem pembelajaran. Tujuan dari merdeka belajar, yakni menciptakan pendidikan yang menyenangkan bagi siswa dan guru. Merdeka belajar juga menekankan pada aspek pengembangan karakter yang sesuai dengan nilai-nilai bangsa Indonesia.