Penguatan Bahasa Sunda dalam Pembelajaran Muatan Lokal

Wika Karina Damayanti 

(Fungsional Pengembangan Bahasa Daerah, Bid. Kurbas Disdik KBB)

Masih segar diingatan beragam aksi membela bahasa Sunda dikancah nasional tatkala seorang politisi mengkritik tajam penggunaan Bahasa Sunda dalam forum formal. Protes keras dilayangkan oleh masyarakat Sunda dalam berbagai bentuk, sebagai wujud pembelaan bagi kekayaan budaya yang patutnya dilestarikan. Siapapun tidak akan tinggal diam ketika budaya sebagai identitas dirinya disinggung oleh orang yang tidak bertanggungjawab. Sikap yang mengandung unsur SARA dinilai tidak etis dan dapat memecah belah persatuan.
Indonesia adalah negara majemuk dengan berbagai keragaman yang dimiliki, mulai dari agama, budaya, bahasa, adat istiadat, kebiasaan, dan keragaman lainnya. Segala bentuk keragaman tersebut patutnya dinilai sebagai kekayaan bangsa yang harus dijaga kelestariannya. Hal tersebut sejalan dengan semangat semboyan bangsa Indonesia yaitu Bhinneka Tunggal Ika. Meskipun Indonesia terdiri dari berbagai perbedaan namun tetap satu jua. Hendaknya segala macam perbedaan dipandang sebagai sebuah keindahan dan kekayaan yang dimiliki oleh bangsa Indonesia.
Bahasa daerah merupakah salah satu kekayaan yang patutnya dilestarikan. Bahasa daerah memiliki fungsi sebagai alat komunikasi bagi masyarakat penuturnya yang harus dibina dan dikembangkan dalam rangka memperkuat ketahanan budaya bangsa. Mengingat besarnya peran bahasa daerah, maka penguatan bahasa daerah perlu dilakukan, salah satunya melalui jalur pendidikan.
Bahasa daerah merupakan salah satu muatan lokal yang terdapat didalam struktur kurikulum dan menjadi suatu keharusan untuk mempelajarinya. Dakir (2004:102) berpendapat bahwa muatan lokal ialah program pendidikan yang penyimpanannya dikaitkan dengan lingkungan alam, budaya, serta kebutuhan daerah dan wajib dipelajari oleh murid di daerah itu.
Muatan lokal yang dipelajari disetiap daerah akan berbeda dengan daerah lainnya karena setiap daerah memiliki potensi, budaya, serta bahasa yang berbeda-beda. Pembelajaran bahasa daerah sepatutnya diterapkan dalam setiap jenjang pendidikan untuk pembiasaan, agar anak memiliki kecakapan dan keterampilan berbahasa daerah dengan baik. Anak di ranah Sunda harus mempelajari bahasa Sunda sebagai bahasa daerahnya agar tetap terjaga keaslian dan kelestariannya.
Tujuan pembelajaran bahasa Sunda di setiap sekolah adalah untuk menumbuhkan rasa bangga dan menghargai bahasa Sunda sebagai bahasa daerah, memberikan anak pemahaman tentang bahasa Sunda secara utuh baik dari segi makna, fungsi, dan kemampuan menggunakan bahasa Sunda dengan tepat, baik ,serta sesuai dengan aturan. Indikator keberhasilan pembelajaran bahasa Sunda adalah ketika anak dapat menguasai setiap kompetensi yang dipelajarinya dan memiliki kemampuan seluruh keterampilan berbahasa dengan baik.
Terdapat empat keterampilan berbahasa yang harus dimiliki. Keempat keterampilan tersebut ialah keterampilan mendengar atau menyimak, keterampilan berbicara, keterampilan membaca, dan keterampilan menulis. Kemampuan dalam menyatupadukan seluruh keterampilan berbahasa disebut dengan istilah literasi. Budaya literasi sangat penting untuk meningkatkan pengetahuan anak, melatih kemampuan dalam menganalisis serta berfikir kritis, dan mencetak generasi yang cerdas.
Kemampuan mendengar atau menyimak merupakan kemampuan dalam memusatkan perhatian terhadap informasi yang didapatkan. Untuk melatih keterampilan mendengar atau menyimak bahasa Sunda guru dapat meminta anak untuk mendengarkan pembacaan berita atau cerita bahasa Sunda kemudian ajak anak untuk menganalisis atau menarik kesimpulan dari informasi tersebut. Kemampuan mendengar atau menyimak akan terasah melalui proses mendengar pembicaraan atau diskusi yang disampaikan oleh orang lain dengan menggunakan bahasa Sunda.
Keterampilan berbicara sangat penting untuk mengungkapkan pemikiran, ide ,atau gagasan kepada orang lain. Dalam pembelajaran bahasa Sunda anak harus mampu berbicara dengan baik, dapat mengucapkan kata dengan benar, intonasi tepat, dan sesuai dengan tingkatan tata bahasa yang dimiliki sehingga pesan yang disampaikan dapat diterima dengan baik oleh pendengar. Keterampilan berbicara dapat diasah dengan cara berbincang dengan anak, berdiskusi, atau presentasi dengan menggunakan bahasa Sunda.
Keterampilan membaca tidak hanya diukur melalui kemampuan membaca teks saja, namun dilihat dari kemampuan anak dalam menterjemahkan, memahami, serta menganalisis informasi yang tertulis dalam kalimat dalam rangka meningkatkan pengetahuan. Keterampilan ini dapat diasah dengan meminta anak membaca buku cerita atau mendongeng lalu diskusikan isi dari bacaannya.
Keterampilan menulis dalam bahasa Sunda tidak sama dengan menulis bahasa Indonesia. Keterampilan ini menuntut anak agar mampu menuangkan gagasan pikirannya kedalam tulisan dengan menggunakan bahasa Sunda yang baik dan benar. Dalam keterampilan menulis bahasa Sunda harus diperhatikan ejaan dengan benar. Kemampuan ini dapat diasah dengan membrikan tugas mengarang.
Seluruh keterampilan dalam berbahasa harus dikuasai oleh anak demi menjaga kelestarian bahasa Sunda. Selain itu paradigma pembelajaran abad ke-21 patutnya perlu diterapkan dalam setiap proses pembelajaran termasuk dalam pelajaran bahasa Sunda, yaitu:
Creativity and Innovation (kreatif dan inovatif)
Kreatif dan inovatif merupakan tuntutan pada abad ke-21, ditengah perubahan zaman yang terjadi dengan sangat cepat. Kemampuan berfikir kritis dan inovatif perlu dikembangkan agar anak dapat terbiasa dengan berfikir imajinatif, mampu memberikan ide baru, dan melihat suatu permasalahan dari berbagai perspektif. Tidak ada batasan dalam kreatifitas dan semua anak memiliki potensi untuk menjadi kreatif. Tugas guru adalah merangsang munculnya kreatifitas anak. Hal yang dapat dilakukan untuk menstimulan kreatifitas diantaranya dengan bermain, bercerita, mengungkapkan keindahan alam, mengekspresikan perasaan, dan berbahasa. Tanpa disadari berbahasa merupakan contoh kreasi yang dihasilkan oleh manusia setiap harinya, melalui susunan kata baru atau ungkapan yang dengan sengaja atau tidak sengaja terucap. Melalui pemikiran yang kreatif akan menghasilkanl inovasi yang bermakna.
Collaboration (kolaborasi)
Kolaborasi melatih jiwa kepemimpinan anak dan kerja sama dengan orang lain agar anak kelak anak mampu bekerja didalam tim serta memiliki empati yang baik terhadap sesama anggota. Kolaborasi juga dapat mengasah kemampuan anak dalam mengambil keputusan, mengembangkan, rasa tanggung jawab, dan kemampuan beradaptasi dengan lingkungannya.
Communication (komunikasi)
Komunikasi merupakan kemampuan dalam menyampaikan ide, gagasan, maupun pesan secara jelas dan efektif kepada orang lain. Komunikasi sangat penting dalam kehidupan sehari-hari dan menjadi salah satu cara berinteraksi dengan orang lain. Komunikasi dapat dilakukan melalui dua hal, yaitu lisan dan tulisan.
Critical Thinking and Problem Solving (berfikir kritis dan memecahkan masalah)
Berfikir kritis dan kemampuan dalam memecahkan masalah menjadi hal yang paling penting dalam tuntutan abad ke – 21. Anak dilatih untuk berfikir secara mendalam, menganalisis situasi, serta menciptakan solusi atas permasalahan yang terjadi.
Paradigma pembelajaran abad ke – 21 sudah sepatutnya diterapkan dalam seluruh pembelajaran demi membentuk generasi muda yang berkualitas, bermoral, dan mencintai budaya sendiri. Pembelajaran bahasa Sunda harus mengandung seluruh elemen tersebut karena bahasa Sunda merupakan bahasa yang sangat indah dengan segala keistimewaan yang dimilikinya dan sudah sepatutnya dilestarikan oleh kita sebagai penuturnya. WikaKd.

Daftar Pustaka :
Dakir. 2004. Perencanaan dan Pengembangan Kurikulum. Jakarta: Rineka Cipta.