Peranan Pendampingan Individu dalam Menumbuhkan Nilai Reflektif Guru Penggerak

Oleh: Wina Romdhani, M.Pd
(Kepala SDN 2 Cipanas Ciarua)

 

Program Pendidikan Guru Penggerak adalah serangkaian kegiatan pendidikan dan pelatihan guru yang membentuk karakter, kebiasaan dan pola perilaku guru yang mandiri, reflektif, kolaboratif, inovatif dan, berpihak pada murid. Lima karakter  itulah yang disebut Nilai Guru Penggerak.

Dari kelima nilai tersebut, nilai reflektif merupakan nilai yang dapat menjiwai dan mendasari niai-nilai lainnya. Hal ini karena nilai reflektif berkaitan dengan pola sikap dan perilaku guru yang senantiasa memaknai segala pengetahuan, pengalaman dan kejadian yang ada di sekelilingnya khususnya terkait kegiatan pembelajaran. Nilai ini akan berguna bagi guru dalam meresapi pengalaman dan  mengambil pelajaran untuk kemudian melakukan perbaikan agar terjadi peningkatan pada proses dan hasil pembelajaran yang dilakukan.

Mengapa nilai reflektif penting? Karena dengan nilai  reflektif yang dimilikinya seorang guru dapat terus mengambil makna dari proses yang dilakukannya  untuk melihat bagaimana  nilai kemandirian, kolaborasi yang dilakukan, inovasi yang dibuat serta keberpihakannya terhadap murid. Keempat nilai itu dapat dijadikan tolak ukur bagi seorang guru ketika merefleksi proses yang telah dilaluinya. Dengan demikian kelima nilai guru penggerak akan senantiasa tercermin dalam pola sikap dan perilaku guru penggerak sebagai pemimpin pembelajaran.

Nilai-nilai guru penggerak bukanlah nilai yang akan terlihat pada diri guru ketika telah usai menempuh pendidikan. Kelimanya merupakan pola sikap dan perilaku yang dilatihkan mulai dari dan selama guru berproses di program guru penggerak. Sebagaimana kita ketahui PPGP merupakan pelatihan dual mode yaitu dalam jaringan dan luar jaringan. Sistem dalam jaringan dilakukan secara sinkronus dan asinkronus melalui LMS dengan alur pelatihan MERDEKA pada setiap modulnya.  Adapun sistem luar jaringan dilakukan melalui kegiatan lokakarya dan pendampingan individu bersama pendamping praktik.

Pendampingan individu merupakan proses pertemuan antara seorang pendamping dengan CGP untuk merefleksikan, mendiskusikan dan memberikan umpan balik terkait proses belajar dan aksi nyata yang dilakukan CGP dari setiap topik yang dipelajarinya.

Terdapat enam kali pendampingan individu yang dilakukan selama program pendidikan guru penggerak ini. Setiap pendampingan individu memiliki tema pendampingan tersendiri yakni: Pendampingan individu 1 bertema Refleksi Awal Kompetensi Guru Penggerak; Pendampingan individu 2, bertema  Perubahan Paradigma Pemimpin Pembelajaran; Pendampingan individu 3, bertema Implementasi Pembelajaran yang Berpihak pada Murid; Pendampingan individu 4, bertema  Evaluasi dan Pengembangan Proses Pembelajaran;  Pendampingan individu 5,bertema Rancangan Program yang Berpihak pada Murid; serta Pendampingan individu 6, bertema Refleksi Perubahan Diri dan Dampak Pelatihan.

Dalam prosesnya, pendampingan individu dilakukan dengan  kegiatan komunikasi yang memberdayakan. Pendamping mendengarkan secara aktif tentang proses yang telah berjalan,  hambatan atau kesulitan yang dirasakan, dukungan pimpinan dan komunitas sekolah yang diberikan, hal yang dirasa sudah baik, hal yang dirasa masih perlu ditingkatkan, upaya yang akan dilakukan untuk memperbaiki proses, target waktu upaya perbaikan yang akan dilakukan, serta dukungan yang diperlukan untuk melakukan rencana perbaikan.

Pertanyaan dikembangkan berdasarkan tema pendampingan individu yang berkaitan. Pertanyaan-pertanyaan penggali diberikan oleh pendamping sehingga proses diskusi akan semakin mendalam. Pendamping juga berupaya untuk merangkum dan mengambil intisari dari jawaban yang diberikan CGP untuk memunculkan pertanyaan pemantik lainnya yang akan semakin memperdalam proses refleksi CGP. Dengan refleksi yang mendalam ini, diharapkan CGP dapat menemukan pemahaman bermakna dan mengembangkan potensi yang dimilikinya terkait proses yang harus dilakukan selanjutnya.

Pendampingan individu juga menjadi media bagi CGP untuk mengungkapkan bagaimana proses aksi nyata penerapan pengetahuan dan pemahaman baru yang diperoleh dari sesi daring. Pada pendampingan individu ke 3 misalnya, CGP melakukan aksi nyata penerapan pembelajaran berdiferensiasi yang diobservasi langsung oleh pendamping di kelas CGP.

Proses observasi yang dilakukan dikembangkan dengan pola supervisi akademik melalui pola pikir coaching, yang diawali dengan percakapan pra observasi, dilanjutkan proses observasi, kemudian percakapan atau diskusi pasca-observasi. Hal ini sangat bermakna karena selain menerapkan aksi nyata pembelajaran yang berpihak pada murid, CGP juga dapat mempelajari bagaimana pola supervisi akademik berbasis coaching. Pemahaman dan pengalaman yang kemudian akan diterapkan CGP dalam kesehariannya kelak yaitu kegiatan supervisi akademik yang memang sudah menjadi kebiasaan  di dalam sistem pendidikan di Indonesia.

Beberapa sesi pendampingan individu juga menghadirkan langsung rekan sejawat CGP untuk membuat proses diskusi semakin bermakna, misalnya untuk fokus pendampingan terkait kompetensi coaching dan pemetaan sumber daya atau asset sekolah.   Pertanyaan-pertanyaan reflektif sebagaimana dipaparkan di atas akan diberikan oleh pendamping kepada CGP dan rekan sejawat sehingga CGP dapat merefleksi kegiatan aksi nyata yang telah dilakukannya dan merencanakan proses kolaborasi selanjutnya.

Dengan pola pendampingan yang demikian, terdapat beberapa manfaat yang sekaligus menjadi kelebihan dari pola pelatihan luring melalui pendampingan individu di PPGP ini yakni sebagai berikut:

  1. Terbangunnya kemitraaan yang hangat antara CGP dan pendamping, hal ini sangat berarti bagi proses belajar CGP karena didampingi oleh seseorang yang membantunya berefleksi.
  2. CGP terbantu dalam memahami hambatan yang dialami kemudian membuat rencana perbaikan sesuai potensi diri dan sumber daya sekolah yang dimiliki.
  3. CGP terbantu dalam proses belajarnya untuk menggerakkan komunitas sekolah. CGP akan mendapatkan pengalaman berkolaborasi dengan guru lain di sekolah, meski awalnya hanya untuk memenuhi tuntutan pelatihan, diharapkan CGP dapat mengambil pelajaran bermakna tentang bagaimana seni mempengaruhi, melibatkan dan menggerakkan orang lain di komunitas sekolah.
  4. Pendamping dapat memantau pemahaman dan penerapan atas topik pelatihan, sehingga jika ada hal-hal yang menghambat CGP, pendamping dapat mendiskusikan lebih lanjut upaya yang dilakukan untuk mengatasi hambatan tersebut dengan fasilitator CGP.
  5. Tumbuhnya kemampuan coaching pada diri CGP, hal ini didapatkan selain dari topik Coaching pada modul khusus di sesi daring juga didapatkan CGP dari pola diskusi atau komunikasi yang didapat CGP dari pendamping setiap pendampingan individu. Kemampuan ini akan sangat berguna dalam membangun peranan guru penggerak untuk mengembangkan diri dan orang lain.
  6. Terjadi proses transfer pengetahuan dua arah antara CGP dan pendamping sehingga dapat meningkatkan pemahaman dan kompetensi sebagai guru di kedua belah pihak.
  7. Tumbuhnya nilai reflektif pada diri guru penggerak sehingga guru mendapatkan pemahaman bermakna dan mengupayakan perbaikan berkelanjutan tentang dari penerapan topik-topik yang dilatihkan untuk kemudian diimbaskan kepada komunitas sekolah.

Di samping kelebihan-kelebihannya, berdasarkan refleksi penulis terdapat beberapa hal yang semestinya tidak terjadi dan harus diperbaiki dalam proses pendampingan, di antaranya adalah sebagai berikut:

  1. Pola komunikasi yang terlalu didominasi oleh pendamping. Hal ini biasanya terjadi karena kurangnya kesabaran pendamping dalam mendengarkan secara aktif dan sikap sungkan CGP dalam mengungkapkan pengalamannya sehingga proses yang terjadi adalah mentoring oleh pendamping kepada CGP, bukan proses coaching sebagaimana mestinya;
  2. Pendamping kurang apresiatif terhadap setiap proses yang diceritakan CGP, sehingga CGP merasa kurang termotivasi dan mengalami keraguan dalam menerapkan pemahaman baru yang didapat;
  3. Proses komunikasi yang terkadang terlalu melebar keluar dari fokus pendampingan yang direncanakan, hal ini dapat terjadi ketika pendamping kurang mampu mengambil inti dari jawaban CGP dan mengungkapkan pertanyaan pemantik yang terkait dengan fokus pendampingan.
  4. Kemitraan yang terlalu akrab tanpa batas, hal ini dikhawatirkan dapat mengurangi objektivitas pendamping dalam memberikan penilaian terhadap CGP. Hal ini harus dihindari karena selain mendampingi proses belajar CGP, pendamping juga mendapat porsi memberikan penilaian 50% dari nilai akhir yang didapat CGP. Kemitraan memang harus terjalin dengan hangat, akan tetapi penilaian yang humanis tapi tetap realistis dan objektif harus dipastikan oleh pendamping diberikan kepada CGP.

Melalui proses refleksi yang juga harus dilakukan oleh pendamping,  hal-hal yang tidak semestinya terjadi tersebut akan semakin berkurang bahkan diupayakan agar tidak terjadi lagi dalam proses pendampingan individu. Secara keseluruhan, pada dasarnya  proses pendampingan individu yang dilakukan telah menjadi wahana kolaborasi antara CGP dan pendamping guna meningkatkan nilai reflektif guru penggerak.

Nilai reflektif guru penggerak terpantau tumbuh dan berkembang dengan baik pada diri CGP selama dan setelah proses pelatihan. Nilai reflektif ini akan menjadi pola sikap, perilaku dan budaya kerja guru penggerak sebagai pemimpin pembelajaran. Pada gilirannya diharapkan guru penggerak dengan nilai reflektif yang mumpuni dapat terus berupaya mengembangkan diri dan orang lain di komunitasnya guna meningkatkan kualitas pembelajaran yang berpihak pada murid.

Akhirnya, seperti kata-kata bijak yang pernah penulis dapatkan dari seorang professor pendidikan bahwa “Hanya guru yang terus belajar yang boleh terus mengajar”. Proses belajar seorang guru sejatinya terletak pada bagaimana ia merefleksikan proses pembelajaran yang telah dilakukannya setiap hari.

Semoga, guru penggerak dan pendamping praktik angkatan 9 Kabupaten Bandung Barat menjadi guru-guru reflektif yang senantiasa siap tergerak, bergerak dan menggerakkan komunitas pendidikan masing-masing guna meningkatkan kualitas pendidikan di masa yang akan datang.***

Profil Penulis
Wina Romdhani, M.Pd.  Pendamping/Pengajar Praktik angkatan 9, Guru Penggerak angkatan 4 Kabupaten bandung Barat. Saat ini bertugas sebagai Kepala Sekolah di SDN 2 Cipanas Kecamatan Cisarua Kabupaten Bandung Barat.